Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Tempat Tinggal di Jepang

 

Setelah sebelumnya kita membahas tentang program Careworker dan Nurse ( Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang dan Sekilas Tentang Careworker di Jepang ) sekarang saya akan sharing mengenai tempat tinggal para kandidat Nurse/Careworker nantinya di Jepang.

Setiap fasilitas tempat tinggal yang disediakan Rumah sakit maupun Panti lansia bermacam-macam, ada yang menyediakan asrama, apartement, atau rumah kontrakan yang bisa dihuni oleh 3 atau 4 orang. Harga sewanya berbeda-beda, dan yang paling murah biasanya asrama.

Saya sendiri selama bekerja, tinggal di asrama putri milik Rumah sakit. Panti lansia tempat saya bekerja letakanya bersebalahan dengan Rumah sakit dan masih satu institusi. Asrama yang terdiri dari 4 lantai dengan jumlah  13 kamar setiap lantainya ini khusus diperuntukan bagi mereka yang bekerja di Rumah sakit atau Panti lansia, baik perawat—dokter—ahli gizi—maupun profesi lainnya.

Terkadang mahasiswa yang sedang praktek di Rumah sakit maupun panti lansia pun menyewa asrama untuk sementara. Biaya sewa perbulannya langsung ditarik dari gaji bulanan sebesar 8000 yen. Biaya ini tergolong cukup murah dengan fasilitas ruang asrama yang lumayan luas dan terisi perabotan di dalamnya.

Pertama kali datang ke asrama, di dalamnya  sudah tersedia lemari es, microwave, AC, meja belajar, rak buku, lemari untuk pakaian, bed lengkap dengan selimut, kotatsu (penghangat kaki untuk musim dingin) dll. Untuk kamar mandi dan dapur, terdapat di dalam. Untuk mencuci pakaian, setiap lantai disediakan 3 buah mesin cuci lengkap dengan mesin pengeringnya.

Tetapi tidak semua asrama juga menyediakan fasilitas seperti ini. beberapa kawan saya, perabotan asramanya harus beli sendiri. Lalu ada juga yang menempati apartemen, tentu saja saja biayanya jauh lebih mahal bahkan 2 atau 3 kali lpat biaya asrama. Tapi biasanya satu apartemen ditempati oleh 2 atau 3orang jika kamarnya luas. Harga sewa apartemen juga bermacam-macam tergantung kota, seberapa dekat dengan stasiun kereta, luasnya apartemen dll. Harga sewa termurah  berkisar mulai dari 30.000 yen, itupun untuk kamar single (one room). Untuk yang disediakan tempat tiggal berupa rumah kontrakan, disi 3-4  orang dengan biaya sewa hampir sama dengan apartemen.

Untuk mengetahui tempat tinggal kita selama bekerja nantinya dimana, kita bisa melihat di surat kontrak kerja. Pihak Rumah Sakit atau panti lansia akan menerangkan mengenai fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk kita, termasuk tempat tinggal.

 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang

ilustrasi-perawat-periksa-tangan-tekanan-darah_20150611_141222

Program EPA lainnya selain careworker adalah nurse. Seperti halnya careworker, bagi yang ingin mengikuti program nurse, harus mereka yang berlatar belakang pendidikan keperawatan baik Diploma 3, Sarjana keperawatan, maupun yang sudah menempuh pendidakan profesi Ners. Berbeda dengan careworker, untuk yang ingin mendaftar sebagai nurse yang nantinya akan ditempatkan di Rumah sakit, mereka wajib memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun setelah kelulusan atau telah lulus S1 keperawatan + Ners dan memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun. Dengan kata lain, profesi ners yang ditempuh selama 1 tahun tersebut sudah bisa dijadikan sebagai syarat pengelaman kerja.

Di Jepang sendiri, nurse atau dalam bahasa Jepang disebut Kangoshi, masih menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dari segi kesejahteraan ekonomi, tentunya bagi yang sudah lulus ujian negara perawat. Ujian perawat ini diadakan setiap tahun, biasanya di bulan februari. Beda halnya dengan ujian careworker yang bisa diikuti ketika sudah ada pengalaman kerja lapangan minimal 3 tahun. Perawat dari Indonesia pun demikian, mereka setiap tahunnya mengikuti ujian negara perawat selama kontrak kerja 3 tahun untuk mendapatkan lisensi level nasional atau Registrasi Nurse (RN). Jika dalam waktu 3 tahun atau 3 kali ujian belum berhasil mengantongi “Registrasi Nurse”, bisa memperpajang kontrak satu tahun lagi sesuai kebijakan dan kesepakatan pihak Rumah sakit dengan pekerja,  jadi total kontrak 4 tahun. Perpanjangan kontrak 1 tahun lagi bagi mereka yang belum lulus  juga berlaku untuk program careworker.

Akan tetapi, tigkat kelulusan ujian perawat level nasional ini masih rendah bagi perawat Indonesia khususnya. Karena memang menurut hampir semua teman-teman sejawat mengatakan soal-soalnya itu njlimet, alias sulit. Jangankan bagi perawat Indonesia, bagi perawat Jepangnya pun dirasa kesulitan ketika menghadapi soal-soal ujian negara tersebut.

