Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Tempat Tinggal di Jepang

 

Setelah sebelumnya kita membahas tentang program Careworker dan Nurse ( Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang dan Sekilas Tentang Careworker di Jepang ) sekarang saya akan sharing mengenai tempat tinggal para kandidat Nurse/Careworker nantinya di Jepang.

Setiap fasilitas tempat tinggal yang disediakan Rumah sakit maupun Panti lansia bermacam-macam, ada yang menyediakan asrama, apartement, atau rumah kontrakan yang bisa dihuni oleh 3 atau 4 orang. Harga sewanya berbeda-beda, dan yang paling murah biasanya asrama.

Saya sendiri selama bekerja, tinggal di asrama putri milik Rumah sakit. Panti lansia tempat saya bekerja letakanya bersebalahan dengan Rumah sakit dan masih satu institusi. Asrama yang terdiri dari 4 lantai dengan jumlah  13 kamar setiap lantainya ini khusus diperuntukan bagi mereka yang bekerja di Rumah sakit atau Panti lansia, baik perawat—dokter—ahli gizi—maupun profesi lainnya.

Terkadang mahasiswa yang sedang praktek di Rumah sakit maupun panti lansia pun menyewa asrama untuk sementara. Biaya sewa perbulannya langsung ditarik dari gaji bulanan sebesar 8000 yen. Biaya ini tergolong cukup murah dengan fasilitas ruang asrama yang lumayan luas dan terisi perabotan di dalamnya.

Pertama kali datang ke asrama, di dalamnya  sudah tersedia lemari es, microwave, AC, meja belajar, rak buku, lemari untuk pakaian, bed lengkap dengan selimut, kotatsu (penghangat kaki untuk musim dingin) dll. Untuk kamar mandi dan dapur, terdapat di dalam. Untuk mencuci pakaian, setiap lantai disediakan 3 buah mesin cuci lengkap dengan mesin pengeringnya.

Tetapi tidak semua asrama juga menyediakan fasilitas seperti ini. beberapa kawan saya, perabotan asramanya harus beli sendiri. Lalu ada juga yang menempati apartemen, tentu saja saja biayanya jauh lebih mahal bahkan 2 atau 3 kali lpat biaya asrama. Tapi biasanya satu apartemen ditempati oleh 2 atau 3orang jika kamarnya luas. Harga sewa apartemen juga bermacam-macam tergantung kota, seberapa dekat dengan stasiun kereta, luasnya apartemen dll. Harga sewa termurah  berkisar mulai dari 30.000 yen, itupun untuk kamar single (one room). Untuk yang disediakan tempat tiggal berupa rumah kontrakan, disi 3-4  orang dengan biaya sewa hampir sama dengan apartemen.

Untuk mengetahui tempat tinggal kita selama bekerja nantinya dimana, kita bisa melihat di surat kontrak kerja. Pihak Rumah Sakit atau panti lansia akan menerangkan mengenai fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk kita, termasuk tempat tinggal.

 

Iklan
Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang

ilustrasi-perawat-periksa-tangan-tekanan-darah_20150611_141222

Program EPA lainnya selain careworker adalah nurse. Seperti halnya careworker, bagi yang ingin mengikuti program nurse, harus mereka yang berlatar belakang pendidikan keperawatan baik Diploma 3, Sarjana keperawatan, maupun yang sudah menempuh pendidakan profesi Ners. Berbeda dengan careworker, untuk yang ingin mendaftar sebagai nurse yang nantinya akan ditempatkan di Rumah sakit, mereka wajib memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun setelah kelulusan atau telah lulus S1 keperawatan + Ners dan memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun. Dengan kata lain, profesi ners yang ditempuh selama 1 tahun tersebut sudah bisa dijadikan sebagai syarat pengelaman kerja.

