Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Tempat Tinggal di Jepang

 

Setelah sebelumnya kita membahas tentang program Careworker dan Nurse ( Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang dan Sekilas Tentang Careworker di Jepang ) sekarang saya akan sharing mengenai tempat tinggal para kandidat Nurse/Careworker nantinya di Jepang.

Setiap fasilitas tempat tinggal yang disediakan Rumah sakit maupun Panti lansia bermacam-macam, ada yang menyediakan asrama, apartement, atau rumah kontrakan yang bisa dihuni oleh 3 atau 4 orang. Harga sewanya berbeda-beda, dan yang paling murah biasanya asrama.

Saya sendiri selama bekerja, tinggal di asrama putri milik Rumah sakit. Panti lansia tempat saya bekerja letakanya bersebalahan dengan Rumah sakit dan masih satu institusi. Asrama yang terdiri dari 4 lantai dengan jumlah  13 kamar setiap lantainya ini khusus diperuntukan bagi mereka yang bekerja di Rumah sakit atau Panti lansia, baik perawat—dokter—ahli gizi—maupun profesi lainnya.

Terkadang mahasiswa yang sedang praktek di Rumah sakit maupun panti lansia pun menyewa asrama untuk sementara. Biaya sewa perbulannya langsung ditarik dari gaji bulanan sebesar 8000 yen. Biaya ini tergolong cukup murah dengan fasilitas ruang asrama yang lumayan luas dan terisi perabotan di dalamnya.

Pertama kali datang ke asrama, di dalamnya  sudah tersedia lemari es, microwave, AC, meja belajar, rak buku, lemari untuk pakaian, bed lengkap dengan selimut, kotatsu (penghangat kaki untuk musim dingin) dll. Untuk kamar mandi dan dapur, terdapat di dalam. Untuk mencuci pakaian, setiap lantai disediakan 3 buah mesin cuci lengkap dengan mesin pengeringnya.

Tetapi tidak semua asrama juga menyediakan fasilitas seperti ini. beberapa kawan saya, perabotan asramanya harus beli sendiri. Lalu ada juga yang menempati apartemen, tentu saja saja biayanya jauh lebih mahal bahkan 2 atau 3 kali lpat biaya asrama. Tapi biasanya satu apartemen ditempati oleh 2 atau 3orang jika kamarnya luas. Harga sewa apartemen juga bermacam-macam tergantung kota, seberapa dekat dengan stasiun kereta, luasnya apartemen dll. Harga sewa termurah  berkisar mulai dari 30.000 yen, itupun untuk kamar single (one room). Untuk yang disediakan tempat tiggal berupa rumah kontrakan, disi 3-4  orang dengan biaya sewa hampir sama dengan apartemen.

Untuk mengetahui tempat tinggal kita selama bekerja nantinya dimana, kita bisa melihat di surat kontrak kerja. Pihak Rumah Sakit atau panti lansia akan menerangkan mengenai fasilitas-fasilitas yang tersedia untuk kita, termasuk tempat tinggal.

 

Iklan
Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Program Nurse ke Jepang

ilustrasi-perawat-periksa-tangan-tekanan-darah_20150611_141222

Program EPA lainnya selain careworker adalah nurse. Seperti halnya careworker, bagi yang ingin mengikuti program nurse, harus mereka yang berlatar belakang pendidikan keperawatan baik Diploma 3, Sarjana keperawatan, maupun yang sudah menempuh pendidakan profesi Ners. Berbeda dengan careworker, untuk yang ingin mendaftar sebagai nurse yang nantinya akan ditempatkan di Rumah sakit, mereka wajib memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun setelah kelulusan atau telah lulus S1 keperawatan + Ners dan memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun. Dengan kata lain, profesi ners yang ditempuh selama 1 tahun tersebut sudah bisa dijadikan sebagai syarat pengelaman kerja.