Oleh sebab inilah, perawat Indonesia yang di Jepang diberikan kesempatan untuk mengikuti Ujian asisten perawat atau dalam bahasa Jepangnya disebut Junkanggo (ujian level tingkat provinsi). Soal-soal ujian ini menurut teman-teman sejawat kita, lebih mudah daripada ujian negara kangoshi. Jika lulus ujian Junkanggo, menurut informasi dari teman sejawat kita, perawat Indonesia mendapatkan lisensi tingkat provinsi dan bisa menambah kontrak kerja selama 4 tahun lagi, jadi total keseluruhannya 7 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, mereka diharapkan untuk lulus ujian level nasioanl dan mengantongi gelar Registrasi Nurse atau mendapatkan lisensi tigkat nasional di Jepang.

Untuk menjadi Junkanggo atau asisten perawat, orang Jepangnya sendiri harus menempuh pendidikan formal untuk asistan perawat selama 1 tahun. Kalau di Indonesia, mungkin setara dengan SPK (Sekolah Kejuruan Perawat).  Tugasnya bagaimana? Secara garis besar, tugas seorang asisten perawat adalah melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perintah perawat yang telah memiliki lisensi tingkat nasional. Mereka tidak bisa semaunya memberikan asuhan keperawatan tanpa ijin atau perintah dari perawat.

Nah, lalu bagaimana dengan perawat Indonesia yang belum memiliki lisensi sebagai asisten perawat maupun lisensi perawat nasional? mereka belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti perawat Jepang. Tindakan yang bisa dilakukan antara lain adalah memberikan kebutuhan nutrisi pasien secara oral, mobilisasi, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, merawat personal hygiene : menjaga kebersihan mulut dan gigi, badan, rambut, kuku dll, mencuci peralatan medis, dan lain sebagianya. Disini skill keperawatan belum terpakai. Setelah lulus ujian asisten perawat, baru bisa melakukan tindakan keperawatan, namun masih dibawah perintah perawat.  Sedangkan jika telah lulus ujian perawat tingkat nasional, maka kedudukan, tugas, hak, serta tanggung jawabnya disetarakan dengan perawat Jepang pada umumnya dan bisa bekerja di Jepang sampai batas waktu yang tidak ditentukan, keculai batas usia pensiun.

Jika sudah mengantongi Registrasi Nurse lalu kembali ke Indonesia, Insya Allah akan sangat bermanfaat sekali. Akan banyak peluang untuk turut andil mempertahankan maupun memajukan pelayanan-pelayanan Rumah sakit di Indonesia bagi yang ingin terus melanjutkan karir di bidang keperawatan. Karena tidak sedikit, teman-teman sejawat yang kembali ke Indonesia, mereka banting setir ke profesi yang menggunakan skill bahasa Jepang. Seperti misalnya : menjadi penerjemah bahasa Jepang-Indonesia, bekerja di perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, staf pengajar bahasa Jepang, wirausaha, dan masih banyak lainnya.

So, bagaimana teman-teman? Apakah kalian berminat mengikuti program ini? terus pantau infonya di website resmi BNP2TKI yaa… ( www.bnp2tki.go.id )

Semoga sukses!

Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Careworker di Jepang


Kalau dii tulisan Jadi Perawat di Jepang? Why Not! saya membahas tentang alur cara pendaftaran program perawat ke Jepang secara umum, kali ini saya pengen berbagi pengalaman ketika saya bekerja sebagai Careworker di Jepang. Karena banyak email yang masuk setelah mereka membaca tulisan saya sebelumnya dan menanyakan program ini, jadi sepertinya saya share (lagi) saja ya.. 

Jadi, untuk perawat Indonesia yang ingin mengikuti program Careworker salah satu syaratnya saat ini, tetap harus mereka yang mempunyai basic pendidikan keperawatan baik diploma, sarjana maupun yang sudah profesi Ners. Sebenarnya di Jepang sendiri, mereka yang bekerja sebagai Careworker tidak harus yang berpendidikan di bidang keperawatan, banyak orang Jepang yang lulus SMA bisa melamar kerja sebagai Careworker. Tetapi, di Jepang juga ada sekolah kejuruan khusus Careworker setelah lulus SMA dengan masa Studi 2 tahun.

Untuk yang menempuh pendidikan Careworker atau dalam bahasa Jepangnya “Kaigofukushishi” atau “Kaigoshi”, setelah lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi (lisensi) nasional sebagai Careworker. Sedangkan yang tidak punya basic Careworker, mereka diwajibkan mengikuti Ujian Negara baik tulis maupun praktek untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Careworker. Syarat untuk mengikuti ujian negara ini, salah satunya  diharuskan mempunyai pengalaman kerja minimal selama 3 tahun dibidang Careworker. Atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan  Careworker sebanyak minimal kurang lebih 450 jam belajar. Begitu juga dengan Careworker dari Indonesia, setelah mempunyai pengalaman kerja selama 3 tahun, nantinya akan mengikuti ujian negara untuk mendapatkan lisensi careworker. Ujian tulis dan praktek disamakan seperti orang Jepang. Sebelum menempuh ujian dan memperoleh sertifikat, statusnya masih sebagai kandidat careworker (Kaigofukushishi Kohousha)

Untuk perawat Indonesia yang baru lulus kuliah, bisa mendaftar langsung program Careworker ini. Tidak perlu ada pengalaman kerja di Rumah sakit ataupun fasilitas Kesehatan lainnya selama minimal 2 tahun seperti program Nurse. Nanti kita bahas program Nurse di tulisan berikutnya ya.

