Diposkan pada Cerpen, Tulisan bebas

Ibu, Do’akan Saja Aku

 
Entah ini yang keberapa kalinya beliau menanyakan tentang “pasangan” padaku, oh tidak, lebih tepatnya calon pasangan. 

“Sudah punya pacar belum?”

Tanya Ibu tadi pagi via chat di line. Pacar? Aku tidak akan mencarinya bu, batinku. Kembali, ibu mengingatkanku perihal umur yang sudah mencapai seperempat abad, dimana wanita-wanita seusiaku di kampung sudah memiliki anak seusia toodler atau balita. 

“Banyak kok bu di sini yang usianya 25,26,27 yang masih sendiri alias belum nikah.” Aku berusaha membela diri.

“Ya itu kan di sana, kalau di sini sudah menikah semua.” Jawab ibu.

Aku langsung bingung menjawabnya lagi, tapi aku punya jawaban andalan ketika sudah buntu. 

“Iya bu, Do’akan saja.”

Kalau sudah dijawab seperti itu, biasanya ibu pasti hanya menjawab mengAamiini. 

Jodoh itu bukankah sudah ada Allah yang mengatur? Bahkan jodoh sudah ditetapkan jauh sebelum kita diciptkan, bukan? Lalu kenapa masih selalu menjadi momok yang mengkhawatirkan. Aku sendiri meyakini bahwa jodoh pasti akan datang diwaktu yang tepat, setiap wanita maupun lelaki pasti sudah mendapatkan jodohnya masing-masing. Jika tidak di dunia, Allah menyiapkannya di akherat.

Aku bukan tidak memikirkan, siapa sih wanita yang tidak pernah terbesit untuk menikah dalam pikirannya? Aku rasa semua wanita ingin menikah, termasuk diriku. Hanya saja, aku rasa memperbaiki diri jauh lebih bermanfaat daripada hanya sekedar memikirkannya saja, apalagi sampai galau, susah makan, susah tidur, dan susah bangun. Duh… Rugi sekali waktu kita. Padahal masih banyak hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menghebatkan kulalitas hidup kita.

“Jodoh pasti bertemu dan bertamu”