Di Jepang sendiri, nurse atau dalam bahasa Jepang disebut Kangoshi, masih menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dari segi kesejahteraan ekonomi, tentunya bagi yang sudah lulus ujian negara perawat. Ujian perawat ini diadakan setiap tahun, biasanya di bulan februari. Beda halnya dengan ujian careworker yang bisa diikuti ketika sudah ada pengalaman kerja lapangan minimal 3 tahun. Perawat dari Indonesia pun demikian, mereka setiap tahunnya mengikuti ujian negara perawat selama kontrak kerja 3 tahun untuk mendapatkan lisensi level nasional atau Registrasi Nurse (RN). Jika dalam waktu 3 tahun atau 3 kali ujian belum berhasil mengantongi “Registrasi Nurse”, bisa memperpajang kontrak satu tahun lagi sesuai kebijakan dan kesepakatan pihak Rumah sakit dengan pekerja,  jadi total kontrak 4 tahun. Perpanjangan kontrak 1 tahun lagi bagi mereka yang belum lulus  juga berlaku untuk program careworker.

Akan tetapi, tigkat kelulusan ujian perawat level nasional ini masih rendah bagi perawat Indonesia khususnya. Karena memang menurut hampir semua teman-teman sejawat mengatakan soal-soalnya itu njlimet, alias sulit. Jangankan bagi perawat Indonesia, bagi perawat Jepangnya pun dirasa kesulitan ketika menghadapi soal-soal ujian negara tersebut.

Oleh sebab inilah, perawat Indonesia yang di Jepang diberikan kesempatan untuk mengikuti Ujian asisten perawat atau dalam bahasa Jepangnya disebut Junkanggo (ujian level tingkat provinsi). Soal-soal ujian ini menurut teman-teman sejawat kita, lebih mudah daripada ujian negara kangoshi. Jika lulus ujian Junkanggo, menurut informasi dari teman sejawat kita, perawat Indonesia mendapatkan lisensi tingkat provinsi dan bisa menambah kontrak kerja selama 4 tahun lagi, jadi total keseluruhannya 7 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, mereka diharapkan untuk lulus ujian level nasioanl dan mengantongi gelar Registrasi Nurse atau mendapatkan lisensi tigkat nasional di Jepang.

Untuk menjadi Junkanggo atau asisten perawat, orang Jepangnya sendiri harus menempuh pendidikan formal untuk asistan perawat selama 1 tahun. Kalau di Indonesia, mungkin setara dengan SPK (Sekolah Kejuruan Perawat).  Tugasnya bagaimana? Secara garis besar, tugas seorang asisten perawat adalah melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perintah perawat yang telah memiliki lisensi tingkat nasional. Mereka tidak bisa semaunya memberikan asuhan keperawatan tanpa ijin atau perintah dari perawat.

Nah, lalu bagaimana dengan perawat Indonesia yang belum memiliki lisensi sebagai asisten perawat maupun lisensi perawat nasional? mereka belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti perawat Jepang. Tindakan yang bisa dilakukan antara lain adalah memberikan kebutuhan nutrisi pasien secara oral, mobilisasi, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, merawat personal hygiene : menjaga kebersihan mulut dan gigi, badan, rambut, kuku dll, mencuci peralatan medis, dan lain sebagianya. Disini skill keperawatan belum terpakai. Setelah lulus ujian asisten perawat, baru bisa melakukan tindakan keperawatan, namun masih dibawah perintah perawat.  Sedangkan jika telah lulus ujian perawat tingkat nasional, maka kedudukan, tugas, hak, serta tanggung jawabnya disetarakan dengan perawat Jepang pada umumnya dan bisa bekerja di Jepang sampai batas waktu yang tidak ditentukan, keculai batas usia pensiun.

Jika sudah mengantongi Registrasi Nurse lalu kembali ke Indonesia, Insya Allah akan sangat bermanfaat sekali. Akan banyak peluang untuk turut andil mempertahankan maupun memajukan pelayanan-pelayanan Rumah sakit di Indonesia bagi yang ingin terus melanjutkan karir di bidang keperawatan. Karena tidak sedikit, teman-teman sejawat yang kembali ke Indonesia, mereka banting setir ke profesi yang menggunakan skill bahasa Jepang. Seperti misalnya : menjadi penerjemah bahasa Jepang-Indonesia, bekerja di perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, staf pengajar bahasa Jepang, wirausaha, dan masih banyak lainnya.