Secara penempatan tempat kerja, Careworker akan di tempatkan di fasilitas kesehatan untuk merawat orang-orang lanjut usia, atau biasa kita kenal dengan istilah panti lansia (Roujin Home) . Mereka yang disebut lansia adalah yang sudah mencapai usia minimal 65 tahun. Menurut data Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi (総務省) tahun 2013 tertulis jumlah penduduk di Jepang  mencapai 127,320,000 Jiwa.  Sebanyak 25 % dari jumlah itu adalah mereka yang berusia 65 tahun lebih. Dengan kata lain satu dari empat orang di Jepang adalah orang yang berusia lanjut. Bahkan diperkirakan tahun 2035, jumlah penduduk lansia di Jepang kurang lebih akan mencapai 34%. Mungkin hal ini tidak masalah jika tingkat presentase kalahiran atau anak di Jepang jumlahnya melebihi penduduk lansia.  Tetapi menurut data tahun 2013, jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun hanya mencapai 12.9% .

Melihat data ini, tentunya Jepang akan sangat membutuhkan tenaga Careworker baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya saja di panti lansia tempat saya bekerja, masih sangat membutuhkan sekali tenaga Careworker, tapi orang Jepang yang berminat di bidang ini masih sedikit. Mungkin inilah salah satu sebab Jepang bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ini. Permintaan jumlah Careworker dari Indonesia jauh lebih banyak dari permintaan Nurse. Karena memang, jumlah kebutuhan perawatan lansia di Jepang sangat tinggi.

Angkatan saya yang berangkat bulan Mei tahun 2012 lalu, jumlah keseluruhannya 101 orang. 29 adalah Nurse, dan Careworker 72 orang. Tahun 2013 dari jumlah keseluruhan 156, Careworker berjumlah 108 orang. Tahun 2014 bertambah lagi menjadi 146 orang dari jumlah keseluruhan 187 orang, sisanya yang mengikuti program Nurse. Dan diperkirakan akan terus bertambah jumlah permintaan Careworker dari tahun ke tahun.

Bukan hanya dari Indonesia saja, pemerintah Jepang juga bekerjasama dengan Filipina dan Vietnam, namun sampai saat ini Indonesia masih menduduki peringkat pertama jumlah pengiriman Careworker maupun Nurse.
Secara umum, tugas Careworker adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mengacu pada keperawatan gerontik. Namun disini, Caerworker tidak bisa melakukan tindakan klinis keperawatan. Loh, kita kan di indonesia nurse / perawat, mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi), dan mempunyai sertifikat uji kompetensi perawat?? Eeeitss.. memang benar, akan tetapi program yang kita geluti di Jepang adalah Careworker, bukan Nurse. Untuk di panti lansia, yang bertugas sebagai nurse masih dari orang Jepangnya sendiri. Jepang dan Indonesia belum membuka program baru untuk penempatan nurse di panti lansia. Nurse dari Indonesia masih ditempatkan di area Rumah sakit saja.

Saya sendiri mengikuti program Careworker. Di sini peran dan tugas saya tidak sama dengan perawat maupaun profesi kesehatan lainnya. Semuanya sudah memiliki tugas masing-masing, tapi tentu saja kita juga berkolaborasi dalam hal pelayanan kesehatan. Di tempat saya, careworker tidak bisa melakukan tindakan keperawatan seperti misalnya, melakukan injection, memasang infus, memasang NGT, merujuk pasien ke RS,  dan tindakan  keperawatan lainnya yang tentunya atas advice dari Dokter. Bahkan di tempat kerja saya, untuk pemeriksaan TTV/Tanda Tanda Vital seperti mengukur tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan tetap dilakukan oleh perawat. Dan sebaliknya, perawat boleh melakukan tugas Careworker jika dibutuhkan.

Jadi tugas Careworker bagaiamana? Tugasnya antara lain adalah membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi secara oral (secara langsung dari mulut) , memberikan obat oral atas anjuran perawat, dukungan personal hygiene : kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan anggota badan lainnya seperti kebersihan kepala, rambut, kuku, mata dan telinga, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur,  mempertahankan kesehatan lansia, mencegah penurunan kesehatan lansia, misal: ketika ada lansia yang lumpuh dan perlu perawatan serta bantuan pemenuhan kebutuhan secara total, Careworker mempunyai peran untuk bisa mencegah terjadinya dekubitus (Kerusakan/kematian kulit akibat adanya penekanan secara terus menerus).  Pemenuhan rasa aman dan nyaman juga tak kalah pentingnya, banyak sekali lansia mengalami disorientasi, penurunan kemamapuan dalam mengingat atau Demensia, sehingga mereka akan mudah panik, cemas, dan gelisah. Careworker dituntut untuk memahami hal ini, dan harus memiliki seni dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan Demensia. Careworker juga wajib melakukan dokumentasi, membuat perencanaan, dan Masih banyak lagi tugas careworker yang lainnya.