Di Jepang sendiri, nurse atau dalam bahasa Jepang disebut Kangoshi, masih menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dari segi kesejahteraan ekonomi, tentunya bagi yang sudah lulus ujian negara perawat. Ujian perawat ini diadakan setiap tahun, biasanya di bulan februari. Beda halnya dengan ujian careworker yang bisa diikuti ketika sudah ada pengalaman kerja lapangan minimal 3 tahun. Perawat dari Indonesia pun demikian, mereka setiap tahunnya mengikuti ujian negara perawat selama kontrak kerja 3 tahun untuk mendapatkan lisensi level nasional atau Registrasi Nurse (RN). Jika dalam waktu 3 tahun atau 3 kali ujian belum berhasil mengantongi “Registrasi Nurse”, bisa memperpajang kontrak satu tahun lagi sesuai kebijakan dan kesepakatan pihak Rumah sakit dengan pekerja,  jadi total kontrak 4 tahun. Perpanjangan kontrak 1 tahun lagi bagi mereka yang belum lulus  juga berlaku untuk program careworker.

Akan tetapi, tigkat kelulusan ujian perawat level nasional ini masih rendah bagi perawat Indonesia khususnya. Karena memang menurut hampir semua teman-teman sejawat mengatakan soal-soalnya itu njlimet, alias sulit. Jangankan bagi perawat Indonesia, bagi perawat Jepangnya pun dirasa kesulitan ketika menghadapi soal-soal ujian negara tersebut.

Oleh sebab inilah, perawat Indonesia yang di Jepang diberikan kesempatan untuk mengikuti Ujian asisten perawat atau dalam bahasa Jepangnya disebut Junkanggo (ujian level tingkat provinsi). Soal-soal ujian ini menurut teman-teman sejawat kita, lebih mudah daripada ujian negara kangoshi. Jika lulus ujian Junkanggo, menurut informasi dari teman sejawat kita, perawat Indonesia mendapatkan lisensi tingkat provinsi dan bisa menambah kontrak kerja selama 4 tahun lagi, jadi total keseluruhannya 7 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, mereka diharapkan untuk lulus ujian level nasioanl dan mengantongi gelar Registrasi Nurse atau mendapatkan lisensi tigkat nasional di Jepang.

Untuk menjadi Junkanggo atau asisten perawat, orang Jepangnya sendiri harus menempuh pendidikan formal untuk asistan perawat selama 1 tahun. Kalau di Indonesia, mungkin setara dengan SPK (Sekolah Kejuruan Perawat).  Tugasnya bagaimana? Secara garis besar, tugas seorang asisten perawat adalah melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perintah perawat yang telah memiliki lisensi tingkat nasional. Mereka tidak bisa semaunya memberikan asuhan keperawatan tanpa ijin atau perintah dari perawat.

Nah, lalu bagaimana dengan perawat Indonesia yang belum memiliki lisensi sebagai asisten perawat maupun lisensi perawat nasional? mereka belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti perawat Jepang. Tindakan yang bisa dilakukan antara lain adalah memberikan kebutuhan nutrisi pasien secara oral, mobilisasi, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, merawat personal hygiene : menjaga kebersihan mulut dan gigi, badan, rambut, kuku dll, mencuci peralatan medis, dan lain sebagianya. Disini skill keperawatan belum terpakai. Setelah lulus ujian asisten perawat, baru bisa melakukan tindakan keperawatan, namun masih dibawah perintah perawat.  Sedangkan jika telah lulus ujian perawat tingkat nasional, maka kedudukan, tugas, hak, serta tanggung jawabnya disetarakan dengan perawat Jepang pada umumnya dan bisa bekerja di Jepang sampai batas waktu yang tidak ditentukan, keculai batas usia pensiun.

Jika sudah mengantongi Registrasi Nurse lalu kembali ke Indonesia, Insya Allah akan sangat bermanfaat sekali. Akan banyak peluang untuk turut andil mempertahankan maupun memajukan pelayanan-pelayanan Rumah sakit di Indonesia bagi yang ingin terus melanjutkan karir di bidang keperawatan. Karena tidak sedikit, teman-teman sejawat yang kembali ke Indonesia, mereka banting setir ke profesi yang menggunakan skill bahasa Jepang. Seperti misalnya : menjadi penerjemah bahasa Jepang-Indonesia, bekerja di perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, staf pengajar bahasa Jepang, wirausaha, dan masih banyak lainnya.

So, bagaimana teman-teman? Apakah kalian berminat mengikuti program ini? terus pantau infonya di website resmi BNP2TKI yaa… ( www.bnp2tki.go.id )

Semoga sukses!

