Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Tempat Tinggal di Jepang

 

Setelah sebelumnya kita membahas tentang program Careworker dan Nurse ( Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang dan Sekilas Tentang Careworker di Jepang ) sekarang saya akan sharing mengenai tempat tinggal para kandidat Nurse/Careworker nantinya di Jepang.

Setiap fasilitas tempat tinggal yang disediakan Rumah sakit maupun Panti lansia bermacam-macam, ada yang menyediakan asrama, apartement, atau rumah kontrakan yang bisa dihuni oleh 3 atau 4 orang. Harga sewanya berbeda-beda, dan yang paling murah biasanya asrama.

Saya sendiri selama bekerja, tinggal di asrama putri milik Rumah sakit. Panti lansia tempat saya bekerja letakanya bersebalahan dengan Rumah sakit dan masih satu institusi. Asrama yang terdiri dari 4 lantai dengan jumlah  13 kamar setiap lantainya ini khusus diperuntukan bagi mereka yang bekerja di Rumah sakit atau Panti lansia, baik perawat—dokter—ahli gizi—maupun profesi lainnya.

Terkadang mahasiswa yang sedang praktek di Rumah sakit maupun panti lansia pun menyewa asrama untuk sementara. Biaya sewa perbulannya langsung ditarik dari gaji bulanan sebesar 8000 yen. Biaya ini tergolong cukup murah dengan fasilitas ruang asrama yang lumayan luas dan terisi perabotan di dalamnya.

Pertama kali datang ke asrama, di dalamnya  sudah tersedia lemari es, microwave, AC, meja belajar, rak buku, lemari untuk pakaian, bed lengkap dengan selimut, kotatsu (penghangat kaki untuk musim dingin) dll. Untuk kamar mandi dan dapur, terdapat di dalam. Untuk mencuci pakaian, setiap lantai disediakan 3 buah mesin cuci lengkap dengan mesin pengeringnya.

Tetapi tidak semua asrama juga menyediakan fasilitas seperti ini. beberapa kawan saya, perabotan asramanya harus beli sendiri. Lalu ada juga yang menempati apartemen, tentu saja saja biayanya jauh lebih mahal bahkan 2 atau 3 kali lpat biaya asrama. Tapi biasanya satu apartemen ditempati oleh 2 atau 3orang jika kamarnya luas. Harga sewa apartemen juga bermacam-macam tergantung kota, seberapa dekat dengan stasiun kereta, luasnya apartemen dll. Harga sewa termurah  berkisar mulai dari 30.000 yen, itupun untuk kamar single (one room). Untuk yang disediakan tempat tiggal berupa rumah kontrakan, disi 3-4  orang dengan biaya sewa hampir sama dengan apartemen.

Untuk mengetahui tempat tinggal kita selama bekerja nantinya dimana, kita bisa melihat di surat kontrak kerja. Pihak Rumah Sakit atau panti lansia akan menerangkan mengenai fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk kita, termasuk tempat tinggal.

 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang

ilustrasi-perawat-periksa-tangan-tekanan-darah_20150611_141222

Program EPA lainnya selain careworker adalah nurse. Seperti halnya careworker, bagi yang ingin mengikuti program nurse, harus mereka yang berlatar belakang pendidikan keperawatan baik Diploma 3, Sarjana keperawatan, maupun yang sudah menempuh pendidakan profesi Ners. Berbeda dengan careworker, untuk yang ingin mendaftar sebagai nurse yang nantinya akan ditempatkan di Rumah sakit, mereka wajib memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun setelah kelulusan atau telah lulus S1 keperawatan + Ners dan memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun. Dengan kata lain, profesi ners yang ditempuh selama 1 tahun tersebut sudah bisa dijadikan sebagai syarat pengelaman kerja.