Jadi kasarnya nih, tugas Careworker bukan hanya sekedar nyuapin, mandiin, bantu BAK/BAB, angkat-angkat pasien melulu.. hehe.. masih banyak tugas, peran, dan kewajiban dan tanggung jawab lainnya. Bagi Careworker dari Indonesia, ketika sudah mendapatkan lisensi careworker yang bisa diperoleh setelah pengalaman kerja selama 3 tahun serta lulus ujian negara, tugas  peran, serta tanggung jawabnya pun akan bertambah dibanding ketika mereka belum mengantongi sertifikat kompetensi. Tetapi, hal ini juga tergantung kebijakan tempat kerja. Ada yang walaupun belum memiliki sertifikat, tetapi tugasnya sudah sama seperti Careworker Jepang, dan ada juga yang masih dianggap sebagai peserta magang, jadi tanggung jawab pekerjaan misalnya pendokumentasian tidak dibebankan kepadanya.

Kalau sudah mendapat lisensi, Careworker dari Indonesia bisa bekerja sampai waktu  yang mereka inginkan. Mereka bisa memeperpanjang kontrak kerja  menjadi 5 th,10 th, 15 th , ataupun sampai batas umur pensiun. 

Yaaa.. demikian sedikit cerita yang saya dapat dari Negeri sakura, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Untuk teman sejawat yang sedang/akan mengikuti program ini, semoga diberikan kelancaran… ganbatte! Oke? Oke 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan, Tulisan bebas

Serba Serbi Ujian dan Kegalauannya

Ternyata saya tidak sendiri! Yeay.. banyak dari teman-teman seangkatan terdiagnosa mengidap  kegalauan akut pasca Ujian kompetensi caregiver (perawat lansia) atau biasa disebut ujian Negara tanggal 24 januari 2016 kemarin. Dan sepertinya berpotensial menjadi galau kronis sampai tiba saatnya pengumuman di akhir maret nanti. *Jika galau berlanjut, hubungi dokter!

Sekilas tentang uji kompetensi/Ujian Negara Jepang

Ujian kompetensi untuk sertifikasi yang terdiri dari 120 soal tersebut, tidak hanya diikuti oleh caregiver asing yang sebelum lulus ujian, statusnya masih menjadi pemagang saja. Seluruh caregiver Jepang yang belum mendapat sertifikat pun mengikutinya, mulai dari yang berusia masih muda sampai yang lewat dari kata belia. Serius loh, tahun lalu saja yang berusia 61 tahun keatas, tingkat kelulusannya mencapai 25%, keren ya semangatnya. Nah, mbah-mbah kita di rumah masih pada minat ngga coba ikutan beginian? 😀

Baik warga asing maupun orang Jepangnya sendiri, semua  mengerjakan jenis soal yang sama. Tidak ada tuh toleransi jenis soal berbahasa Indonesia, jawa, sunda, btak, madura, ngapak, yang dikhususkan untuk para peserta dari Indonesia. Hanya saja khusus untuk warga asing, waktu pengerjaan soal sedikit lebih panjang. Jaman senior angkatan pertama dulu, soal ujian maupun waktu disamaratakan dengan orang Jepang juga,mungkin hal tersebut berasa kelawahan bagi kita yang pas lahir ngga langsung bisa bilang “Arigatou gozaimasu” (Terimakasih) ke bidan atau dokter kandungan yang membantu persalinan. Karena faktor tersebut, para senior yang baik hati mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar mendapat perpanjangan waktu pengerjaan soal ujian khusus bagi warga asing, dan mencantumkan furigana diatas deretan huruf kanji yang bentuknya kadang ngajak ribut itu. Tau sendiri, bhasa Jepang termasuk kedalam bahasa tersulit di dunia. Belajar bahasa Jepang bukan hanya sekedar menghapalkan kosakata lalu bicara, bukan. Belajar bahasa Jepang, berarti harus mau berlelah-lelah berlatih menulis, membaca, dan mencerna arti huruf-huruf hiragana, katakana, dan kanji. Dan kanji yang paling banyak jumlah dan rumit penulisannya dibandingkan hiragana maupun katakana, kalau dibandinginnya dengan memahami wanita mungkin kanji belum seberapa, mungkin yaa…  (Naaahh.. ini urusan para laki… peace :D )

Masa sih kanji sulit? Well, tidak semua orang (mungkin) merasa kesulitan menulis, membaca ataupun menterjemahkannya. Penjelasan gampangnya begini, misal kita tau arti (dalam bahasa Indoneisa)  dari kosakata dalam bahasa Jepang jika ditulis dengan huruf hiragana maupun katakana, tapi ketika ditulis dengan huruf kanji, kita malah bertanya-tanya.. “Ini apa ya dibacanya…. Artinya apa yaa..”. Yang paling parah, kalau ditulis pake hiragana ngga mudeng, pake kanji apalagi! Ambyar byar… kalau kata orang Jawa. Etapi ya, Orang Jepangnya sendiri pun mengakui, ada saat dimana mereka juga tidak bisa membaca huruf kanji maupun menuliskannya loh. Hehe..