Diposkan pada Tulisan bebas

#Belajar

Sebab orang yang (mungkin) biasa kita andalkan untuk membantu segala macam permasalahan, sewaktu-waktu bisa jadi ia akan pergi dari sisi kita. Entah itu kepergian sementara atau menghilang selamanya. Barangkali ‘cuma’ karena alasan ini, mengapa aku selalu belajar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, semampuku-atas Ridha-Nya. Kalaupun di tengah jalan hati mulai terluka dan raga mulai tak berdaya, yang benar-benar mengerti akan datang menghampiri dan membersamai.

Berharap pada manusia pasti akan kecewa, kata sang bijak. Dan aku setuju, sebab rasa kecewa karena ‘harapan’ pernah berhasil membuatku jatuh berkali-kali. Satu-satunya dimana kita bebas menitipkan harapan, hanyalah kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala…

Kamar, 18 Oktober 2016

Diposkan pada Tulisan bebas

Surat Cinta Dari Negeri Sakura

image
Love lettet by Takenaka San

Surat menyurat di era cyber ini mungkin menjadi hal yang sangat langka. Surat menjadi alat komunikasi yang sangat tidak praktis, karena butuh waktu yang lumayan lama untuk menyampaikan pesan. Bayangkan, kita menulis… mengirimnya ke pos… menunggu beberapa hari… mending kalo nyampe ke alamat tujuan. Hihi (So, surat menyurat mengajari kita tentang kesabaran dong ya… :’) )

Padahal, surat menyurat ini dulunya menjadi alat komunikasi andalan loh. Sesuatu yang ditulis diatas kertas dengan tangan kita tuh rasanya lebih berkesan. Kita simpan, baca lagi, simpan lagi, begitu seterusnya. Bisa untuk kita kenang :’)

Kalau jaman sekarang, kita bisa menyampaikan pesan kapan saja melalui ‘telepon pintar’, pesan bisa terhapus dan tidak meninggalkan kesan, rasanya. Tapi dengan kemajuan ini, kita juga sangat terbantu jika dinilai dari segi penghematan waktu dan kepraktisan.

Hari ini saya dapat surat (lagi) dari negeri sakura sana. Kali ini dari seorang wanita paruh baya yang sudah saya anggap sebagi ibu saya sendiri ketika masih merantau di sana. Beliau tidak punya ‘telepon pintar’ seperti kita. Facebook, IG, Twitter, Email, Blog, Line, BBM, WA, dll beliau tidak menggunakannya. Hanya ada telepom rumah yang tentunya tidak bisa dibawa pergi kemana-mana. Dan kalaupun telpon, tidak bisa lama-lama/santai-santai ngobrol, tau sendiri lah ya… menelpon antar negara itu sangat mahal. Heehe..

Di akhir surat, beliau menulis “Ilaalliqoo..” (bahasa arab yang berarti Sampai jumpa). Waah….  keren!

Dulu kita sering ngobrol… dan kadang membicarakan Islam, tentang Al Quran yang ditulis dengan huruf arab dll. Kebetulan anak beliau pernah kerja di timur tengah dan bisa berbahasa arab (kece banget…. saya aja ga bisa. Hihi).

Huaaahh.. jadi kangen :’)

Semoga bisa bertemu lagi dengan beliau.. ❤

Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Sekilas Tentang Careworker di Jepang


Kalau dii tulisan Jadi Perawat di Jepang? Why Not! saya membahas tentang alur cara pendaftaran program perawat ke Jepang secara umum, kali ini saya pengen berbagi pengalaman ketika saya bekerja sebagai Careworker di Jepang. Karena banyak email yang masuk setelah mereka membaca tulisan saya sebelumnya dan menanyakan program ini, jadi sepertinya saya share (lagi) saja ya.. 

Jadi, untuk perawat Indonesia yang ingin mengikuti program Careworker salah satu syaratnya saat ini, tetap harus mereka yang mempunyai basic pendidikan keperawatan baik diploma, sarjana maupun yang sudah profesi Ners. Sebenarnya di Jepang sendiri, mereka yang bekerja sebagai Careworker tidak harus yang berpendidikan di bidang keperawatan, banyak orang Jepang yang lulus SMA bisa melamar kerja sebagai Careworker. Tetapi, di Jepang juga ada sekolah kejuruan khusus Careworker setelah lulus SMA dengan masa Studi 2 tahun.