So, bagaimana teman-teman? Apakah kalian berminat mengikuti program ini? terus pantau infonya di website resmi BNP2TKI yaa… ( www.bnp2tki.go.id )

Semoga sukses!

Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Careworker di Jepang


Kalau dii tulisan Jadi Perawat di Jepang? Why Not! saya membahas tentang alur cara pendaftaran program perawat ke Jepang secara umum, kali ini saya pengen berbagi pengalaman ketika saya bekerja sebagai Careworker di Jepang. Karena banyak email yang masuk setelah mereka membaca tulisan saya sebelumnya dan menanyakan program ini, jadi sepertinya saya share (lagi) saja ya.. 

Jadi, untuk perawat Indonesia yang ingin mengikuti program Careworker salah satu syaratnya saat ini, tetap harus mereka yang mempunyai basic pendidikan keperawatan baik diploma, sarjana maupun yang sudah profesi Ners. Sebenarnya di Jepang sendiri, mereka yang bekerja sebagai Careworker tidak harus yang berpendidikan di bidang keperawatan, banyak orang Jepang yang lulus SMA bisa melamar kerja sebagai Careworker. Tetapi, di Jepang juga ada sekolah kejuruan khusus Careworker setelah lulus SMA dengan masa Studi 2 tahun.

Untuk yang menempuh pendidikan Careworker atau dalam bahasa Jepangnya “Kaigofukushishi” atau “Kaigoshi”, setelah lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi (lisensi) nasional sebagai Careworker. Sedangkan yang tidak punya basic Careworker, mereka diwajibkan mengikuti Ujian Negara baik tulis maupun praktek untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Careworker. Syarat untuk mengikuti ujian negara ini, salah satunya  diharuskan mempunyai pengalaman kerja minimal selama 3 tahun dibidang Careworker. Atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan  Careworker sebanyak minimal kurang lebih 450 jam belajar. Begitu juga dengan Careworker dari Indonesia, setelah mempunyai pengalaman kerja selama 3 tahun, nantinya akan mengikuti ujian negara untuk mendapatkan lisensi careworker. Ujian tulis dan praktek disamakan seperti orang Jepang. Sebelum menempuh ujian dan memperoleh sertifikat, statusnya masih sebagai kandidat careworker (Kaigofukushishi Kohousha)

Untuk perawat Indonesia yang baru lulus kuliah, bisa mendaftar langsung program Careworker ini. Tidak perlu ada pengalaman kerja di Rumah sakit ataupun fasilitas Kesehatan lainnya selama minimal 2 tahun seperti program Nurse. Nanti kita bahas program Nurse di tulisan berikutnya ya.

Secara penempatan tempat kerja, Careworker akan di tempatkan di fasilitas kesehatan untuk merawat orang-orang lanjut usia, atau biasa kita kenal dengan istilah panti lansia (Roujin Home) . Mereka yang disebut lansia adalah yang sudah mencapai usia minimal 65 tahun. Menurut data Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi (総務省) tahun 2013 tertulis jumlah penduduk di Jepang  mencapai 127,320,000 Jiwa.  Sebanyak 25 % dari jumlah itu adalah mereka yang berusia 65 tahun lebih. Dengan kata lain satu dari empat orang di Jepang adalah orang yang berusia lanjut. Bahkan diperkirakan tahun 2035, jumlah penduduk lansia di Jepang kurang lebih akan mencapai 34%. Mungkin hal ini tidak masalah jika tingkat presentase kalahiran atau anak di Jepang jumlahnya melebihi penduduk lansia.  Tetapi menurut data tahun 2013, jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun hanya mencapai 12.9% .

Melihat data ini, tentunya Jepang akan sangat membutuhkan tenaga Careworker baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya saja di panti lansia tempat saya bekerja, masih sangat membutuhkan sekali tenaga Careworker, tapi orang Jepang yang berminat di bidang ini masih sedikit. Mungkin inilah salah satu sebab Jepang bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ini. Permintaan jumlah Careworker dari Indonesia jauh lebih banyak dari permintaan Nurse. Karena memang, jumlah kebutuhan perawatan lansia di Jepang sangat tinggi.