Untuk warga asing, Ujian kompetensi ini dilakukan setelah 3 tahun memiliki pengalaman kerja di fasilitas kesehatan lansia. Jadi selama tiga tahun masa magang, kita juga belajar untuk persiapan ujian tersebut (walau pada kenyataannya, belajarnya pas deket-deket ujian doang 😀 ). Bagi yang lulus ujian kompetensi ini, mereka akan diangkat menjadi karyawan tetap dan bisa bekerja di Jepang dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja, pendapatanpun disetarakan dengan karyawan Jepang lainnya. Tidak jarang, para senior yang sudah memiliki sertifikat caregiver, mereka mengajak keuarganya tinggal di Jepang. Atau banyak juga dari teman-teman yang cinlok (itu loh bahasa gaul jaman baheula… cinta lokasi), memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga kecil di negeri sakura ini, indah ya.. apalagi pas foto keluarga dengan backround bunga sakura 😀 (bahas begini, kaum jomblo mulai kembang kempis).

Lalu bagiamana yang tidak lulus? Beberapa tempat kerja mengijinkan untuk mengikuti ujian kompetensi di tahun berikutnya, mereka memberi kesempatan satu tahun lagi. Namun ada juga yang hanya memberikan satu kali kesempatan saja. Dengan kata lain, bagi yang belum beruntung di ujian pertama, yaa harus pulang. Terserah mau pulang ke orangtua atau ke rumah mertua.

Nilai kelulusan uji kompetensi setiap tahunnya berubah-ubah. Kadang standart nilai kelulusannya tinggi hingga mencapai 82, tapi 2 tahun terakhir turun menjadi 68. Entahlah tahun ini berapa… yang jelas rasanya saya seperti menjadi korban PHP. Udara jernih di Jepang, mendadak  berasa kena polusi kendaraan dari knalpot yang asapnya kayak wedus gembel kalau mendengar teman-teman bahas masalah ujian dan segala hal yang berkaitan dengannya. Apa perlu saya menulis di selembar kertas, “Please jangan bahas ujian!” dengan spidol merah dibold, lalu ditempelkan di setiap sudut sejauh mata memandang?. Akhir-akhir ini kalau ditanya tentang ujian, rasanya pertanyaan tentang ujian lebih horor daripada ditanya kapan nikah!

Bagi yang memutuskan untuk pulang ke Indonesia tercinta, tentunya ada  keinginan untuk  pulang dengan membawa sertifikat caregiver, right? Entah akan berguna atau tidak nantinya di Tanah Air (yaa..  kali aja berguna untuk daftar kerja,atau daftar ke KUA gitu! #Abaikan). Tapi kalaupun selembar kertas ‘pengakuan’ itu belum bisa diperoleh, bukan berarti tidak kompeten/ bodoh loh gaess… saya sih percaya bahwa semua orang itu terlahir pandai, kebiasaanlah yang menentukan bisa tidaknya untuk memeliharanya. Setuju? Sudahlah setuju saja…. #YeeMaksa!

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Alasan Memilih Memasukan Orangtua Ke Panti Lansia

Beberapa kali  saya bertanya kepada beberapa teman yang asli penduduk  Jepang, “Kenapa banyak anak yang memasukan orangtuanya ke panti lansia?”. Jawaban yang sering saya dapatkan adalah karena faktor kesibukan kerja sang anak sehingga mengakibatkan tidak ada waktu yang kondusif untuk mengurus orangtuanya sendiri dengan telaten. Ada juga karena faktor kesehatan lansia itu sendiri yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan perawatan intensif dari dokter, perawat, ahli gizi maupun bagian rehabilitasi.  Akhirnya mereka lebih memilih untuk menitipkan para orangtua ke panti lansia agar mendapatkan perawatan yang baik.

Selain itu, bisa juga karena faktor keselamatan. Tidak sedikit para lansia yang menderita Dimensia (pikun). Dimensia sendiri disebabkan oleh penurunan fungsi otak. Pada orang yang terkena dimensia, ia akan sulit sekali mengingat hal-hal baru (ingatan jangka pendek) tapi ia masih ingat betul hal-hal yang ada di masa lalu (ingatan jangka panjang), salah contoh  gampangnya adalah tentang masa dimana dia ikut berperang dahulu, pengalaman-pengalaman masa kanak-kanaknya, dll.

Saya jadi teringat seorang pasien yang hobi sekali bercerita tentang keikut sertaannya dalam peperangan jaman dulu. Padahal dia sudah pernah bercerita bahkan berkali -kali tentang hal itu. Ya itulah dimensia, dia mungkin lupa bahwa dia pernah bercerita sebelumnya. Ada lagi seorang pasien yang tidak pernah bosan bercerita mengenai perjalanannya dulu ke India dan mendapati ular yang membuatnya menjerit, atau tentang pisang-pisang yang ia beli untuk oleh-oleh perjalanan wisatanya ke India.