Untuk yang menempuh pendidikan Careworker atau dalam bahasa Jepangnya “Kaigofukushishi” atau “Kaigoshi”, setelah lulus akan memperoleh sertifikat kompetensi (lisensi) nasional sebagai Careworker. Sedangkan yang tidak punya basic Careworker, mereka diwajibkan mengikuti Ujian Negara baik tulis maupun praktek untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Careworker. Syarat untuk mengikuti ujian negara ini, salah satunya  diharuskan mempunyai pengalaman kerja minimal selama 3 tahun dibidang Careworker. Atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan  Careworker sebanyak minimal kurang lebih 450 jam belajar. Begitu juga dengan Careworker dari Indonesia, setelah mempunyai pengalaman kerja selama 3 tahun, nantinya akan mengikuti ujian negara untuk mendapatkan lisensi careworker. Ujian tulis dan praktek disamakan seperti orang Jepang. Sebelum menempuh ujian dan memperoleh sertifikat, statusnya masih sebagai kandidat careworker (Kaigofukushishi Kohousha)

Untuk perawat Indonesia yang baru lulus kuliah, bisa mendaftar langsung program Careworker ini. Tidak perlu ada pengalaman kerja di Rumah sakit ataupun fasilitas Kesehatan lainnya selama minimal 2 tahun seperti program Nurse. Nanti kita bahas program Nurse di tulisan berikutnya ya.

Secara penempatan tempat kerja, Careworker akan di tempatkan di fasilitas kesehatan untuk merawat orang-orang lanjut usia, atau biasa kita kenal dengan istilah panti lansia (Roujin Home) . Mereka yang disebut lansia adalah yang sudah mencapai usia minimal 65 tahun. Menurut data Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi (総務省) tahun 2013 tertulis jumlah penduduk di Jepang  mencapai 127,320,000 Jiwa.  Sebanyak 25 % dari jumlah itu adalah mereka yang berusia 65 tahun lebih. Dengan kata lain satu dari empat orang di Jepang adalah orang yang berusia lanjut. Bahkan diperkirakan tahun 2035, jumlah penduduk lansia di Jepang kurang lebih akan mencapai 34%. Mungkin hal ini tidak masalah jika tingkat presentase kalahiran atau anak di Jepang jumlahnya melebihi penduduk lansia.  Tetapi menurut data tahun 2013, jumlah penduduk yang berusia 0-14 tahun hanya mencapai 12.9% .

Melihat data ini, tentunya Jepang akan sangat membutuhkan tenaga Careworker baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya saja di panti lansia tempat saya bekerja, masih sangat membutuhkan sekali tenaga Careworker, tapi orang Jepang yang berminat di bidang ini masih sedikit. Mungkin inilah salah satu sebab Jepang bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ini. Permintaan jumlah Careworker dari Indonesia jauh lebih banyak dari permintaan Nurse. Karena memang, jumlah kebutuhan perawatan lansia di Jepang sangat tinggi.

Angkatan saya yang berangkat bulan Mei tahun 2012 lalu, jumlah keseluruhannya 101 orang. 29 adalah Nurse, dan Careworker 72 orang. Tahun 2013 dari jumlah keseluruhan 156, Careworker berjumlah 108 orang. Tahun 2014 bertambah lagi menjadi 146 orang dari jumlah keseluruhan 187 orang, sisanya yang mengikuti program Nurse. Dan diperkirakan akan terus bertambah jumlah permintaan Careworker dari tahun ke tahun.

Bukan hanya dari Indonesia saja, pemerintah Jepang juga bekerjasama dengan Filipina dan Vietnam, namun sampai saat ini Indonesia masih menduduki peringkat pertama jumlah pengiriman Careworker maupun Nurse.
Secara umum, tugas Careworker adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia yang mengacu pada keperawatan gerontik. Namun disini, Caerworker tidak bisa melakukan tindakan klinis keperawatan. Loh, kita kan di indonesia nurse / perawat, mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi), dan mempunyai sertifikat uji kompetensi perawat?? Eeeitss.. memang benar, akan tetapi program yang kita geluti di Jepang adalah Careworker, bukan Nurse. Untuk di panti lansia, yang bertugas sebagai nurse masih dari orang Jepangnya sendiri. Jepang dan Indonesia belum membuka program baru untuk penempatan nurse di panti lansia. Nurse dari Indonesia masih ditempatkan di area Rumah sakit saja.

