Diposkan pada All About Japanese

Kyoto Prayer Room

IMG_3603[1]
Tempat Wudhu
Kyoto merupakan salah satu kota besar di Jepang yang memiliki beragam macam tempat wisata yang sangat menarik di kalangan turis maupun warga Jepangnya sendiri. Kota yang di dalamnya terdapat banyak sekali peninggalangan bersejarah ini akan padat oleh para wisatawan dalam dan luar negeri pada hari-hari libur tertentu khususnya.

Sering juga saya menjumpai warga Indonesia yang berkeliling Kyoto atau sekedar bertemu di Kyoto Station. Berbicara tentang Kyoto Station, saat ini tersedia tempat ibadah sholat untuk orang muslim. Jika sebelumnya tempat sholat sekitar Station hanya berada di Osaka Station dan Namba City, sekarang yang berwisata ke Kyoto, tidak usah lagi kerepotan nyari tempat sholat. Alhamdlillah..

Prayer room ini berada di gedung Kyoto tower lantai 3. Setelah pergi ke lantai 3, langsung saja menemui bagian informasi. Petugasnya sangat ramah dan terlihat begitu familiar dengan orang asing.,  Beliau juga sedikit bisa berbahasa Indonesia (sekedar “Terimakasih”, “Sama-sama”, hehe ). Tapi seius loh, beliau jago banget berbicara dengan bahasa Inggris.

Yang menarik lagi adalah, papan pengumuman di depan ruang sholat tertulis juga dalam versi bahasa Indonesia selain bahasa Jepang, Arab, Inggris dan Korea. Kalau di Osaka station atau Namba City, belum tertulis versi bahasa Indonesianya. Kata petugasnya, bahasa Indoensia diterjemahin oleh temannya yang kebetulan orang Indonesia yang mengerti bahasa Jepang juga tentunya.

Tempat sholat, sudah tersedia sajadah
Tempat sholat, sudah tersedia sajadah

Oiya, selesai melapor ke petugas di bagan informasi, lalu kita mengisi formulir, hanya menuliskan nama dan asal negara saja. Lalu petugas yang akan mengantarkan kita ke tempat sholat. Disini waktu sholatnya tidak ditentukan oleh petugas, misal seperti di Osaka station kita dikasih waktu 20 menit, kalau di Kyoto seselesainya mungkin ya. 😀

Jangan lupa, jaga kebersihan juga ya. Di dekat tempat wudhu disediakan 2 lap untuk mengelap sekitar tempat wudhu yang basah. Tempat wudhu dan tempat sholat berada di satu ruangan, jadi jangan sampai air bekas wudhu kemana-mana. 😀

Tempat sholat diisni terbilang masih sangat baru, ketika saya kesana, petugas juga bertanya darimana saya tau informasi tempat sholat tersebut, lalu saya jawab dari teman-teman yang menginformasikan melalui media sosial. Lalu petugasnya bilang lagi suruh menyebarkan informasi ini. Dan semoga lewat tulisan singkat ini , makin banyak yang tau lokasi tempat sholat di sekitar Kyoto. Semoga bermanfaat 🙂

Prayer Room
Prayer Room
2015-09-22 16.34.53
Di Depan Pintu Ruang Sholat
Kyooto Tower Building
Kyoto Tower Building
Iklan
Diposkan pada All About Japanese, Tulisan bebas

#PengajianIdulAdha1436H –  “Membangun Kembali Peradaban Islam Melalui Konsep Pendidikan Anak Ideal Berdasarkan Al Quran.”

Ringkasan materi kajian :

Peradaban dibagi menjadi dua macam, peradaban yang dilihat dari sisi materi (Seperti sarana dan prasarana) dan ada juga yang dilihat dari sisi non materinya (Seperti Ilmu, Akhlak, Budaya dll).

Allah memerintahkan umat-Nya untuk mencari (mengejar) akherat, namun untuk mencapainya, kita terlebih dahulu melewati dunia. Melalui dunia, banyak sekali pahala yang bisa kita peroleh. Amal soleh bisa kita kerjakan melalui Harta, Anak, Istri, Keluarga, Jabatan dll.
“Sebaik-baik dunia adalah manakala berada di tangan orang yang soleh.”
Seseorang yang soleh, jika mendapatkan harta ia akan menggunakannya dalam hal-hal kebaikan, seperti misalnya sedekah, membantu sesama, membangun fasilitas-fasilitas yang bermanfaat dan masih banyak lagi cara mereka menggunakan harta kekayaan untuk mendapatkan pahala atau memupuk amal kebaikan untuk tujuan akheratnya.
Begitu juga dengan anak. Anak juga sebagai harta yang sangat berharga, dimana darinya kita akan memperoleh banyak pahala jika kita mampu menjadikannya soleh dan solehah.
1. Anak sebagai perhiasan
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al Kahfi :46)
2. Anak sebagai aset akherat
Anak yang soleh akan mampu mendoakan orangtuanya baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal. Sehingga Allah akan mengampuni dosa-dosa orangtuanya. Ikatan yang tidak akan pernah terputus adalah ikatan keluarga.
“(Yaitu) Surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang soleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat – tempat mereka dari semua pintu.”