Yang tadi saya maksud mengenai faktor keselamatan adalah, ketika seorang penderita dimensia dibiarkan sendiri di rumah entah karena sang anak pergi bekerja atau karena urusan lainnya, bisa jadi ia pergi ke luar rumah dan tidak tahu arah pulangnya. Penderita dimensia juga akan mengalami gangguan disorientasi atau gangguan pemahaman tempat. Tiba – tiba di tengah jalan dia bingung ada dimana, dan tidak tahu harus kemana.

Guru bahasa Jepang saya pernah bercerita, Ibu dari teman beliau yang mengalami dimensia, suatu hari  ditinggal sendiri di rumah. Lalu, sang ibu yang sudah berusia 88 tahun dan masih bisa berjalan itu keluar dari rumah malam-malam. Tidak lama kemudian sang anak mendengar kabar bahwa ibunya meninggal tertabrak mobil di jalan raya. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan, karenanya perlu kehati-hatian yang ekstra untuk menghadapi orangtua yang mengalami dimensia.

Ada lagi karena faktor kelelahan dalam mengurus para lansia. Bagamimana tidak, sebagai contoh ada seorang lansia berumur 95 tahun, mempunyai anak berumur 70 tahun dan mereka tinggal bersama. Sedangkan kriteria seseorang disebut lansia jika usianya sudah mencapai 65 tahun ke atas. Bisa disimpulkan bahwa anak seorang lansia yang berumur 95 tahun itu juga sudah tergolong lansia. Ada sebuah istilah “Rourou kaigo” yang berarti lansia merawat lansia. Ini banyak sekali terjadi di Jepang.   Karena tenaga seorang anak  tak sekuat saat masih muda dulu, akhirnya ia memilih memasukan orangtua yang yang sudah berusia senja itu ke panti lansia dengan harapan agar bisa mendapatkan pelayanan yang terjamin dan  jauh lebih baik.

          Mungkin masih banyak lagi alasan-alasan lainnya yang lebih signifikan. Pada dasarnya, saya meyakini bahwa setiap anak ingin juga bisa merawat orangtua sampai akhir hayatnya. Namun karena beberapa faktor tertentu membuat mereka lebih memilih untuk memasukan orangtuanya ke tempat perawatan lansia.

 

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Memasuki Dunia Kerja Di Jepang (Pertama Kali)

 

Setiap orang yang baru pertama kali masuk ke dunia kerja, tentunya akan berhadapan dengan yang namanya grogi, takut, bahkan stress. Bagaimana ketika nanti berhadapan dengan atasan? Atau berhadapan dengan rekan-rekean kerja yang sebelumnya tidak pernah saling kenal? Atau mungkin kita dihinggapi rasa takut kalau kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Mungkin yang sudah mempunyai pengalaman kerja sebelumnya tidak akan se-rempong ini tingkat groginya. Karena sudah pernah melewati fase pengalaman kerja pertama kali, mereka mungkin akan lebih tenang menyikapi lingkungan baru di dunia kerjanya.

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja pertama saya setelah lulus kuliah tahun 2011 kemarin. Sekalinya kerja langsung memasuki dunia baru yang tingklat stressnya 2 kali lipat atau bahkan lebih.  Saya tidak sedang berbicara lebay, jujur saya mengakui bahwa bekerja di Negara orang memang butuh tenaga extra, otak yang diharuskan untuk selalu berpikir dalam mencerna bahasa yang mereka sampaikan atau yang ingin kita sampaikan, serta terakhir butuh hati atau mental yang super duper kuatnya. Yang ketiga itu wajib dimiliki banget!

Kebanyakan, orang jepang gigih dan disiplin sekali dalam bekerja. Masuk kerja lenih awal, pulang lebih lambat. Kalau terlambat walaupun sudah ijin sebelumnya bakal terlambat entah karena kereta yang telat, macet atau karena alasan  lainnya tetap saja ketika datang ke tempat kerja mereka akan merasa sangat malu karena terlambat. Saya jadi ingat ketika jaman sekolah dari SD sampai jaman kuliah sering sekali terlambat masuk. Walaupun sering pula mendapat hukuman-hukuman dari guru atau pak satpam penjaga sekolah, ya tetep saja masih membudayakan keterlambatan! (tak baik dicontoh :D).

Lepas dari rasa grogi, takut, atau stressnya menghadapi lingkungan kerja baru, ada satu hal yang perlu kita perhatikan ketika pertama kali masuk ke dunia kerja dan tidak hanya berlaku untuk yang bekerja di Jepang saja sebenarnya. Ya, lakukan 5 S! SENYUM-SAPA-SALAM-SOPAN-SANTUN. Istilah-itilah yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita.

The power of smile and The power of say hello is very amazing! Senyum itu ibadah, senyum itu hadiah, senyum itu mempererat hubungan. Apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum loh. Hehe, Alhamdulillah ya.

Sebelumnya saya sudah menebak pastinya di hari pertama kerja saya akan diminta untuk memperkenalkan diri di hadapan rekan-rekan kerja. Ya benar saja! Berkali-kali saya mencoba menenangkan diri sambil terus membaca kalimat basmalah dalam hati. Seandainya memakai bahasa Indonesia, ingin sekali rasanya bicara panjang lebar tapi apa daya pengetahuan bahasa jepang saya yang masih pas pasan ditambah rasa grogi yang melanda akhirnya pagi itu saya hanya mengatakan, “Selamat pagi, nama saya Farida. Mohon kerjasamanya.” sambil menebar senyum termanis versi saya.