Saya sendiri mengikuti program Careworker. Di sini peran dan tugas saya tidak sama dengan perawat maupaun profesi kesehatan lainnya. Semuanya sudah memiliki tugas masing-masing, tapi tentu saja kita juga berkolaborasi dalam hal pelayanan kesehatan. Di tempat saya, careworker tidak bisa melakukan tindakan keperawatan seperti misalnya, melakukan injection, memasang infus, memasang NGT, merujuk pasien ke RS,  dan tindakan  keperawatan lainnya yang tentunya atas advice dari Dokter. Bahkan di tempat kerja saya, untuk pemeriksaan TTV/Tanda Tanda Vital seperti mengukur tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan tetap dilakukan oleh perawat. Dan sebaliknya, perawat boleh melakukan tugas Careworker jika dibutuhkan.

Jadi tugas Careworker bagaiamana? Tugasnya antara lain adalah membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi secara oral (secara langsung dari mulut) , memberikan obat oral atas anjuran perawat, dukungan personal hygiene : kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan anggota badan lainnya seperti kebersihan kepala, rambut, kuku, mata dan telinga, kebutuhan eliminasi urin dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur,  mempertahankan kesehatan lansia, mencegah penurunan kesehatan lansia, misal: ketika ada lansia yang lumpuh dan perlu perawatan serta bantuan pemenuhan kebutuhan secara total, Careworker mempunyai peran untuk bisa mencegah terjadinya dekubitus (Kerusakan/kematian kulit akibat adanya penekanan secara terus menerus).  Pemenuhan rasa aman dan nyaman juga tak kalah pentingnya, banyak sekali lansia mengalami disorientasi, penurunan kemamapuan dalam mengingat atau Demensia, sehingga mereka akan mudah panik, cemas, dan gelisah. Careworker dituntut untuk memahami hal ini, dan harus memiliki seni dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan Demensia. Careworker juga wajib melakukan dokumentasi, membuat perencanaan, dan Masih banyak lagi tugas careworker yang lainnya.

Jadi kasarnya nih, tugas Careworker bukan hanya sekedar nyuapin, mandiin, bantu BAK/BAB, angkat-angkat pasien melulu.. hehe.. masih banyak tugas, peran, dan kewajiban dan tanggung jawab lainnya. Bagi Careworker dari Indonesia, ketika sudah mendapatkan lisensi careworker yang bisa diperoleh setelah pengalaman kerja selama 3 tahun serta lulus ujian negara, tugas  peran, serta tanggung jawabnya pun akan bertambah dibanding ketika mereka belum mengantongi sertifikat kompetensi. Tetapi, hal ini juga tergantung kebijakan tempat kerja. Ada yang walaupun belum memiliki sertifikat, tetapi tugasnya sudah sama seperti Careworker Jepang, dan ada juga yang masih dianggap sebagai peserta magang, jadi tanggung jawab pekerjaan misalnya pendokumentasian tidak dibebankan kepadanya.

Kalau sudah mendapat lisensi, Careworker dari Indonesia bisa bekerja sampai waktu  yang mereka inginkan. Mereka bisa memeperpanjang kontrak kerja  menjadi 5 th,10 th, 15 th , ataupun sampai batas umur pensiun. 

Yaaa.. demikian sedikit cerita yang saya dapat dari Negeri sakura, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Untuk teman sejawat yang sedang/akan mengikuti program ini, semoga diberikan kelancaran… ganbatte! Oke? Oke 

Diposkan pada Tulisan bebas

Surat Kecil Untuk Anakku…

image

Nak, kelak… ibu yang membutuhkan uluran tanganmu, pelukan lembutmu, perhatianmu, dan kehadiranmu…

Ibu bahagia bisa melihatmu lahir dengan selamat, tumbuh dengan sehat…

Nak, kelak… jangan tinggalkan ibu sendiri di panti lansia, ibu akan sangat kesepian…

Ibu tau nak, saat kau dewasa nanti, kesibukanmu akan bertambah, tetapi… ingatlah selalu pada ibu..