Angkatan saya yang berangkat bulan Mei tahun 2012 lalu, jumlah keseluruhannya 101 orang. 29 adalah Nurse, dan Careworker 72 orang. Tahun 2013 dari jumlah keseluruhan 156, Careworker berjumlah 108 orang. Tahun 2014 bertambah lagi menjadi 146 orang dari jumlah keseluruhan 187 orang, sisanya yang mengikuti program Nurse. Dan diperkirakan akan terus bertambah jumlah permintaan Careworker dari tahun ke tahun.

Bukan hanya dari Indonesia saja, pemerintah Jepang juga bekerjasama dengan Filipina dan Vietnam, namun sampai saat ini Indonesia masih menduduki peringkat pertama jumlah pengiriman Careworker maupun Nurse.
Secara umum, tugas Careworker adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mengacu pada keperawatan gerontik. Namun disini, Caerworker tidak bisa melakukan tindakan klinis keperawatan. Loh, kita kan di indonesia nurse / perawat, mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi), dan mempunyai sertifikat uji kompetensi perawat?? Eeeitss.. memang benar, akan tetapi program yang kita geluti di Jepang adalah Careworker, bukan Nurse. Untuk di panti lansia, yang bertugas sebagai nurse masih dari orang Jepangnya sendiri. Jepang dan Indonesia belum membuka program baru untuk penempatan nurse di panti lansia. Nurse dari Indonesia masih ditempatkan di area Rumah sakit saja.

Saya sendiri mengikuti program Careworker. Di sini peran dan tugas saya tidak sama dengan perawat maupaun profesi kesehatan lainnya. Semuanya sudah memiliki tugas masing-masing, tapi tentu saja kita juga berkolaborasi dalam hal pelayanan kesehatan. Di tempat saya, careworker tidak bisa melakukan tindakan keperawatan seperti misalnya, melakukan injection, memasang infus, memasang NGT, merujuk pasien ke RS,  dan tindakan  keperawatan lainnya yang tentunya atas advice dari Dokter. Bahkan di tempat kerja saya, untuk pemeriksaan TTV/Tanda Tanda Vital seperti mengukur tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan tetap dilakukan oleh perawat. Dan sebaliknya, perawat boleh melakukan tugas Careworker jika dibutuhkan.

Jadi tugas Careworker bagaiamana? Tugasnya antara lain adalah membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi secara oral (secara langsung dari mulut) , memberikan obat oral atas anjuran perawat, dukungan personal hygiene : kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan anggota badan lainnya seperti kebersihan kepala, rambut, kuku, mata dan telinga, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur,  mempertahankan kesehatan lansia, mencegah penurunan kesehatan lansia, misal: ketika ada lansia yang lumpuh dan perlu perawatan serta bantuan pemenuhan kebutuhan secara total, Careworker mempunyai peran untuk bisa mencegah terjadinya dekubitus (Kerusakan/kematian kulit akibat adanya penekanan secara terus menerus).  Pemenuhan rasa aman dan nyaman juga tak kalah pentingnya, banyak sekali lansia mengalami disorientasi, penurunan kemamapuan dalam mengingat atau Demensia, sehingga mereka akan mudah panik, cemas, dan gelisah. Careworker dituntut untuk memahami hal ini, dan harus memiliki seni dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan Demensia. Careworker juga wajib melakukan dokumentasi, membuat perencanaan, dan Masih banyak lagi tugas careworker yang lainnya.

Jadi kasarnya nih, tugas Careworker bukan hanya sekedar nyuapin, mandiin, bantu BAK/BAB, angkat-angkat pasien melulu.. hehe.. masih banyak tugas, peran, dan kewajiban dan tanggung jawab lainnya. Bagi Careworker dari Indonesia, ketika sudah mendapatkan lisensi careworker yang bisa diperoleh setelah pengalaman kerja selama 3 tahun serta lulus ujian negara, tugas  peran, serta tanggung jawabnya pun akan bertambah dibanding ketika mereka belum mengantongi sertifikat kompetensi. Tetapi, hal ini juga tergantung kebijakan tempat kerja. Ada yang walaupun belum memiliki sertifikat, tetapi tugasnya sudah sama seperti Careworker Jepang, dan ada juga yang masih dianggap sebagai peserta magang, jadi tanggung jawab pekerjaan misalnya pendokumentasian tidak dibebankan kepadanya.