Jadi, Ibu, do’akan saja aku 🙂

Diposkan pada Cerpen

DIA Yang Memilihmu, untukku

Seluruh mata para akhwat itu terbelakak lebar perihal seorang ikhwan yang dikabarkan akan melangsungkan pernikahannya minggu depan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berita bahagia ini, hanya saja banyak orang yang menganggap bahwa calon mempelai wanita dari ikhwan yang bernama Fadlan tersebut bukanlah orang yang tepat untuknya.
“Kok bisa-bisanya, akhi Fadlan ingin menikahi wanita itu?!” Tanya seorang Akhwat di sebuah perkumpulan informal di taman depan kampus.
“Iya ya, saya juga heran ukh.” Timpal akhwat berkacamata di sebelahnya.
“Mungkin karena paras dia cantik, bulu matanya kan lentik, gayanya juga nyentrik, jadi pantas saja banyak yang melirik! Termasuk akhi Fadlan.” Tambah akhwat berjilbab merah di sampingnya lagi.
“Huss! Kalian ini ngomong apa sih, sudah jangan gibah!” Kali ini giliran akhwat berjilbab ungu muda angkat bicara. Suasana mendadak seperti saat mengheningkan cipta.
——-
Bukan dari kalangan akhwat saja, bahkan kalangan ikhwan pun menpersoalkan ‘calon’ dari Fadlan. Sebenarnya Fadlan pun menyadari bahwa banyak yang menggunjingnya. Tapi ia tetap tersenyum menanggapi semua argument tentangnya.
“Akhi, apa antum yakin ingin menikahi ukhti Bela?” Tanya Wandhi, teman dekat Fadlan.
“InshaAllah akhi! Minta do’a nya.”
“Tapi akh, ukhti Bela kan …”
“Kenapa? Heehe..” Segat Fadlan sambil tertawa kecil. “Akh, ana tau maksud antum.” Lanjutnya.
“Syukurlah.. Semoga antum bisa merubahnya.” Ucap Wandhi mengalah.
——-
Bela Arzeta adalah sosok wanita cantik yang dulunya pernah berprofesi sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan internasional. Selain parasnya yang rupawan, Bela pun dikenal sebagai wanita yang cerdas dan baik terhadap teman-temannya. Jangankan teman, kepada orang yang tak dikenal pun ia selalu ramah. Ia peduli dengan lingkungan sekitar, sikapnya yang selalu membantu oranglain membuatnya menjadi seseorang yang dikagumi banyak orang dari berbagai macam kalangan.
Bela juga seorang wanita yang supel dan tak pantang menyerah. Dari kecil ia belajar tentang kerja keras dan semangat yang tinggi dari ibunya. Ibunya membesarkan Bela seorang diri sejak Ayah Bela meninggalkan mereka. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat Bela duduj di bangku Sekolah Dasar kelas 3.
Sang ibu bantung setir untuk menyambung nyawa anak semata wayangnya itu.
Otak Bela yang tergolong cerdas itu, berhasil menjuarai berbagai macam olimpiade antar sekolah. Cita-cita Bela, ingin keliling dunia namun Bela sadar ia tak punya banyak uang untuk itu. Tapi Tuhan memberi kemudahan, Bela mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah pramugari. Setelah lulus, ia langsung diterima kerja di penerbangan Internasional karena kelihaiannya dalam berbahasa inggris dan prakteknya. Semenjak itu kehidupan Bela pun berubah, ia bisa menafkahi ibunya yang tidak lagi bekerja di luar rumah menjajakan kue dari toko ke toko, dari pasar ke lasar, bahkan sampai ke terminal bus dan stasiun kereta.
———-
Mengingat umurnya yang sudah hampir menginjak kepala 3, Bela sudah mulai memikirkan lendamping hidup. Sebenarnya Bela takut, takut mendapatkan suami seperti ayahnya. Suatu hari, ia mengikuti tabligh akbar seorang ustadz terkenal. Disana di bahas tentang suatu hal, bahwasannya “Wanita baik baik untuk laki laki yang baik, begitu sebaliknya”. Ucap ustad itu. Bela menyimak dengan penuh semangat. “Menunggu jodoh, jangan dihabiskan untuk berbuat hal sia-sia, tingkatkan ibadah! Gapai cinta Allah! Maka jika Allah sudah cinta, apapun akan Allah beri untuk kita! InshaaAllah…” Lanjut pak ustadz.
Bela mulai memikirkan penampilannya. Ia pun ingin sekali mengenakan jilbab sesuai perintah Allah dalam Al Qur’an, namun masih sebatas keinginan.
———
Ibu Bela sering sakit, beberapa kali masuk Rumah sakit dan Bela sibuk kerja. Akhirnya, dengan penuh keyakinan, Bela memilih keluar dari pekerjaannya dan mulai merintis usaha di rumah agar bisa selalu ada di samping ibunda tercinta.
Bela membuka kelas untuk belajar bahasa inggris baik untuk pelajar, mahasiswa atau umum. Usahanya pun terbilang sukses.
——
Suatu hari Fadlan berkunjung ke tempat Bela untuk mengantarkan adiknya les bahasa inggris. Adiknya yang masih SMP itu, selalu bercerita tentang Bela pada Fadlan.
“Miss Bela itu cantik , pinter dan baiiiik banget loh mas, Ica jadi gampang belajarnya. Miss Bela juga sabar banget, ada temen Ica yang males dan bandel tapi Miss Bela malah ramah dan semangat terus ngajarnya, sampai-sampai temen Ica itu jadi nurut loh mas!” Begitulah adik Fadlan bercerita menggambarkan Bela.
Untuk yang pertama kalinya Fadlan bertemu Bela. Matanya menunduk tak berani menatap sosok wanita cantik berambut panjang sebahu itu di hadapannya. Bela sendiri mengerti kalau pria yang di depannya berusaha menjaga pandangannya.
——-
2 bulan berlalu, sebuah keyakinan yang entah datangnya darimana, membuat Fadlan ingin melamar Bela. Dengan bermodal keyakinan dan restu orangtua, Fadlan menemui ibu Bela dan melamar Bela.
Bela pun menerimanya.
——–
Fadlan memberitahukan kabar gembira ini kepada teman-teman kampus dan organisasinya. Fadlan masih menempuh pendidikan jenjang S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Beberapa dari temannya mengenal Bela, karena itu mereka kaget ketika Fadlan akan menikah dengan wanita yang memakai jilbab pun tidak.
Kontras sekali dengan Fadlan. Lelaki yang selalu bisa menjadi sumber inspirasi menuju surga.

——-
“Mas, kenapa memilihku?”
Tanya Bela setelah acara pernikahan selesai.
“Allah yang memilihkanmu untukku..” Jawab Fadlan sambil tersenyun.
Bela mengerutkan alis dan tersenyum manis menatap lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.
“Aku bersyukur Allah menghadirkan sosok sepertimu. Aku akan belajar menjadi istri yang baik dan solehah, bimbing aku untuk mencari cinta Allah” Ucap Bela sambil memeluk Fadlan.
“Allah memang tak salah memilihkanmu untuk menjadi istriku sayang, semoga aku mampu menjadi imam yang baik untuk dunia dan akherat.”