Kabari ibu, bahkan tentang hal kecil yang kau lalui sekalipun.. ibu akan sangat senang…

Nak, kelak ketika ibu menua.. mungkin ibu akan terlihat menyebalkan, ibu mungkin bertingkah kekanakan.. sabarlah nak.. seperti sabarnya ibu menemani masa kanak-kanakmu dulu..

Nak, barangkali nanti ibu terkena demensia… susah mengingat, susah memahami, atau melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali padamu, maklumi  ya nak…

Seperti kemakluman ibu saat kau bertanya banyak hal tentang apapun yang kau dengar dan kau temui saat kecil dahulu.. ibu bahagia melihatmu tumbuh menjadi anak yang aktif…

Nak, esok nanti, terserah kau ingin menjadi apa..
Dokter, pilot, arsitektur, bahkan presiden.. jadilah orang yang bermanfaat untuk sesama, yamg adil dalam bertindak, yang beramal dengan ikhlas, dan jangan sekali-kali tinggalkan kewajibamu pada-Nya..

Menjadi apapun kelak, harapan ibu hanya satu…
Jadilah seorang anak yang bisa membuka jalan ibu dan  ayahmu masuk surga…

————

Diposkan pada Tulisan bebas

Cerita Ringan Seputar ‘Jekardah’

image

Perjalanan kali ini bener-bener ‘Nano Nano’ banget, Ruaaamee Rasanya! Ceritanya, hari pertama di bulan juni ini, saya mengunjungi Jekardah (Baca : Jakarta). Saya di hubungi pihak klinik yang berlokasi di Pondok Indah, Jakarta selatan untuk melakukan Interview. Saya langsung menghubungi teman-teman, barangkali ada yang tinggal di sekitar sana, saya numpang nginep. Tadinya mau cari penginapan umum saja, cuma semalam. Tapi, ini jekardaaahhh brroh! Plango plongo clingak clingkuk… bisa berabe! Aku mah apa atuh   orang ndeso yang gatau seluk beluk jekardah 😦

Alhamdulillah, seorang kawan yang saat ini berdomisili di Jepang membantu saya dari seberang sana. Beliau asli Jakarta, dan kebetulan tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari klinik tempat saya interview nanti. Saya dihubungkan dengan adik perempuannya yang kebetulan seumuran dengan saya, cuma beda 2 bulan sih. Dia lahir 19 maret, saya lahir 19 januari (menurut info dari ibundanya yang super ramah). Tempat tinggal oke, next gimana caranya ke Jekardah?

Naik bus. Ya ampun agak trauma sebenernya mau naik bus, kalo inget cerita Almh nenek. Dulu pas saya kecil sopir bus pernah saya lempar pake jeruk gara-gara ngga menstop busnya pas saya ngrengek minta turun dan pengen beralih ke becak. Naik becak dari Jakarta ke Indramayu?? Ya namanya juga anak kecil bang. Terus, pas praktek  ke Bandung dulu, kami rombongan naik bus. Tengah jalan, perut saya mual dan akhirnya muntah-muntah campur pusing, kalo tidak salah hitung, 9 kali saya muntah. 1 bus heboh, saya dipijitin.. diolesin minyak goreng ..(*ehh mnyak kayu pu*ih) sama temen-temen. Makasih buanyak ya plens, mau ngurusin saya waktu itu T_T
Terakhir, ngeri banget kalo liat bus di pantura ngebut-ngebutan, salip-salipan berasa lagi di sirkuet Bus GP (*bukan moto GP). Ampun dije…
Mempertimbangkan hal-hal demikian, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api.

Stasiun kereta Api di kota saya cuma ada satu, ditemouh sekitar 40 menit dari rumah dengan motor. Stasiunya deket pasar, dengan jalan yang masih alami tak beraspal. Jadi kalo hujan, becek semua. Becek tapi masih banyak ojek kok. Denger info dari temen, pesan tiket bisa lewat Indomart (pesan online), wiihh asik dong ngga perlu ke stasiun apalagi cuaca lagi mendung dan gerimis.. *btw saya baru tau sistem ini,norak ya! Haha. Adiknya kawan saya yang di Jepang, ngebantu saya nyari info tiket kereta dari web KAI. Alhamdulillah masih ada kursi, dan saya langsung cuss ke indomart terdekat. Karena pertama kalinya pesen tiket via online, saya minta mbak kasir untuk membantu. Setelah nunggu loading lumayan lama, alhamdulillah koneksinya  eror katanya. Pergi deh ke indomart lainnya, jaraknya lumayan jauh lagi, tapi no problem! Sesampainya di indomart ke-2, saya sudah bisa pesen tiket online sendiri loh.. *bangga 😀 Alhamdulillah disini juga eror koneksinya.