Kalau sudah mendapat lisensi, Careworker dari Indonesia bisa bekerja sampai waktu  yang mereka inginkan. Mereka bisa memeperpanjang kontrak kerja  menjadi 5 th,10 th, 15 th , ataupun sampai batas umur pensiun. 

Yaaa.. demikian sedikit cerita yang saya dapat dari Negeri sakura, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Untuk teman sejawat yang sedang/akan mengikuti program ini, semoga diberikan kelancaran… ganbatte! Oke? Oke 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan, Tulisan bebas

Serba Serbi Ujian dan Kegalauannya

Ternyata saya tidak sendiri! Yeay.. banyak dari teman-teman seangkatan terdiagnosa mengidap  kegalauan akut pasca Ujian kompetensi caregiver (perawat lansia) atau biasa disebut ujian Negara tanggal 24 januari 2016 kemarin. Dan sepertinya berpotensial menjadi galau kronis sampai tiba saatnya pengumuman di akhir maret nanti. *Jika galau berlanjut, hubungi dokter!

Sekilas tentang uji kompetensi/Ujian Negara Jepang

Ujian kompetensi untuk sertifikasi yang terdiri dari 120 soal tersebut, tidak hanya diikuti oleh caregiver asing yang sebelum lulus ujian, statusnya masih menjadi pemagang saja. Seluruh caregiver Jepang yang belum mendapat sertifikat pun mengikutinya, mulai dari yang berusia masih muda sampai yang lewat dari kata belia. Serius loh, tahun lalu saja yang berusia 61 tahun keatas, tingkat kelulusannya mencapai 25%, keren ya semangatnya. Nah, mbah-mbah kita di rumah masih pada minat ngga coba ikutan beginian? 😀

Baik warga asing maupun orang Jepangnya sendiri, semua  mengerjakan jenis soal yang sama. Tidak ada tuh toleransi jenis soal berbahasa Indonesia, jawa, sunda, btak, madura, ngapak, yang dikhususkan untuk para peserta dari Indonesia. Hanya saja khusus untuk warga asing, waktu pengerjaan soal sedikit lebih panjang. Jaman senior angkatan pertama dulu, soal ujian maupun waktu disamaratakan dengan orang Jepang juga,mungkin hal tersebut berasa kelawahan bagi kita yang pas lahir ngga langsung bisa bilang “Arigatou gozaimasu” (Terimakasih) ke bidan atau dokter kandungan yang membantu persalinan. Karena faktor tersebut, para senior yang baik hati mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar mendapat perpanjangan waktu pengerjaan soal ujian khusus bagi warga asing, dan mencantumkan furigana diatas deretan huruf kanji yang bentuknya kadang ngajak ribut itu. Tau sendiri, bhasa Jepang termasuk kedalam bahasa tersulit di dunia. Belajar bahasa Jepang bukan hanya sekedar menghapalkan kosakata lalu bicara, bukan. Belajar bahasa Jepang, berarti harus mau berlelah-lelah berlatih menulis, membaca, dan mencerna arti huruf-huruf hiragana, katakana, dan kanji. Dan kanji yang paling banyak jumlah dan rumit penulisannya dibandingkan hiragana maupun katakana, kalau dibandinginnya dengan memahami wanita mungkin kanji belum seberapa, mungkin yaa…  (Naaahh.. ini urusan para laki… peace :D )

Masa sih kanji sulit? Well, tidak semua orang (mungkin) merasa kesulitan menulis, membaca ataupun menterjemahkannya. Penjelasan gampangnya begini, misal kita tau arti (dalam bahasa Indoneisa)  dari kosakata dalam bahasa Jepang jika ditulis dengan huruf hiragana maupun katakana, tapi ketika ditulis dengan huruf kanji, kita malah bertanya-tanya.. “Ini apa ya dibacanya…. Artinya apa yaa..”. Yang paling parah, kalau ditulis pake hiragana ngga mudeng, pake kanji apalagi! Ambyar byar… kalau kata orang Jawa. Etapi ya, Orang Jepangnya sendiri pun mengakui, ada saat dimana mereka juga tidak bisa membaca huruf kanji maupun menuliskannya loh. Hehe..