Di Jepang sendiri, nurse atau dalam bahasa Jepang disebut Kangoshi, masih menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dari segi kesejahteraan ekonomi, tentunya bagi yang sudah lulus ujian negara perawat. Ujian perawat ini diadakan setiap tahun, biasanya di bulan februari. Beda halnya dengan ujian careworker yang bisa diikuti ketika sudah ada pengalaman kerja lapangan minimal 3 tahun. Perawat dari Indonesia pun demikian, mereka setiap tahunnya mengikuti ujian negara perawat selama kontrak kerja 3 tahun untuk mendapatkan lisensi level nasional atau Registrasi Nurse (RN). Jika dalam waktu 3 tahun atau 3 kali ujian belum berhasil mengantongi “Registrasi Nurse”, bisa memperpajang kontrak satu tahun lagi sesuai kebijakan dan kesepakatan pihak Rumah sakit dengan pekerja,  jadi total kontrak 4 tahun. Perpanjangan kontrak 1 tahun lagi bagi mereka yang belum lulus  juga berlaku untuk program careworker.

Akan tetapi, tigkat kelulusan ujian perawat level nasional ini masih rendah bagi perawat Indonesia khususnya. Karena memang menurut hampir semua teman-teman sejawat mengatakan soal-soalnya itu njlimet, alias sulit. Jangankan bagi perawat Indonesia, bagi perawat Jepangnya pun dirasa kesulitan ketika menghadapi soal-soal ujian negara tersebut.

Oleh sebab inilah, perawat Indonesia yang di Jepang diberikan kesempatan untuk mengikuti Ujian asisten perawat atau dalam bahasa Jepangnya disebut Junkanggo (ujian level tingkat provinsi). Soal-soal ujian ini menurut teman-teman sejawat kita, lebih mudah daripada ujian negara kangoshi. Jika lulus ujian Junkanggo, menurut informasi dari teman sejawat kita, perawat Indonesia mendapatkan lisensi tingkat provinsi dan bisa menambah kontrak kerja selama 4 tahun lagi, jadi total keseluruhannya 7 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, mereka diharapkan untuk lulus ujian level nasioanl dan mengantongi gelar Registrasi Nurse atau mendapatkan lisensi tigkat nasional di Jepang.

Untuk menjadi Junkanggo atau asisten perawat, orang Jepangnya sendiri harus menempuh pendidikan formal untuk asistan perawat selama 1 tahun. Kalau di Indonesia, mungkin setara dengan SPK (Sekolah Kejuruan Perawat).  Tugasnya bagaimana? Secara garis besar, tugas seorang asisten perawat adalah melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perintah perawat yang telah memiliki lisensi tingkat nasional. Mereka tidak bisa semaunya memberikan asuhan keperawatan tanpa ijin atau perintah dari perawat.

Nah, lalu bagaimana dengan perawat Indonesia yang belum memiliki lisensi sebagai asisten perawat maupun lisensi perawat nasional? mereka belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti perawat Jepang. Tindakan yang bisa dilakukan antara lain adalah memberikan kebutuhan nutrisi pasien secara oral, mobilisasi, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, merawat personal hygiene : menjaga kebersihan mulut dan gigi, badan, rambut, kuku dll, mencuci peralatan medis, dan lain sebagianya. Disini skill keperawatan belum terpakai. Setelah lulus ujian asisten perawat, baru bisa melakukan tindakan keperawatan, namun masih dibawah perintah perawat.  Sedangkan jika telah lulus ujian perawat tingkat nasional, maka kedudukan, tugas, hak, serta tanggung jawabnya disetarakan dengan perawat Jepang pada umumnya dan bisa bekerja di Jepang sampai batas waktu yang tidak ditentukan, keculai batas usia pensiun.

Jika sudah mengantongi Registrasi Nurse lalu kembali ke Indonesia, Insya Allah akan sangat bermanfaat sekali. Akan banyak peluang untuk turut andil mempertahankan maupun memajukan pelayanan-pelayanan Rumah sakit di Indonesia bagi yang ingin terus melanjutkan karir di bidang keperawatan. Karena tidak sedikit, teman-teman sejawat yang kembali ke Indonesia, mereka banting setir ke profesi yang menggunakan skill bahasa Jepang. Seperti misalnya : menjadi penerjemah bahasa Jepang-Indonesia, bekerja di perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, staf pengajar bahasa Jepang, wirausaha, dan masih banyak lainnya.

So, bagaimana teman-teman? Apakah kalian berminat mengikuti program ini? terus pantau infonya di website resmi BNP2TKI yaa… ( www.bnp2tki.go.id )

Semoga sukses!

Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Careworker di Jepang


Kalau dii tulisan Jadi Perawat di Jepang? Why Not! saya membahas tentang alur cara pendaftaran program perawat ke Jepang secara umum, kali ini saya pengen berbagi pengalaman ketika saya bekerja sebagai Careworker di Jepang. Karena banyak email yang masuk setelah mereka membaca tulisan saya sebelumnya dan menanyakan program ini, jadi sepertinya saya share (lagi) saja ya.. 

Jadi, untuk perawat Indonesia yang ingin mengikuti program Careworker salah satu syaratnya saat ini, tetap harus mereka yang mempunyai basic pendidikan keperawatan baik diploma, sarjana maupun yang sudah profesi Ners. Sebenarnya di Jepang sendiri, mereka yang bekerja sebagai Careworker tidak harus yang berpendidikan di bidang keperawatan, banyak orang Jepang yang lulus SMA bisa melamar kerja sebagai Careworker. Tetapi, di Jepang juga ada sekolah kejuruan khusus Careworker setelah lulus SMA dengan masa Studi 2 tahun.

Untuk yang menempuh pendidikan Careworker atau dalam bahasa Jepangnya “Kaigofukushishi” atau “Kaigoshi”, setelah lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi (lisensi) nasional sebagai Careworker. Sedangkan yang tidak punya basic Careworker, mereka diwajibkan mengikuti Ujian Negara baik tulis maupun praktek untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Careworker. Syarat untuk mengikuti ujian negara ini, salah satunya  diharuskan mempunyai pengalaman kerja minimal selama 3 tahun dibidang Careworker. Atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan  Careworker sebanyak minimal kurang lebih 450 jam belajar. Begitu juga dengan Careworker dari Indonesia, setelah mempunyai pengalaman kerja selama 3 tahun, nantinya akan mengikuti ujian negara untuk mendapatkan lisensi careworker. Ujian tulis dan praktek disamakan seperti orang Jepang. Sebelum menempuh ujian dan memperoleh sertifikat, statusnya masih sebagai kandidat careworker (Kaigofukushishi Kohousha)

Untuk perawat Indonesia yang baru lulus kuliah, bisa mendaftar langsung program Careworker ini. Tidak perlu ada pengalaman kerja di Rumah sakit ataupun fasilitas Kesehatan lainnya selama minimal 2 tahun seperti program Nurse. Nanti kita bahas program Nurse di tulisan berikutnya ya.

Secara penempatan tempat kerja, Careworker akan di tempatkan di fasilitas kesehatan untuk merawat orang-orang lanjut usia, atau biasa kita kenal dengan istilah panti lansia (Roujin Home) . Mereka yang disebut lansia adalah yang sudah mencapai usia minimal 65 tahun. Menurut data Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi (総務省) tahun 2013 tertulis jumlah penduduk di Jepang  mencapai 127,320,000 Jiwa.  Sebanyak 25 % dari jumlah itu adalah mereka yang berusia 65 tahun lebih. Dengan kata lain satu dari empat orang di Jepang adalah orang yang berusia lanjut. Bahkan diperkirakan tahun 2035, jumlah penduduk lansia di Jepang kurang lebih akan mencapai 34%. Mungkin hal ini tidak masalah jika tingkat presentase kalahiran atau anak di Jepang jumlahnya melebihi penduduk lansia.  Tetapi menurut data tahun 2013, jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun hanya mencapai 12.9% .

Melihat data ini, tentunya Jepang akan sangat membutuhkan tenaga Careworker baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya saja di panti lansia tempat saya bekerja, masih sangat membutuhkan sekali tenaga Careworker, tapi orang Jepang yang berminat di bidang ini masih sedikit. Mungkin inilah salah satu sebab Jepang bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ini. Permintaan jumlah Careworker dari Indonesia jauh lebih banyak dari permintaan Nurse. Karena memang, jumlah kebutuhan perawatan lansia di Jepang sangat tinggi.

Angkatan saya yang berangkat bulan Mei tahun 2012 lalu, jumlah keseluruhannya 101 orang. 29 adalah Nurse, dan Careworker 72 orang. Tahun 2013 dari jumlah keseluruhan 156, Careworker berjumlah 108 orang. Tahun 2014 bertambah lagi menjadi 146 orang dari jumlah keseluruhan 187 orang, sisanya yang mengikuti program Nurse. Dan diperkirakan akan terus bertambah jumlah permintaan Careworker dari tahun ke tahun.