Diposkan pada Cerpen

Aku untukmu, Palestina

“Aku ingin ikut program pengiriman tenaga medis ke Palestina.”
Ucap gadis dengan hijab warna kuning langsat itu.
“Apa? Kamu jangan gila, Helda!”
Bentak seorang pria di depannya. Helda diam, dia berusaha mencerna dan mengerti respon lawan bicaranya malam itu. Helda sebenarnya sudah menduga akan ada respon yang mungkin tak sesuai keinginannya itu. Ya, seperti yang media sosial bahas akhir-akhir ini tentang 2 negara yang sedang mengalami konflik hebat, Palestina dan Israel. Semua media membahas tentang peperangan yang terjadi, tentang senjata apa dan menjatuhkan korban berapa, tentang gambar-gambar serta video-video kekerasan tanpa sensor. Bagaimana mungkin dokter muda seperti Helda punya keinginan untuk pergi membantu para korban perang di jalur Gaza, Palestina sana? Sedangkan kondisi di sana sangat “extreme”. Letupan bom kapan saja terdengar oleh warga Palestina, sarana penerangan dan perairan terganggu, obat-obatan dan bahan makanan pun minim, kenapa Helda ingin meninggalkan zona nyaman di Indonesia dan pergi ke sana?. Orang-orang terdekat Helda yang mengetahui rencananya itu hampir tak menyetujuinya, kecuali ibunda tercintanya.
“Sampai kapan kita bisa menghirup udara di dunia ini sesungguhnya semua itu sudah tertulis di lauh mahfuzh ibu ridho kamu pergi ke sana untuk membantu saudara kita yang sejatinya sangat membutuhkan tanganmu untuk meringankan rasa sakit yang mereka derita nak! Dan ibu yakin, jika masih hidup,ayahmu pun akan meridhoinya. Berangkatlah!”
Pesan sang ibu saat Helda mengutarakan niatnya. Tapi sayangnya pria yang ada di hadapannya tak memiliki jawaban yang serupa dengan sang ibunda tercinta.
“Kamu pikir lagi dong Hel, akhir tahun Ini kita bakal nikah. Kalau kamu ke Gaza, ahh.. Aku tidak bisa membayangkannya!”
“Rif, kalau kita berjodoh pasti kita akan menikah. Tolong mengerti, aku ingin bisa membantu mereka! Aku bersyukur ada kesempatan untuk ke sana, lagipula aku tidak sendirian banyak teman-teman dokter yang ikut juga.”
“Tapi Hel, ahh… Sudahlah! Berapa lama kamu di sana?”
“Cuma 3 bulan programnya. Nanti akan ada lagi gelombang pengiriman berikutnya, jadi bergantian dengan sukarelawan lainnya.”
“Apa?? Kamu bilang cuma? Hei 3 bulan itu lama!” Protes Arif.
Helda hanya tersenyum.
“Kamu ini keras kepala ya Hel, lalu kapan daftar program itu? Kapan nanti berangkatnya?”
“Aku udah daftar 2 bulan yang lalu, udah lolos seleksi, berangkat minggu depan.”
“Apa??? Dan kamu nggak pernah cerita semua itu sebelumnya! Minggu depan kamu berangkat Hel?? Kamu ini benar-benar menjengkelkan ya! Aku nggak habis pikir!”
Helda memang berhasil membuat Arif terkaget-kaget saat itu. Tapi sesungguhnya bukan niat Helda melakukan itu. Helda kembali tersenyum dan membiarkan Arif sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

“Assalamu’alaikum.. Doakan Helda bu!”
Helda memeluk ibunya sambil tersenyum.
“Rif, jagain ibu ya.”
Arif menganggukan kepalanya.
“Jaga diri kamu di sana, dan kembalilah!”
“InshaaAllah..” Jawab Helda dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Helda segera bergegas pergi dengan rombongan lainnya, pesawat sudah menunggunya di dalam bandara sana.

“Ya Allah, jadikan kedua tangan ini bermanfaat bagi sesama.
Mudahkanlah segala urusan kami para tenaga medis Indonesia di sana.
Lindungilah ibu hamba di rumah, ikhlaskan hatinya bila hamba tak bisa lagi bersamanya.
Berikan Arif jodoh yang terbaik menurut engkau bila hamba tak digariskan dengannya.
Bahagiakan orang-orang yang hamba sayangi dimanapun berada.
Aamiin”

Pesawat terbang pun membawa Helda, sang dokter muda itu pergi ke tempat impiannya.