Untuk warga asing, Ujian kompetensi ini dilakukan setelah 3 tahun memiliki pengalaman kerja di fasilitas kesehatan lansia. Jadi selama tiga tahun masa magang, kita juga belajar untuk persiapan ujian tersebut (walau pada kenyataannya, belajarnya pas deket-deket ujian doang 😀 ). Bagi yang lulus ujian kompetensi ini, mereka akan diangkat menjadi karyawan tetap dan bisa bekerja di Jepang dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja, pendapatanpun disetarakan dengan karyawan Jepang lainnya. Tidak jarang, para senior yang sudah memiliki sertifikat caregiver, mereka mengajak keuarganya tinggal di Jepang. Atau banyak juga dari teman-teman yang cinlok (itu loh bahasa gaul jaman baheula… cinta lokasi), memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga kecil di negeri sakura ini, indah ya.. apalagi pas foto keluarga dengan backround bunga sakura 😀 (bahas begini, kaum jomblo mulai kembang kempis).

Lalu bagiamana yang tidak lulus? Beberapa tempat kerja mengijinkan untuk mengikuti ujian kompetensi di tahun berikutnya, mereka memberi kesempatan satu tahun lagi. Namun ada juga yang hanya memberikan satu kali kesempatan saja. Dengan kata lain, bagi yang belum beruntung di ujian pertama, yaa harus pulang. Terserah mau pulang ke orangtua atau ke rumah mertua.

Nilai kelulusan uji kompetensi setiap tahunnya berubah-ubah. Kadang standart nilai kelulusannya tinggi hingga mencapai 82, tapi 2 tahun terakhir turun menjadi 68. Entahlah tahun ini berapa… yang jelas rasanya saya seperti menjadi korban PHP. Udara jernih di Jepang, mendadak  berasa kena polusi kendaraan dari knalpot yang asapnya kayak wedus gembel kalau mendengar teman-teman bahas masalah ujian dan segala hal yang berkaitan dengannya. Apa perlu saya menulis di selembar kertas, “Please jangan bahas ujian!” dengan spidol merah dibold, lalu ditempelkan di setiap sudut sejauh mata memandang?. Akhir-akhir ini kalau ditanya tentang ujian, rasanya pertanyaan tentang ujian lebih horor daripada ditanya kapan nikah!

Bagi yang memutuskan untuk pulang ke Indonesia tercinta, tentunya ada  keinginan untuk  pulang dengan membawa sertifikat caregiver, right? Entah akan berguna atau tidak nantinya di Tanah Air (yaa..  kali aja berguna untuk daftar kerja,atau daftar ke KUA gitu! #Abaikan). Tapi kalaupun selembar kertas ‘pengakuan’ itu belum bisa diperoleh, bukan berarti tidak kompeten/ bodoh loh gaess… saya sih percaya bahwa semua orang itu terlahir pandai, kebiasaanlah yang menentukan bisa tidaknya untuk memeliharanya. Setuju? Sudahlah setuju saja…. #YeeMaksa!

Diposkan pada All About Japanese

Kyoto Prayer Room

IMG_3603[1]
Tempat Wudhu
Kyoto merupakan salah satu kota besar di Jepang yang memiliki beragam macam tempat wisata yang sangat menarik di kalangan turis maupun warga Jepangnya sendiri. Kota yang di dalamnya terdapat banyak sekali peninggalangan bersejarah ini akan padat oleh para wisatawan dalam dan luar negeri pada hari-hari libur tertentu khususnya.