Bukan hanya dari Indonesia saja, pemerintah Jepang juga bekerjasama dengan Filipina dan Vietnam, namun sampai saat ini Indonesia masih menduduki peringkat pertama jumlah pengiriman Careworker maupun Nurse.
Secara umum, tugas Careworker adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mengacu pada keperawatan gerontik. Namun disini, Caerworker tidak bisa melakukan tindakan klinis keperawatan. Loh, kita kan di indonesia nurse / perawat, mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi), dan mempunyai sertifikat uji kompetensi perawat?? Eeeitss.. memang benar, akan tetapi program yang kita geluti di Jepang adalah Careworker, bukan Nurse. Untuk di panti lansia, yang bertugas sebagai nurse masih dari orang Jepangnya sendiri. Jepang dan Indonesia belum membuka program baru untuk penempatan nurse di panti lansia. Nurse dari Indonesia masih ditempatkan di area Rumah sakit saja.

Saya sendiri mengikuti program Careworker. Di sini peran dan tugas saya tidak sama dengan perawat maupaun profesi kesehatan lainnya. Semuanya sudah memiliki tugas masing-masing, tapi tentu saja kita juga berkolaborasi dalam hal pelayanan kesehatan. Di tempat saya, careworker tidak bisa melakukan tindakan keperawatan seperti misalnya, melakukan injection, memasang infus, memasang NGT, merujuk pasien ke RS,  dan tindakan  keperawatan lainnya yang tentunya atas advice dari Dokter. Bahkan di tempat kerja saya, untuk pemeriksaan TTV/Tanda Tanda Vital seperti mengukur tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan tetap dilakukan oleh perawat. Dan sebaliknya, perawat boleh melakukan tugas Careworker jika dibutuhkan.

Jadi tugas Careworker bagaiamana? Tugasnya antara lain adalah membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi secara oral (secara langsung dari mulut) , memberikan obat oral atas anjuran perawat, dukungan personal hygiene : kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan anggota badan lainnya seperti kebersihan kepala, rambut, kuku, mata dan telinga, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur,  mempertahankan kesehatan lansia, mencegah penurunan kesehatan lansia, misal: ketika ada lansia yang lumpuh dan perlu perawatan serta bantuan pemenuhan kebutuhan secara total, Careworker mempunyai peran untuk bisa mencegah terjadinya dekubitus (Kerusakan/kematian kulit akibat adanya penekanan secara terus menerus).  Pemenuhan rasa aman dan nyaman juga tak kalah pentingnya, banyak sekali lansia mengalami disorientasi, penurunan kemamapuan dalam mengingat atau Demensia, sehingga mereka akan mudah panik, cemas, dan gelisah. Careworker dituntut untuk memahami hal ini, dan harus memiliki seni dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan Demensia. Careworker juga wajib melakukan dokumentasi, membuat perencanaan, dan Masih banyak lagi tugas careworker yang lainnya.

Jadi kasarnya nih, tugas Careworker bukan hanya sekedar nyuapin, mandiin, bantu BAK/BAB, angkat-angkat pasien melulu.. hehe.. masih banyak tugas, peran, dan kewajiban dan tanggung jawab lainnya. Bagi Careworker dari Indonesia, ketika sudah mendapatkan lisensi careworker yang bisa diperoleh setelah pengalaman kerja selama 3 tahun serta lulus ujian negara, tugas  peran, serta tanggung jawabnya pun akan bertambah dibanding ketika mereka belum mengantongi sertifikat kompetensi. Tetapi, hal ini juga tergantung kebijakan tempat kerja. Ada yang walaupun belum memiliki sertifikat, tetapi tugasnya sudah sama seperti Careworker Jepang, dan ada juga yang masih dianggap sebagai peserta magang, jadi tanggung jawab pekerjaan misalnya pendokumentasian tidak dibebankan kepadanya.