Jangan bosan ketika mereka banyak menanyakan hal yang sama pada kita ketika kita baru msuk ke lingkungan kerja baru bersama mereka. Pertanyaan yang sering saya terima dari orang yang berbeda antara lain : “Gimana Jepang dingin ya?” -ini karena kebetulan pas sampai di tempat kerja sudah masuk msuim gugur dan udaranya mulai sedikit dingin. Beda lagi ketika masuk musim panas, “panasnya sama nggak kayak Indonesia?”. Selain membahas musim, mereka juga selalu tanya, “bagaimana Jepang menurutmu?”, “berapa lama belajar bahasa Jepang?” dan lain sebagainya.

Oiya, selain memperhatikan tentang 5S tadi, penting juga untuk mengingat nama-nama rekan kerja kita. Kenapa? Mereka ternyata sangat senang jika kita memanggil nama mereka ketika hendak memanggil, ngobrol atau keperluan lainnya. Bukan hanya sekedar bilang, “maaf, permisi…” diawal pembicaraan. Memangnya mau numpang lewat. Hehe. Dalam waktu kurang lebih seminggu saya menargetkan harus menghapal nama 50 rekan kerja ditambah sekitar 100 orang nama pasien (Lanatai 1 dan 2). Tentu saja bukan hal yang mudah ketika kita harus mengingat nama dan jenis huruf kanjinya. Ada yang pengucapan namanya sama, tapi jenis huruf kanjinya berbeda. Tapi bukan masalah, yang utama kita kenal wajah dan kenal nama panggilannya saja dulu.

Metode mengingat nama mereka mungkin bisa dibilang aneh. Saya selalu membawa buku kecil atau memo di saku lengkap dengan bolpointnya. Saya mencatat satu persatu nama-nama mereka beserta “ciri khusus” dari mereka. Setiap orang kan pasti punya ciri khusus masing-masing baik dari segi fisik ataupun dari segi lainnya. Contohnya, si A itu yang rambutnya keriting. Si B yang kalau jalan kayak dikejar rentenir. Si C yang ada tahi lalat di bawah bibirnya. Si D yang ceria sekali. Si E yang wajahnya mirip sekali dengan aktor macho roy surya. Si F yang kalau ngomong kayak shinkansen, kereta tercepat di Jepang. Dan seterusnya….

tapi namanya manusia pasti ada lupanya. Ketika saya pergi ke supermarket, saya bertemu dengan salah satu rekan kerja yang saat itu baru saja turun dari mobilnya. Dari belakang saya sentuh bahunya pelan dan menyapa, “selamat malam, mau ke supermarket ya?”. Saya ingin sekali menyapa namanya, tapi lupa. Ah biarkan saja, yang penting menyapa. Hihi. Setelah pulang ke rumah, saya ingat-ingat lagi dan besoknya paginya ketika bertemu di tempat kerja saya langsung sapa dia dengan nama.

Lalu berbicara soal mental, kita harus selalu siap ketika kita ditegur karena kesalahan-kesalahan kita dalam melakukan tindakan apapun. Namanya juga “orang baru”, dan justeru karena baru tidak masalah kita melakukan banyak kesalahan karena berani mencoba asalkan kita bisa  mengevaluasi kesalahan-kesalahan kita lalu memperbaikinya. Tidak masalah kita ditegur atau dimarahi di awal-awal daripada kita bermasalah di kemudian. Jangan takut dan malu bertanyatentang apa saja yang membingungkan atau yang sama sekali tidak kita pahami tentang pekerjaan atau tentang apa yang mereka bicarakan.

Ada orang Jepang yang memahami kita orang asing, oleh karenanya ia berbicara dengan pelan-pelan dan dengan menggunakan bahasa Jepang yang mudah dicerna bahkan tak segan mereka menggunakan bahasa tubuh ketika kita benar-benar tidak memahami. Ada juga orang Jepang yang cara komunikasinya disamaratakan seperti ketika ia berkomunikasi dengan sesama orang Jepang. Cepat dan “ngejlimet” bikin bingung nggak ketulungan. Dalam keadaan seperti itu, jangan pernah bilang “mengerti” atau sok-sokan ngangguk-nganggukin kepala tanda memahami apa yang mereka bicaralan pada kita. Ini gawat! Kalau seandainya rasa tidak tahu kita dibiarkan begitu saja tanpa bertanya ulang. Kita akan terjebak pada kebingungan kronis yang kita ciptakan sendiri. 😀 So, Jangan malu bertanyaa yaa… Pisss..