Sering juga saya menjumpai warga Indonesia yang berkeliling Kyoto atau sekedar bertemu di Kyoto Station. Berbicara tentang Kyoto Station, saat ini tersedia tempat ibadah sholat untuk orang muslim. Jika sebelumnya tempat sholat sekitar Station hanya berada di Osaka Station dan Namba City, sekarang yang berwisata ke Kyoto, tidak usah lagi kerepotan nyari tempat sholat. Alhamdlillah..

Prayer room ini berada di gedung Kyoto tower lantai 3. Setelah pergi ke lantai 3, langsung saja menemui bagian informasi. Petugasnya sangat ramah dan terlihat begitu familiar dengan orang asing.,  Beliau juga sedikit bisa berbahasa Indonesia (sekedar “Terimakasih”, “Sama-sama”, hehe ). Tapi seius loh, beliau jago banget berbicara dengan bahasa Inggris.

Yang menarik lagi adalah, papan pengumuman di depan ruang sholat tertulis juga dalam versi bahasa Indonesia selain bahasa Jepang, Arab, Inggris dan Korea. Kalau di Osaka station atau Namba City, belum tertulis versi bahasa Indonesianya. Kata petugasnya, bahasa Indoensia diterjemahin oleh temannya yang kebetulan orang Indonesia yang mengerti bahasa Jepang juga tentunya.

Tempat sholat, sudah tersedia sajadah
Tempat sholat, sudah tersedia sajadah

Oiya, selesai melapor ke petugas di bagan informasi, lalu kita mengisi formulir, hanya menuliskan nama dan asal negara saja. Lalu petugas yang akan mengantarkan kita ke tempat sholat. Disini waktu sholatnya tidak ditentukan oleh petugas, misal seperti di Osaka station kita dikasih waktu 20 menit, kalau di Kyoto seselesainya mungkin ya. 😀

Jangan lupa, jaga kebersihan juga ya. Di dekat tempat wudhu disediakan 2 lap untuk mengelap sekitar tempat wudhu yang basah. Tempat wudhu dan tempat sholat berada di satu ruangan, jadi jangan sampai air bekas wudhu kemana-mana. 😀

Tempat sholat diisni terbilang masih sangat baru, ketika saya kesana, petugas juga bertanya darimana saya tau informasi tempat sholat tersebut, lalu saya jawab dari teman-teman yang menginformasikan melalui media sosial. Lalu petugasnya bilang lagi suruh menyebarkan informasi ini. Dan semoga lewat tulisan singkat ini , makin banyak yang tau lokasi tempat sholat di sekitar Kyoto. Semoga bermanfaat 🙂

Prayer Room
Prayer Room
2015-09-22 16.34.53
Di Depan Pintu Ruang Sholat
Kyooto Tower Building
Kyoto Tower Building
Diposkan pada All About Japanese, Tulisan bebas

#PengajianIdulAdha1436H –  “Membangun Kembali Peradaban Islam Melalui Konsep Pendidikan Anak Ideal Berdasarkan Al Quran.”

Ringkasan materi kajian :

Peradaban dibagi menjadi dua macam, peradaban yang dilihat dari sisi materi (Seperti sarana dan prasarana) dan ada juga yang dilihat dari sisi non materinya (Seperti Ilmu, Akhlak, Budaya dll).

Allah memerintahkan umat-Nya untuk mencari (mengejar) akherat, namun untuk mencapainya, kita terlebih dahulu melewati dunia. Melalui dunia, banyak sekali pahala yang bisa kita peroleh. Amal soleh bisa kita kerjakan melalui Harta, Anak, Istri, Keluarga, Jabatan dll.
“Sebaik-baik dunia adalah manakala berada di tangan orang yang soleh.”
Seseorang yang soleh, jika mendapatkan harta ia akan menggunakannya dalam hal-hal kebaikan, seperti misalnya sedekah, membantu sesama, membangun fasilitas-fasilitas yang bermanfaat dan masih banyak lagi cara mereka menggunakan harta kekayaan untuk mendapatkan pahala atau memupuk amal kebaikan untuk tujuan akheratnya.
Begitu juga dengan anak. Anak juga sebagai harta yang sangat berharga, dimana darinya kita akan memperoleh banyak pahala jika kita mampu menjadikannya soleh dan solehah.
1. Anak sebagai perhiasan
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al Kahfi :46)
2. Anak sebagai aset akherat
Anak yang soleh akan mampu mendoakan orangtuanya baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal. Sehingga Allah akan mengampuni dosa-dosa orangtuanya. Ikatan yang tidak akan pernah terputus adalah ikatan keluarga.
“(Yaitu) Surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang soleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat – tempat mereka dari semua pintu.”

