Diposkan pada Tulisan bebas

WANITA

Mari kita bicara perihal wanita. Tapi tunggu dulu, saya tidak akan membahas sifat-sifat maupun “kode” terselubung dari para wanita loh ya, itu mah nanti saja deh bahasnya, saya harus ngepoin  wanita-wanita yang bergelut di bidang perkodean dulu. 😀
Baiklah, bahasannya mungkin akan terkesan sedikit seriusan.. (Wanita juga butuh keseriusan #Loh ) Hmm..

Dulu, kedudukan wanita sangatlah rendah. Melahirkan bayi wanita merupakan aib, hal yang memalukan, dan sangat tidak diharapkan oleh bangsa Arab Jahiliyah.
Mereka akan marah, merasa hina, dan menganggap kabar lahirnya bayi perempuan di tengah keluarga mereka adalah suatu keburukan. Maka, tak jarang dengan teganya mereka mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan yang tak berdosa itu. Sungguh wanita sangat dipandang rendah, pada waktu itu.

Perlakuan terhadap wanita yang tidak manusiawi tersebut bukan hanya terjadi di belahan bumi bangsa Arab Jahiliyah saja. Namun juga di berbagai belahan bumi lainnya.
Salah satu contohnya adalah bagaimana perlakuan masyarakat Yunani kuno terhadap kaum wanita pada jaman itu. Socrates, seorang ahli filsafat besar dari Yunani (selain Platio dan Aristoteles) mengibaratkan tentang perlakuan bangsa Yunani Kuno terhadap wanita, “Keberadaan wanita adalah faktor terbesar dan sumber berbagai krisis serta dekadensi moral. Wanita laksana pohon beracun, luarnya memikat tetapi ketika burung-burung memakannya, matilah seketika.”  Ya, dengan kata lain, mereka menganggap bahwa wanita adalah sumber dari berbagai kerusakan, termasuk moral.

Tapi,

Diskriminasi tanpa henti kemudian perlahan teratasi ketika Islam mulai datang. Islam menjunjung tinggi martabat seorang wanita, Islam memuliakan wanita, Islam melindungi wanita. Bahkan dalam Al Quran, ada salah satu surat “An Nisa” yang berarti perempuan. Ada lagi surat “Maryam”, yang merupakan nama salah satu wanita mulia yang dijamin masuk surga oleh Allah Subhanu Wata’ala. Islam mengajarkan bahwa wanita harus diperlakukan dengan seadil-adilnya.

Apa jadinya dunia ini tanpa wanita?

Wanita yang merupakan salah satu unsur terpenting dalam peradaban.

Bahkan menurut penelitian, kecerdasan seorang ibu berpengaruh pula pada kecerdasan anaknya. Jadi, peran wanita sangatlah penting dalam terbentuknya generasi berikutnya. Banyak lelaki hebat, karena ada wanita di belakangnya yang jauh lebih hebat (Ibu/Istri). dan banyak wanita hebat, karena di belakangnya ada lelaki-lelaki yang memuliakan mereka.

Wanita, kita sepatutnya bangga menjadi wanita. Kita harus bersyukur. Menjaga sikap, menjaga hati, meningkatkan ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, belajar hal apapun, tak lelah memperbaiki diri, menshalihah-kan diri, bukankah yang demikian itu adalah wujud rasa syukur kita menjadi wanita? 🙂

 

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan, Tulisan bebas

Serba Serbi Ujian dan Kegalauannya

Ternyata saya tidak sendiri! Yeay.. banyak dari teman-teman seangkatan terdiagnosa mengidap  kegalauan akut pasca Ujian kompetensi caregiver (perawat lansia) atau biasa disebut ujian Negara tanggal 24 januari 2016 kemarin. Dan sepertinya berpotensial menjadi galau kronis sampai tiba saatnya pengumuman di akhir maret nanti. *Jika galau berlanjut, hubungi dokter!

Sekilas tentang uji kompetensi/Ujian Negara Jepang

Ujian kompetensi untuk sertifikasi yang terdiri dari 120 soal tersebut, tidak hanya diikuti oleh caregiver asing yang sebelum lulus ujian, statusnya masih menjadi pemagang saja. Seluruh caregiver Jepang yang belum mendapat sertifikat pun mengikutinya, mulai dari yang berusia masih muda sampai yang lewat dari kata belia. Serius loh, tahun lalu saja yang berusia 61 tahun keatas, tingkat kelulusannya mencapai 25%, keren ya semangatnya. Nah, mbah-mbah kita di rumah masih pada minat ngga coba ikutan beginian? 😀