Waktu sudah menunjuk pukul 4 sore, tidak ada cara lain selain pesan langsung ke stasiun KA.  Mendung, gerimis, dan rasa was was pulang kemalaman. Waktu di Jepang, saya merasa aman aman saja pulang malam, tapi di sini.. hmm.. kemren-kemaren baru saja ada berita perampok/begal 3 orang ketangkep dan babak belur, konon kabarnya 1 meningal. Sebelumnya ada juga ibu temen saya yang siang-siang perhiasan kalungnya dijambret, setengah dibawa begal setengahnya lagi masih nyantol di leher. Berbagi itu indah… *eehh maap  bu.

Dengan sepeda motor, bismillah.. cabut ke stasiun. Sepanjang jalan raya sih diaspal, tapi banyak lubang dan nyisa air hujan. Kadang ada mobil yang melaju kenceng, dan airnya nyiprat ke arah saya. Mungkin ini teguran biar saya buruan mandi kali yakk… -_-!

Oke, ceritanya saya lupa lupa inget lokasi stasiun KA-nya. 4 tahun yang lalu pernah sih sekali ke sana, itu juga rame-rame. Kalo bebarengan, ngikuttt aja.. ngga merhatiin jalan yang penting ada temen yang tau. 😀 setelah tanya-tanya, akhirya ketemu juga. Saya langsung ke bagian loket penjualan tiket.

“Ada yang bisa saya bantu mba?” Tanya mba loket (sebut saja mba loket, karena saya belum sempet kenalan)
“Saya mau beli tiket buat perjalanan besok mba.”
“Kalo untuk besok sudah tidak bisa mba, tutup jam 16:00, diatas itu tidak bisa pesan lagi. Coba mba ke indomart, bisa pesan online di sana.”
“Jaringannya eror mba, saya sudah ke indomart 2 kali.”
“Normal kok mba.. coba ke alfa mart!”
“Alfamart bisa toh mbak?” Tau gitu di alfa deket rumah saja T_T
“Coba ke alfamart deket polsek sana mba..”
“Baik mba terimaksih..”

Polsek. Saya jadi inget dulu pernah berurusan dengan polsek situ ketika saya nyari data tentang kekerasan dalam rumah tangga untuk bahan tugas akhir. Jadi, jalannya lumayan inget lah.. 😀
Di Alfa mart, tidak bisa pesan sendiri, jadi pesannya melalui kasir. Ceritanya saya ngantri nih, eehh ada bapak-bapak nyerobot antrean. Duh pak.. dikira saya makhluk halus, ngga keliatan. Sudahlah.. lupakan. Yang penting, saya sudah dapat tiketnya. Alhamdulillah.. tenang.

…………..

Kereta JAKA TINGKIR? Ada loh kereta yang namanya ngingetin drama laga indonesia tempo doeloe. Hehe
Saya harus menunggu kereta 2 jam sebelum keberangkatan. Disini harus melakukan boarding pass dlu. Gerbanng ngga dibuka sebelum kereta tujuan datang, jadi penumpang maupun pengantar nunggu di luar gerbang. Nggatau kalo mau masuk dluan bisa apa ngga, bisa kayaknya kalo ijin sama pak satpam penjaga gerbangnya.

Indramayu-Jakarta kurang lebih ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Lumayan deh ngga jauh-jauh amat. Jadwal tiba di stasiun pasar senen Jakarta sekitar pukul 19:22 WIB dari jadwal keberangkatan pukul 16:44 WIB.

Pesan ibu, “hati-hati, kalo ada yang ngajak kemana mana sama orang yang ngga dikenal, jangan mau. Banyak hipnotis, copet, tasnya taroh di depan.”

Bismillah… go to Jekardah!