(QS. Ar-Ra’d : 23)
3. Fitnah ( Mencari pahala dari fitrah anak dan harta).
Seorang anak bisa menjadi ladang pahala bagi orangtuanya manakala ia berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang soleh, namun bisa menjadi ladang dosa apabila orangtua tak menjaga amanah seorang anak
“Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

(QS. Al-Anfal : 28)

-Kunci sukses pendidikan seorang anak adalah kesabaran orangtua.

– Kesamaan Visi/misi ataupun doa orangtua untuk anak.

-Faktor lingkungan, pendidikan, tarbiyah lebih berpengaruh dari faktir genetik.

DR. Atabik Lutfi, MA (Ketua Dai DKI Jakarta)

Pengajian Idul Adha KMII KANSAI

Kyoto,

Selasa, 22 September 2015
#IdulAdha1436H

Diposkan pada All About Japanese

Ramen Halal Kyoto “Ayam – Ya”

Ayam-Ya
Ayam-Ya : Ramen Halal Kyoto
Ramen adalah salah satu jenis makanan mie berkuah yang begitu banyak dijual di Jepang. Banyak sekali kedai Ramen bertengger di pinggir jalan, sekitar tempat-tempat wisata, stasiun kereta dan masih banyak lainnya. 

Walaupun Ramen banyak di jual di Jepang, ternyata ramen ini dulunya berasal dari Negara Cina, di Lan Cao. Hanya saja karena orang-orang Jepang pandai mengolah mie dan menghasilkan rasa yang enak, jadilah ramen diidentikkan dengan Jepang dan banyak yang beranggapan bahwa ramen berasal dari Jepang. 

Di Indonesia sendiri, ramen sudah begitu terkenal dikalangan pecinta mie khususnya. Walaupun banyaknya kedai ramen di Jepang dengan rasa yang beraneka ragam, bagi seorang muslim harus berpikir dua kali untuk ikut mencicipinya. Pasalnya hampir semua jenis ramen mengandung bahan-bahan yang dilarang untuk dikonsumsi.

Di salah satu kota besar seperti Kyoto, Sudah tersedia kedai ramen halal. Bagi anda yang sedang melancong ke Kyoto, jangan khawatir, anda bisa mencicipi Ramen halal di Kyoto. Kedai ramen bernama “Ayam-Ya” ini tidak jauh dari Kyoto Station, cukup dengan jalan kaki sekitar 10 menit dari station.

Alamat lengkapnya : UR都市機構塩小路アパート 〒600-8238 Kyōto-fu, Kyōto-shi, Shimogyō-ku, Mikatakonyachō, 3 UR都市機構塩小路アパート

Google Maps : http://goo.gl/maps/KH0SA

Hari kerja : Senin – Sabtu (Hari minggu dan hari libur nasional, libur).

Jam kerja : Siang pukul 11:30 – 14:30 JST , Malam pukul 18:00-22:00 JST

Halal Label
Halal Label

Spicy Ramen
Spicy Ramen
Selain itu, di kedai ini juga menyediakan tempat ibadah sholat.

Prayer Room
Prayer Room

2015-09-19 19.56.26
Tempat Wudhu

2015-09-19 19.56.20
Tempat Sholat
Untuk teman-teman muslim yang mencari makanan halal jenis ramen, tempat ini satu-satunya yang tersedia di sekitar Kyoto station. Saat memasuki kedai ramen ini, kita akan disambut dengan pelayan asli orang Jepang dan juga dari Indonesia, jadi jangan khawatir kalau kita belum bisa menggunakan bahasa Jepang untuk pemesanan, kita bisa menggunakan bahasa Indonesia. Selamat menikmati ramen di Negeri sakura 🙂