Kalau sudah mendapat lisensi, Careworker dari Indonesia bisa bekerja sampai waktu  yang mereka inginkan. Mereka bisa memeperpanjang kontrak kerja  menjadi 5 th,10 th, 15 th , ataupun sampai batas umur pensiun. 

Yaaa.. demikian sedikit cerita yang saya dapat dari Negeri sakura, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Untuk teman sejawat yang sedang/akan mengikuti program ini, semoga diberikan kelancaran… ganbatte! Oke? Oke 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan, Tulisan bebas

Serba Serbi Ujian dan Kegalauannya

Ternyata saya tidak sendiri! Yeay.. banyak dari teman-teman seangkatan terdiagnosa mengidap  kegalauan akut pasca Ujian kompetensi caregiver (perawat lansia) atau biasa disebut ujian Negara tanggal 24 januari 2016 kemarin. Dan sepertinya berpotensial menjadi galau kronis sampai tiba saatnya pengumuman di akhir maret nanti. *Jika galau berlanjut, hubungi dokter!

Sekilas tentang uji kompetensi/Ujian Negara Jepang

Ujian kompetensi untuk sertifikasi yang terdiri dari 120 soal tersebut, tidak hanya diikuti oleh caregiver asing yang sebelum lulus ujian, statusnya masih menjadi pemagang saja. Seluruh caregiver Jepang yang belum mendapat sertifikat pun mengikutinya, mulai dari yang berusia masih muda sampai yang lewat dari kata belia. Serius loh, tahun lalu saja yang berusia 61 tahun keatas, tingkat kelulusannya mencapai 25%, keren ya semangatnya. Nah, mbah-mbah kita di rumah masih pada minat ngga coba ikutan beginian? 😀

Baik warga asing maupun orang Jepangnya sendiri, semua  mengerjakan jenis soal yang sama. Tidak ada tuh toleransi jenis soal berbahasa Indonesia, jawa, sunda, btak, madura, ngapak, yang dikhususkan untuk para peserta dari Indonesia. Hanya saja khusus untuk warga asing, waktu pengerjaan soal sedikit lebih panjang. Jaman senior angkatan pertama dulu, soal ujian maupun waktu disamaratakan dengan orang Jepang juga,mungkin hal tersebut berasa kelawahan bagi kita yang pas lahir ngga langsung bisa bilang “Arigatou gozaimasu” (Terimakasih) ke bidan atau dokter kandungan yang membantu persalinan. Karena faktor tersebut, para senior yang baik hati mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar mendapat perpanjangan waktu pengerjaan soal ujian khusus bagi warga asing, dan mencantumkan furigana diatas deretan huruf kanji yang bentuknya kadang ngajak ribut itu. Tau sendiri, bhasa Jepang termasuk kedalam bahasa tersulit di dunia. Belajar bahasa Jepang bukan hanya sekedar menghapalkan kosakata lalu bicara, bukan. Belajar bahasa Jepang, berarti harus mau berlelah-lelah berlatih menulis, membaca, dan mencerna arti huruf-huruf hiragana, katakana, dan kanji. Dan kanji yang paling banyak jumlah dan rumit penulisannya dibandingkan hiragana maupun katakana, kalau dibandinginnya dengan memahami wanita mungkin kanji belum seberapa, mungkin yaa…  (Naaahh.. ini urusan para laki… peace :D )

Masa sih kanji sulit? Well, tidak semua orang (mungkin) merasa kesulitan menulis, membaca ataupun menterjemahkannya. Penjelasan gampangnya begini, misal kita tau arti (dalam bahasa Indoneisa)  dari kosakata dalam bahasa Jepang jika ditulis dengan huruf hiragana maupun katakana, tapi ketika ditulis dengan huruf kanji, kita malah bertanya-tanya.. “Ini apa ya dibacanya…. Artinya apa yaa..”. Yang paling parah, kalau ditulis pake hiragana ngga mudeng, pake kanji apalagi! Ambyar byar… kalau kata orang Jawa. Etapi ya, Orang Jepangnya sendiri pun mengakui, ada saat dimana mereka juga tidak bisa membaca huruf kanji maupun menuliskannya loh. Hehe..