Waktu menunjukan pukul 19:22, seharusnya sudah sampai stasiun pasar senen kalo liat jadwal. Tapi ternyata baru berhenti di stasiun jatinegara. Saya mulai cemas, jangan-jangam salah kereta, buktinya ngga sesuai jadwal. Duh piye iki… akhirnya saya menghubungi adik teman saya, namanya mba Ivi. Memastikan kerwta yang saya naiki ini benar atau salah.
“Mba baru sampe jatinegara nih, habis ini senen ya? Tapi kok jam 19:22 baru sampe jatinegara?” Dalam hati masih khawatir salah kereta.
“Iya, satu stasiun kagi kok mbak sudah deket, namanya juga indonesia, jam segini sih masih ontime hitungannya *sambil masang emot ketawa”

Aaaa.. Alhamdulillah bener keretanya. Mba Ivi nanti memesankan Go-jek untuk jemput saya di St.Pasar senen.  Waw go-jek… pertama kalinya nih. Go-jeknya pesan lewat online, kita tinggal download di playstore, bikin akun dengan masukin email,nama,no hp, dan passwordnya juga. *saya diajarin mba Ivi juga.. 😀

“Mba, nanti yang jemput namanya Haryanto. Saya sudah ngasih nomor telp mbak.”

Namanya Haryanto.. entahlah gimana orangnya. Saya memastikan juga sama mba Ivi, go-jek aman kan mba? Insya Allah aman.. kata mba Ivi. Tolong maklumi, newbie. Haha

Hape berdering..
“Mbak dimana, saya tunggu di parkiran motor ya. Mbak pake baju apa?”
Kata Haryanto.
“Iya pak nanti saya menuju parkiran motor, (*padahal saya belum tau parkiran motor itu sebelah mana) saya pake baju biru, jilbab motif warna ungu pak ”
Saya berjalan cepat, mungkin sudah kebiasaan juga jalan cepat. Pernah diprotes ibu saya, “jalan tuh biasa aja jangan cepet-cepet! Kan di Indonesia.” Haha..
Pertama kali tiba di Jepang, kepala saya pusing liat orang jalan terburu-buru, ada juga yang lari-lari. Ya Allah.. mas mbak.. slow aja slow..  Haha..
Tapi terbiasa dengan keadaan begitu, terutama di tempat kerja, saya pun jadi ikutan cepet jalannya.

Haryanto telpon lagi.
“Mbak dimana? Sini mbak ke depan pintu masuk motor itu..”
“Iya pak.. ini saya menuju situ (*padahal sya masih cari-cari pintu masuk.”
“Mbak yang pake jilbab pink baju biru ya?”
“Bukan pak saya jilbab ungu bunga bunga..”
Depan saya ada seorang lelaki dengan jaket bertulis go-jek melambai-lambaikan tangannya ke kamera.. *eeh ke arah saya.
Sepertinya itu dia Haryanto. Mungkin di mata beliau jilbab saya warna pink.. ahh ada benarnya juga, ada pink-pinknya kok. Hehe

“Maap pak nunggu lama ya..”
“Ngga papa mbak.. ke manggarai ya. Mau pulang kemana sih mbak?” Tanyanya, mungkin karena liat ransel saya lumayan berisi.
“Sya mau ke rumah temen pak..”
Haryanto diam membisu, saya juga diam seribu bahasa.

Jakarta dan kemacetan itu seakan sudah menyatu. Jalan raya Kota metropolitan ini sesak dengan sepeda motor  dan mobil dengan driver beraneka ragam. Ada yang tak sabaran, sampe-sampe mijit klakson berkali-kali. Ada yang jago salip sana salip sini tapi tanpa memikirkan kendaraan sebelahnya, yang penting gue jalan. Ada yang sabar dengan kemacetan juga ada kok. Nah Haryanto termasuk yang mana? Salip salip jago dia.. jarang nglakson juga sya perhatiin. Tapi lumayan bikin saya deg deg an.. takut kesenggol mobil/sepeda motor sebelah. Rasanya saya mau nyemangatin Haryanto, “ganbatte pak ganbatte! Lawan kemacetan dengan tertib!”

Haryanto mengantarkan saya ke St.manggarai. Di sanalah saya dan Mba Ivi ketemu, untuk yang pertama kalinya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kita ketemu. Dan pergi menuju rumah mba Ivi dengan memggunakan comuter line ke St.Lenteng agung…

Bersambung…….

Perjalanan pulang-KA Kertajaya
2 Juni 2016