Pada hakekatnya setiap ornag punya cara tersendiri dalam menyikapi dunia kerja pertama kali, apapun yang membuat anda lebih tenanag dan nyaman, lakukan saja. #EnjoyWorking

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Kerja Dan Belajar

Kerjaaa.. belajar… kerja.. belajaarrr…

Istilahnya, selama kita berada di Jepang selama itu pula kita harus belajar bahasa Jepang. Jangan protes! Karena bahasa Jpeang adalah kebutuhan kita, tentu saja untuk kelancaran berbagai macam urusan yang akan kita temui dalam kesehariannya. Tak selamanya kita terus-terusan memakai bahasa isyarat atau terus-terusan mananyakan hal yang sama pada rekan kerja tentang hal yang belum kita pahami. Hey, mereka memang selalu bilang, “tidak apa-apa” tapi kita juga harus memahami bagaimana rasanya ditanya terus menerus tentang hal yang sebelumnya pernah kita beri tahu lebih dari dua atau mungkin tiga kali. hehe

Kita disini Nurse dan careworker dari Indonesia masih dikatakan sebagai “kandidat” atau calon. Untuk menghilangkan istilah “kandidat” kita dharuskan menempuh Ujian negara untuk sertifikasi Nurse atau careworker. Untuk Nurse, ketika belum menempuh ujian negara yang diadakan setiap tahun dan dinyatakan lulus, mereka belum bisa melakukan tindakan  sperti memasang Infus, injeksi, dan lain-lian.

Untuk careworker pelaksanaan ujiannya 3 tahun sekali. Dalam dunia careworker yang saya geluti saat ini, ada perbedaan dalam sistem kerja sebelum dan sesudah dinyatakan lulus ujian. Setiap fasilitas kerja mungkin berbeda kebijakannya, tapi saya akan memberikan contoh di tempat kerja saya sendiri. Mereka memberi kebijakan sebagai berikut :

  • Selama 3 tahun (sebelum ikut ujian dan lulus) kita hanya dikasih shift pagi dengan jam kerja dimulai pukul 08 :30 – 17:15, dengan waktu istirahat 45 menit. Dengan alasan agar kita bisa lebih fokus untuk belajar menghadapi ujian nanti.
  • Awal kerja setiap hari ada jam belajar bahasa Jepang dari jam 09:00 – 10:00, tapi tahun kedua dan ketiga, jam belajar hanya seminggu satu kali di hari selasa dari jam 09:00-11:00.
  • Kita belum dibolehkan menulis di buku laporan ruangan atau laporan di laptop. Tapi kalau membaca diperbolehkan, itupun yang dibuku. Kalau untuk laporan di laptop, buka laptopnya saja tidak pernah dan tidak pernah diajarkan atau dipersilahkan.
  • Setiap selesai kerja kita menulis catatan atau nikki di file yang khusus disediakan untuk kita. Di sana kita menulis kegiatan selama sehari kerja, menulis hal-hal yang belum dimengerti, kesan dan pesan, dan menulis kata-kata bahasa Jepang atau kanji yang tidak dimengerti, untuk bahan evaluasi gitu lah.
  • Libur rutin setiap hari sabtu dan minggu serta hari-hari libur nasional atau dengan kata lain ketika di kalender angkanya berwarna merah, ya kita mendapat libur.

Mungkin sangat jarang panti lansia yang memberikan kebijakan seperti ini. Ketika saya banyak mengobrol dengan teman-teman sejawat lainnya, kebanyakan mereka sistem kerjanya sudah disamaratakan dengan sistem kerja orang Jepangnya. Sudah masuk shift siang dan malam, libur tidak menentu, sudah diperbolehkan menulis laporan dan lain sebagainya. Jam belajar yang disediakan tempat kerja mereka pun berbeda. Ada yang satu minggu 2 kali dan satu kali pertemuan bisa 2-3 jam, ada yang jam belajarnya diambil pas hari libur merekapun ada.

Selain jam belajar yang disediakan oleh rumah sakit atau panti lansia, kita juga diwajibkan untuk belajar mandiri di rumah. Ada yang terus semangt belajar walaupun badan lelah sehabis kerja. Ada yang lebih memilih istirahat dan tidur saking capeknya seharian kerja, apalgi yang baru selesai dinas malam, bantal dan kasur sudah menjadi tujuan utamanya.

Untuk candidate Careworker kalau sudah lulus ujian, pada umumnya tidak ada yang berubah dalam tindakan kerjanya. Kalau di tempat saya, setelah lulus akan diganti shift-shiftnya, diperbolahkan menulis laporan dan lain-lain. Oiya, baik nurse atau careworker jika sudah dinyatakan lulus maka mereka bisa tinggal di Jepang sampai kapanpun mereka mau, dan upah gajinya pun disamakan dengan pekerja orang Jepang. Kesemepatan ujian untuk candidate nurse ada 3 kali (3 tahun) , jika sampai 3 kali belum lolos maka mau tidak mau harus pulang karena masa kontrak habis.

Sedangkan untuk Candidate careworker hanya ada kesempatan 2 kali. Setelah 3 tahun kerja dan belum dinyatakan lolos, masih ada kesempatan sekali lagi di tahun berikutnya. Untuk kesempatan kedua ini, tidak semua panti lansia memilki kebijakan yang sama juga. Ada tempat yang hanya memberikan kesempatan satu kali saja dan tidak bisa memperpanjang kontrak kerja 1 tahun untuk mengikuti ujian tahun berikutnya, sehingga jika gagal di kesempatan pertama, konsekuensinya harus pulang ke Indonesia.

Januari, 2016 InshaaAllah saya akan menghadapi ujian Negara Careworker. Doakan ya 🙂