Untuk warga asing, Ujian kompetensi ini dilakukan setelah 3 tahun memiliki pengalaman kerja di fasilitas kesehatan lansia. Jadi selama tiga tahun masa magang, kita juga belajar untuk persiapan ujian tersebut (walau pada kenyataannya, belajarnya pas deket-deket ujian doang 😀 ). Bagi yang lulus ujian kompetensi ini, mereka akan diangkat menjadi karyawan tetap dan bisa bekerja di Jepang dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja, pendapatanpun disetarakan dengan karyawan Jepang lainnya. Tidak jarang, para senior yang sudah memiliki sertifikat caregiver, mereka mengajak keuarganya tinggal di Jepang. Atau banyak juga dari teman-teman yang cinlok (itu loh bahasa gaul jaman baheula… cinta lokasi), memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga kecil di negeri sakura ini, indah ya.. apalagi pas foto keluarga dengan backround bunga sakura 😀 (bahas begini, kaum jomblo mulai kembang kempis).

Lalu bagiamana yang tidak lulus? Beberapa tempat kerja mengijinkan untuk mengikuti ujian kompetensi di tahun berikutnya, mereka memberi kesempatan satu tahun lagi. Namun ada juga yang hanya memberikan satu kali kesempatan saja. Dengan kata lain, bagi yang belum beruntung di ujian pertama, yaa harus pulang. Terserah mau pulang ke orangtua atau ke rumah mertua.

Nilai kelulusan uji kompetensi setiap tahunnya berubah-ubah. Kadang standart nilai kelulusannya tinggi hingga mencapai 82, tapi 2 tahun terakhir turun menjadi 68. Entahlah tahun ini berapa… yang jelas rasanya saya seperti menjadi korban PHP. Udara jernih di Jepang, mendadak  berasa kena polusi kendaraan dari knalpot yang asapnya kayak wedus gembel kalau mendengar teman-teman bahas masalah ujian dan segala hal yang berkaitan dengannya. Apa perlu saya menulis di selembar kertas, “Please jangan bahas ujian!” dengan spidol merah dibold, lalu ditempelkan di setiap sudut sejauh mata memandang?. Akhir-akhir ini kalau ditanya tentang ujian, rasanya pertanyaan tentang ujian lebih horor daripada ditanya kapan nikah!

Bagi yang memutuskan untuk pulang ke Indonesia tercinta, tentunya ada  keinginan untuk  pulang dengan membawa sertifikat caregiver, right? Entah akan berguna atau tidak nantinya di Tanah Air (yaa..  kali aja berguna untuk daftar kerja,atau daftar ke KUA gitu! #Abaikan). Tapi kalaupun selembar kertas ‘pengakuan’ itu belum bisa diperoleh, bukan berarti tidak kompeten/ bodoh loh gaess… saya sih percaya bahwa semua orang itu terlahir pandai, kebiasaanlah yang menentukan bisa tidaknya untuk memeliharanya. Setuju? Sudahlah setuju saja…. #YeeMaksa!

Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Mahasiswa Keperawatan Indonesia Dan Jepang

Gambar Ilustrassi
Gambar Ilustrasi

Beberapa hari belakangan saya membaca postingan dari temen sejawat di News feed facebook saya tentang permasalahan STR (Surat Tanda Registrasi) Perawat. Ada masalah ketika mereka ynag baru lulus harus dihadapkan dengan ketentuan bahwa untuk Para freshgraduate tidak bisa langsung kerja jika tidak mengantongi STR. STR sendiri didapatkan melalui Uji kompetensi, yang lolos bisa mendapatkan surat tanda registrasi, dan yang belum harus mencoba lagi dan selama itu mereka tidak bisa bekerja di fasiltas kesehatan Rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya . Karena Saat ini Rumah Sakit – Rumah Sakit tidak bisa mempekerjakan para lulusan keperawatan yang belum memliki STR.

Permasalahannya lagi, mereka yang sudah berhasil lolos dari uji kompetensi saja, masih sulit mengantongi STR. Banyak yang lolos Ujikom, namun belum juga mendapatkan STR. Saya kembali mencari informasi di salah satu Forum Perawat, 90% mengeluhkan proses STR ini. Ada yang sudah menyerahkan persyaratan lengkap ke PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) namun tidak kunjung diproses, dan setelah dikonfirmasi lagi ke pihak PPNI, berkas dokumen persyaratan pembuatan STR nya hilang entah kemana.