Diposkan pada Cerpen

Tuhan, Bolehkah dia jadi jodohku?

“Menikahlah dengan dia, dia kaya, kamu pasti bahagia.”
Aku hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan ibu. Sejatinya apakah kebhagiaan seseorang itu diukur dari segi berapa banyaknya uang di buku tabungannya kah? Atau dari berapa luas hektar tanah yang dimilikinya?. Kalau aku menanyakan hal ini pada ibu, sudah pasti beliau akan mengiyakan. Tapi aku malas berdebat dengan ibu. Aku sadar, ibu ingin aku cepat berumah tangga mengingat usiaku yang sudah mencapai 28 tahun. Teman-teman sebayaku di kampung hampir semuanya sudah menikah dan sebagian memiliki momongan. Aku juga sadar beban batin yang ibu tanggung, ketika tetangga menyebutku “perawan tua”. Sakitnya hati ibu, mungkin melebihi sakitnya hatiku yang bisa dibilang lebih memilih nggak terlalu perduli dengan komentar orang lain tentang diriku. Ibu selalu mengusulkan dia untuk jadi pendampingku. Dia yang acap kali datang ke rumah sembari membawa buah tangan untuk ibu, bapak dan adik di rumah. Dia yang selalu bercerita tentang bisnis peternakan ayam dan sapi ya yang dia bilang sukses. Dan dia yang tak pernah bisa merebut hatiku untuk mau menikah dengannya. Aku tidak tertarik dengan semua aset yang selalu ia banggakan di depan ibu dan bapak. Sama sekali aku tak merasa takut hidupku tak akan terjamin jika aku tidak dengannya.
“Nayang, kamu ini menginginkan suami yang seperti apa sebenarnya?”
Kini giliran bapak melayangkan pertanyaan.
Dan tiba-tiba saja bayangan Danar menerobos masuk ke dalam pikiranku. Ya! Aku ingin menikah dengan lelaki seperti Danar. Lancang sekali aku bilang begini, mana mungkin orang yang nyaris sempurna seperti Danar mau menikah denganku?! Jangankan menikah, meliriku pun sepertinya belum pernah.
“Pak, doakan saja Nayang ya, semoga Nayang bisa menemukan lelaki yang Inshaallah baik untuk agama, untuk keluarga, dan untuk Nayang.”
Bapak melompatkan pandangan ke arah ibu dan mereka saling bertatapan sejenak lalu menunduk seperti memikirkan sesuatu. Entahlah aku lebih memilih melangkahkan kaki menuju kamar, dan tidur.
***
Danar Fauzi! Iya Danar yang dulu pernah berhasil menyandang mahasiswa terbaik di kampus itu ada di hadapanku. Danar yang sudah 2 tahun lebih tidak aku lihat sosoknya itu kini berdiri melempar senyum termanisnya padaku. Ah.. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Aku yang merasa moment seperti ini tak mungkin ada di dalam sejarah perjalanan hidupku, kini aku merasakannya.
“Apa kabar Nayang?” Sapa Danar sembari mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka. Aku menyambut uluran tangannya, “baik..” Jawabku.
“Kamu, kamu menenalku Danar? Kita beda fakultas dulu.” Lanjutku.
“Aku kadang memperhatikanmu kok, kamu fakultas keperawatan kan? mahasiswi terbaik di fakultasmu dan mahasiswi yang aktif di organisasi lembaga dakwah kampus itu!” Jawaban Danar jelas membuat hati ini serasa terbang entah dibawa kemana oleh sang burung.
“Terimakasih… Danar.”
“Kamu mau menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku?”
Jleb!
Tentu saja aku MAU!! batinku.
“Mauuuuuuuuu!!!!!!”
“MAU APANYA KAK???”
gleg! Mataku terbuka mendengar suara tanpa rupa mengiang di telinga. Oh tidak setelah aku benar sadar aku mendapati adikku, Silva ada di sampingku dengan raut wajah kebingungan.
“Kakak ngigau ya?”
Tanya gadis yang umurnya 4 tahun di bawahku itu.
“Eng… Ngigau?”
Aku sedikit kebingungan, apa yang terjadi? Danar mana Danar.. Tadi dia di hadapanku. Tepat di hadapanku dengan jarak kira-kira 1 meter kurang.
“Kak Nayang, tuh dipanggil ibu suruh makan. Daritadi tidur nggak bangun-bangun jadi nyuruh Silva bangunin kakak!”
“Loh udah jam 6 sore ya.. Yaudah kakak mau maghrib dulu.”
Aku menarik nafas dalam dan berharap moment bersama Danar tadi menjadi nyata. Semoga Tuhan mengijinkan dia menjadi jodohku.