Baik warga asing maupun orang Jepangnya sendiri, semua  mengerjakan jenis soal yang sama. Tidak ada tuh toleransi jenis soal berbahasa Indonesia, jawa, sunda, btak, madura, ngapak, yang dikhususkan untuk para peserta dari Indonesia. Hanya saja khusus untuk warga asing, waktu pengerjaan soal sedikit lebih panjang. Jaman senior angkatan pertama dulu, soal ujian maupun waktu disamaratakan dengan orang Jepang juga,mungkin hal tersebut berasa kelawahan bagi kita yang pas lahir ngga langsung bisa bilang “Arigatou gozaimasu” (Terimakasih) ke bidan atau dokter kandungan yang membantu persalinan. Karena faktor tersebut, para senior yang baik hati mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar mendapat perpanjangan waktu pengerjaan soal ujian khusus bagi warga asing, dan mencantumkan furigana diatas deretan huruf kanji yang bentuknya kadang ngajak ribut itu. Tau sendiri, bhasa Jepang termasuk kedalam bahasa tersulit di dunia. Belajar bahasa Jepang bukan hanya sekedar menghapalkan kosakata lalu bicara, bukan. Belajar bahasa Jepang, berarti harus mau berlelah-lelah berlatih menulis, membaca, dan mencerna arti huruf-huruf hiragana, katakana, dan kanji. Dan kanji yang paling banyak jumlah dan rumit penulisannya dibandingkan hiragana maupun katakana, kalau dibandinginnya dengan memahami wanita mungkin kanji belum seberapa, mungkin yaa…  (Naaahh.. ini urusan para laki… peace :D )

Masa sih kanji sulit? Well, tidak semua orang (mungkin) merasa kesulitan menulis, membaca ataupun menterjemahkannya. Penjelasan gampangnya begini, misal kita tau arti (dalam bahasa Indoneisa)  dari kosakata dalam bahasa Jepang jika ditulis dengan huruf hiragana maupun katakana, tapi ketika ditulis dengan huruf kanji, kita malah bertanya-tanya.. “Ini apa ya dibacanya…. Artinya apa yaa..”. Yang paling parah, kalau ditulis pake hiragana ngga mudeng, pake kanji apalagi! Ambyar byar… kalau kata orang Jawa. Etapi ya, Orang Jepangnya sendiri pun mengakui, ada saat dimana mereka juga tidak bisa membaca huruf kanji maupun menuliskannya loh. Hehe..

Untuk warga asing, Ujian kompetensi ini dilakukan setelah 3 tahun memiliki pengalaman kerja di fasilitas kesehatan lansia. Jadi selama tiga tahun masa magang, kita juga belajar untuk persiapan ujian tersebut (walau pada kenyataannya, belajarnya pas deket-deket ujian doang 😀 ). Bagi yang lulus ujian kompetensi ini, mereka akan diangkat menjadi karyawan tetap dan bisa bekerja di Jepang dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja, pendapatanpun disetarakan dengan karyawan Jepang lainnya. Tidak jarang, para senior yang sudah memiliki sertifikat caregiver, mereka mengajak keuarganya tinggal di Jepang. Atau banyak juga dari teman-teman yang cinlok (itu loh bahasa gaul jaman baheula… cinta lokasi), memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga kecil di negeri sakura ini, indah ya.. apalagi pas foto keluarga dengan backround bunga sakura 😀 (bahas begini, kaum jomblo mulai kembang kempis).

Lalu bagiamana yang tidak lulus? Beberapa tempat kerja mengijinkan untuk mengikuti ujian kompetensi di tahun berikutnya, mereka memberi kesempatan satu tahun lagi. Namun ada juga yang hanya memberikan satu kali kesempatan saja. Dengan kata lain, bagi yang belum beruntung di ujian pertama, yaa harus pulang. Terserah mau pulang ke orangtua atau ke rumah mertua.

Nilai kelulusan uji kompetensi setiap tahunnya berubah-ubah. Kadang standart nilai kelulusannya tinggi hingga mencapai 82, tapi 2 tahun terakhir turun menjadi 68. Entahlah tahun ini berapa… yang jelas rasanya saya seperti menjadi korban PHP. Udara jernih di Jepang, mendadak  berasa kena polusi kendaraan dari knalpot yang asapnya kayak wedus gembel kalau mendengar teman-teman bahas masalah ujian dan segala hal yang berkaitan dengannya. Apa perlu saya menulis di selembar kertas, “Please jangan bahas ujian!” dengan spidol merah dibold, lalu ditempelkan di setiap sudut sejauh mata memandang?. Akhir-akhir ini kalau ditanya tentang ujian, rasanya pertanyaan tentang ujian lebih horor daripada ditanya kapan nikah!

Bagi yang memutuskan untuk pulang ke Indonesia tercinta, tentunya ada  keinginan untuk  pulang dengan membawa sertifikat caregiver, right? Entah akan berguna atau tidak nantinya di Tanah Air (yaa..  kali aja berguna untuk daftar kerja,atau daftar ke KUA gitu! #Abaikan). Tapi kalaupun selembar kertas ‘pengakuan’ itu belum bisa diperoleh, bukan berarti tidak kompeten/ bodoh loh gaess… saya sih percaya bahwa semua orang itu terlahir pandai, kebiasaanlah yang menentukan bisa tidaknya untuk memeliharanya. Setuju? Sudahlah setuju saja…. #YeeMaksa!