(QS. Ar-Ra’d : 23)
3. Fitnah ( Mencari pahala dari fitrah anak dan harta).
Seorang anak bisa menjadi ladang pahala bagi orangtuanya manakala ia berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang soleh, namun bisa menjadi ladang dosa apabila orangtua tak menjaga amanah seorang anak
“Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

(QS. Al-Anfal : 28)

-Kunci sukses pendidikan seorang anak adalah kesabaran orangtua.

– Kesamaan Visi/misi ataupun doa orangtua untuk anak.

-Faktor lingkungan, pendidikan, tarbiyah lebih berpengaruh dari faktir genetik.

DR. Atabik Lutfi, MA (Ketua Dai DKI Jakarta)

Pengajian Idul Adha KMII KANSAI

Kyoto,

Selasa, 22 September 2015
#IdulAdha1436H

Diposkan pada All About Japanese

Ramen Halal Kyoto “Ayam – Ya”

Ayam-Ya
Ayam-Ya : Ramen Halal Kyoto
Ramen adalah salah satu jenis makanan mie berkuah yang begitu banyak dijual di Jepang. Banyak sekali kedai Ramen bertengger di pinggir jalan, sekitar tempat-tempat wisata, stasiun kereta dan masih banyak lainnya. 

Walaupun Ramen banyak di jual di Jepang, ternyata ramen ini dulunya berasal dari Negara Cina, di Lan Cao. Hanya saja karena orang-orang Jepang pandai mengolah mie dan menghasilkan rasa yang enak, jadilah ramen diidentikkan dengan Jepang dan banyak yang beranggapan bahwa ramen berasal dari Jepang. 

Di Indonesia sendiri, ramen sudah begitu terkenal dikalangan pecinta mie khususnya. Walaupun banyaknya kedai ramen di Jepang dengan rasa yang beraneka ragam, bagi seorang muslim harus berpikir dua kali untuk ikut mencicipinya. Pasalnya hampir semua jenis ramen mengandung bahan-bahan yang dilarang untuk dikonsumsi.

Di salah satu kota besar seperti Kyoto, Sudah tersedia kedai ramen halal. Bagi anda yang sedang melancong ke Kyoto, jangan khawatir, anda bisa mencicipi Ramen halal di Kyoto. Kedai ramen bernama “Ayam-Ya” ini tidak jauh dari Kyoto Station, cukup dengan jalan kaki sekitar 10 menit dari station.

Alamat lengkapnya : UR都市機構塩小路アパート 〒600-8238 Kyōto-fu, Kyōto-shi, Shimogyō-ku, Mikatakonyachō, 3 UR都市機構塩小路アパート

Google Maps : http://goo.gl/maps/KH0SA

Hari kerja : Senin – Sabtu (Hari minggu dan hari libur nasional, libur).

Jam kerja : Siang pukul 11:30 – 14:30 JST , Malam pukul 18:00-22:00 JST

Halal Label
Halal Label

Spicy Ramen
Spicy Ramen
Selain itu, di kedai ini juga menyediakan tempat ibadah sholat.

Prayer Room
Prayer Room

2015-09-19 19.56.26
Tempat Wudhu

2015-09-19 19.56.20
Tempat Sholat
Untuk teman-teman muslim yang mencari makanan halal jenis ramen, tempat ini satu-satunya yang tersedia di sekitar Kyoto station. Saat memasuki kedai ramen ini, kita akan disambut dengan pelayan asli orang Jepang dan juga dari Indonesia, jadi jangan khawatir kalau kita belum bisa menggunakan bahasa Jepang untuk pemesanan, kita bisa menggunakan bahasa Indonesia. Selamat menikmati ramen di Negeri sakura 🙂

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Alasan Memilih Memasukan Orangtua Ke Panti Lansia

Beberapa kali  saya bertanya kepada beberapa teman yang asli penduduk  Jepang, “Kenapa banyak anak yang memasukan orangtuanya ke panti lansia?”. Jawaban yang sering saya dapatkan adalah karena faktor kesibukan kerja sang anak sehingga mengakibatkan tidak ada waktu yang kondusif untuk mengurus orangtuanya sendiri dengan telaten. Ada juga karena faktor kesehatan lansia itu sendiri yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan perawatan intensif dari dokter, perawat, ahli gizi maupun bagian rehabilitasi.  Akhirnya mereka lebih memilih untuk menitipkan para orangtua ke panti lansia agar mendapatkan perawatan yang baik.