Tidak memiliki STR berarti dianggap tidak kompeten. Baiklah, tapi ada yang mengganjal disni. Perawat Indonesia saat masih menjadi mahasiswa keperawatan, mereka bisa menyentuh pasien, melakukan tindakan layaknya para perawat senior yang sudah teregistrasi (memiliki STR). Mahasiswa bisa memasang Infus, Kateter, Injection, dll. Lalu kenapa ketika lulus namun tidak bisa bekerja karena terkendala STR, dengan alasan tidak kompeten?

Saya pribadi setuju sekali dengan adanya STR ini, jika sistemnya berjalan dengan mudah, tidak berbelit belit dan menyulitkan para perawat untuk mendapatkannya. Simpelnya gini, mengikuti ujian kompetensi-Lulus-segera mendapat STR, bukan menungu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Saya bekerja di salah satu fasilitas kesehatan untuk lansia di Jepang. Di sini, sering saya temui mahasiswa keperawatan yang melaksanakan praktek keperawatan. Uniknya, paling banyak hanya 6-7 orang saja setiap kali praktek. Ternyata teman-teman lainnya praktek di tempat yang berbeda. Mungkin agar proses pembelajaran selama praktek bisa lebih efektif. Selama praktek mereka benar-benar diperlakukan layaknya mahasiswa, tidak dibebani tanggung jawab. Mereka tidak melakukan tindakan papaun tanpa instruktur dari pembimbing di lapangan. Selama praktek di panti lansia, mereka hanya boleh melakukan tindakan pengecekan Tanda-tanda Vital (TTV) itupun didampingi pembimbing, selebihnya mereka hanya melihat pembimbing mereka melakukan tindakan dan melakukannya ketika mendapat instruktur dan didapingi. Namun yang jelas, mereka tidak melakukan Injection, dll.

Ketika saya bertanya lebih jauh lagi bagaimana ketika praktek di Rumah sakit, apakah mahasiswa bisa melakukan tindakan seperti perawat lainnya? Ternyata tidak. Sama sekali masiswa tidak boleh menyentuh pasien. Dan mereka sangat terkejut ketika saya cerita pengalaman saya saat menjadi mahasiswa.

Di Jepang, Ujian kompetensi untuk mendapatkan Registrasi Nurse, dilakukan setiap setahun sekali setiap bulan februari biasanya. Selama belum lolos dan mendapat Sertifikat RN (Registrasi Nurse), mereka belum bisa menyentuh pasien, hanya menjadi asisten perawat. Ini juga berlaku untuk perawat asing yang bekerja di Jepang. Saat ini, perawat dari Indonesia sudah banyak yang bekerja di Rumah sakit maupun panti lansia di Jepang. Mereka yang bekerja di Rumah sakit dan belum berhasil lolos ujian kompetensi belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti senior lainnya. Singkatnya, untuk di Jepang yang penting bisa  lolos ujian, maka proses selanjutnya untuk mendapatkan STR sangat mudah.

Sebenarnya jika mahasiswa keperawatan Jepang, mahasiswa Indonesia lebih menguasai dalam bidang praktek. Bagaimana tidak, masih menjadi mahasiswa saja sudah bisa melakukan ini itu. Kendalanya hanya dalam proses mendapatakn STR. Harapannya semoga proses pembuatan STR dimudahkan, sehingga tingkat pengangguran dari lulusan keperawatan tidak bertambah. Dan satu lagi, profesi perwat di Jepang dianggap menjanjikan, pemerintah Jepang sangat mengapresiasi profesi mulia ini. Gaji perawat di Jepang yang sudah teregistrasi pun besar. Dan lagi-lagi mereka terkejut ketika saya bercerita rata-rata pendapatan perawat di Indonesia, dan kembali terkejut saat saya bercerita ada juga perawat yang tidak menadpat gaji (tenaga Sukarelawan). Saya masih punya harapan profesi keperawatan di Indonesia suatu hari bisa lebih diapresiasi dan bisa mensejahterakan perawat itu sendiri. Dan semoga pelayanan kesehatan di Indonesia semakin membaik, dan mampu menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia pada khususnya.