Selain itu, bisa juga karena faktor keselamatan. Tidak sedikit para lansia yang menderita Dimensia (pikun). Dimensia sendiri disebabkan oleh penurunan fungsi otak. Pada orang yang terkena dimensia, ia akan sulit sekali mengingat hal-hal baru (ingatan jangka pendek) tapi ia masih ingat betul hal-hal yang ada di masa lalu (ingatan jangka panjang), salah contoh  gampangnya adalah tentang masa dimana dia ikut berperang dahulu, pengalaman-pengalaman masa kanak-kanaknya, dll.

Saya jadi teringat seorang pasien yang hobi sekali bercerita tentang keikut sertaannya dalam peperangan jaman dulu. Padahal dia sudah pernah bercerita bahkan berkali -kali tentang hal itu. Ya itulah dimensia, dia mungkin lupa bahwa dia pernah bercerita sebelumnya. Ada lagi seorang pasien yang tidak pernah bosan bercerita mengenai perjalanannya dulu ke India dan mendapati ular yang membuatnya menjerit, atau tentang pisang-pisang yang ia beli untuk oleh-oleh perjalanan wisatanya ke India.

Yang tadi saya maksud mengenai faktor keselamatan adalah, ketika seorang penderita dimensia dibiarkan sendiri di rumah entah karena sang anak pergi bekerja atau karena urusan lainnya, bisa jadi ia pergi ke luar rumah dan tidak tahu arah pulangnya. Penderita dimensia juga akan mengalami gangguan disorientasi atau gangguan pemahaman tempat. Tiba – tiba di tengah jalan dia bingung ada dimana, dan tidak tahu harus kemana.

Guru bahasa Jepang saya pernah bercerita, Ibu dari teman beliau yang mengalami dimensia, suatu hari  ditinggal sendiri di rumah. Lalu, sang ibu yang sudah berusia 88 tahun dan masih bisa berjalan itu keluar dari rumah malam-malam. Tidak lama kemudian sang anak mendengar kabar bahwa ibunya meninggal tertabrak mobil di jalan raya. Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan, karenanya perlu kehati-hatian yang ekstra untuk menghadapi orangtua yang mengalami dimensia.

Ada lagi karena faktor kelelahan dalam mengurus para lansia. Bagamimana tidak, sebagai contoh ada seorang lansia berumur 95 tahun, mempunyai anak berumur 70 tahun dan mereka tinggal bersama. Sedangkan kriteria seseorang disebut lansia jika usianya sudah mencapai 65 tahun ke atas. Bisa disimpulkan bahwa anak seorang lansia yang berumur 95 tahun itu juga sudah tergolong lansia. Ada sebuah istilah “Rourou kaigo” yang berarti lansia merawat lansia. Ini banyak sekali terjadi di Jepang.   Karena tenaga seorang anak  tak sekuat saat masih muda dulu, akhirnya ia memilih memasukan orangtua yang yang sudah berusia senja itu ke panti lansia dengan harapan agar bisa mendapatkan pelayanan yang terjamin dan  jauh lebih baik.

          Mungkin masih banyak lagi alasan-alasan lainnya yang lebih signifikan. Pada dasarnya, saya meyakini bahwa setiap anak ingin juga bisa merawat orangtua sampai akhir hayatnya. Namun karena beberapa faktor tertentu membuat mereka lebih memilih untuk memasukan orangtuanya ke tempat perawatan lansia.

 

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Memasuki Dunia Kerja Di Jepang (Pertama Kali)

 

Setiap orang yang baru pertama kali masuk ke dunia kerja, tentunya akan berhadapan dengan yang namanya grogi, takut, bahkan stress. Bagaimana ketika nanti berhadapan dengan atasan? Atau berhadapan dengan rekan-rekean kerja yang sebelumnya tidak pernah saling kenal? Atau mungkin kita dihinggapi rasa takut kalau kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Mungkin yang sudah mempunyai pengalaman kerja sebelumnya tidak akan se-rempong ini tingkat groginya. Karena sudah pernah melewati fase pengalaman kerja pertama kali, mereka mungkin akan lebih tenang menyikapi lingkungan baru di dunia kerjanya.

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja pertama saya setelah lulus kuliah tahun 2011 kemarin. Sekalinya kerja langsung memasuki dunia baru yang tingklat stressnya 2 kali lipat atau bahkan lebih.  Saya tidak sedang berbicara lebay, jujur saya mengakui bahwa bekerja di Negara orang memang butuh tenaga extra, otak yang diharuskan untuk selalu berpikir dalam mencerna bahasa yang mereka sampaikan atau yang ingin kita sampaikan, serta terakhir butuh hati atau mental yang super duper kuatnya. Yang ketiga itu wajib dimiliki banget!

Kebanyakan, orang jepang gigih dan disiplin sekali dalam bekerja. Masuk kerja lenih awal, pulang lebih lambat. Kalau terlambat walaupun sudah ijin sebelumnya bakal terlambat entah karena kereta yang telat, macet atau karena alasan  lainnya tetap saja ketika datang ke tempat kerja mereka akan merasa sangat malu karena terlambat. Saya jadi ingat ketika jaman sekolah dari SD sampai jaman kuliah sering sekali terlambat masuk. Walaupun sering pula mendapat hukuman-hukuman dari guru atau pak satpam penjaga sekolah, ya tetep saja masih membudayakan keterlambatan! (tak baik dicontoh :D).

Lepas dari rasa grogi, takut, atau stressnya menghadapi lingkungan kerja baru, ada satu hal yang perlu kita perhatikan ketika pertama kali masuk ke dunia kerja dan tidak hanya berlaku untuk yang bekerja di Jepang saja sebenarnya. Ya, lakukan 5 S! SENYUM-SAPA-SALAM-SOPAN-SANTUN. Istilah-itilah yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita.

The power of smile and The power of say hello is very amazing! Senyum itu ibadah, senyum itu hadiah, senyum itu mempererat hubungan. Apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum loh. Hehe, Alhamdulillah ya.

Sebelumnya saya sudah menebak pastinya di hari pertama kerja saya akan diminta untuk memperkenalkan diri di hadapan rekan-rekan kerja. Ya benar saja! Berkali-kali saya mencoba menenangkan diri sambil terus membaca kalimat basmalah dalam hati. Seandainya memakai bahasa Indonesia, ingin sekali rasanya bicara panjang lebar tapi apa daya pengetahuan bahasa jepang saya yang masih pas pasan ditambah rasa grogi yang melanda akhirnya pagi itu saya hanya mengatakan, “Selamat pagi, nama saya Farida. Mohon kerjasamanya.” sambil menebar senyum termanis versi saya.

Jangan bosan ketika mereka banyak menanyakan hal yang sama pada kita ketika kita baru msuk ke lingkungan kerja baru bersama mereka. Pertanyaan yang sering saya terima dari orang yang berbeda antara lain : “Gimana Jepang dingin ya?” -ini karena kebetulan pas sampai di tempat kerja sudah masuk msuim gugur dan udaranya mulai sedikit dingin. Beda lagi ketika masuk musim panas, “panasnya sama nggak kayak Indonesia?”. Selain membahas musim, mereka juga selalu tanya, “bagaimana Jepang menurutmu?”, “berapa lama belajar bahasa Jepang?” dan lain sebagainya.

Oiya, selain memperhatikan tentang 5S tadi, penting juga untuk mengingat nama-nama rekan kerja kita. Kenapa? Mereka ternyata sangat senang jika kita memanggil nama mereka ketika hendak memanggil, ngobrol atau keperluan lainnya. Bukan hanya sekedar bilang, “maaf, permisi…” diawal pembicaraan. Memangnya mau numpang lewat. Hehe. Dalam waktu kurang lebih seminggu saya menargetkan harus menghapal nama 50 rekan kerja ditambah sekitar 100 orang nama pasien (Lanatai 1 dan 2). Tentu saja bukan hal yang mudah ketika kita harus mengingat nama dan jenis huruf kanjinya. Ada yang pengucapan namanya sama, tapi jenis huruf kanjinya berbeda. Tapi bukan masalah, yang utama kita kenal wajah dan kenal nama panggilannya saja dulu.

Metode mengingat nama mereka mungkin bisa dibilang aneh. Saya selalu membawa buku kecil atau memo di saku lengkap dengan bolpointnya. Saya mencatat satu persatu nama-nama mereka beserta “ciri khusus” dari mereka. Setiap orang kan pasti punya ciri khusus masing-masing baik dari segi fisik ataupun dari segi lainnya. Contohnya, si A itu yang rambutnya keriting. Si B yang kalau jalan kayak dikejar rentenir. Si C yang ada tahi lalat di bawah bibirnya. Si D yang ceria sekali. Si E yang wajahnya mirip sekali dengan aktor macho roy surya. Si F yang kalau ngomong kayak shinkansen, kereta tercepat di Jepang. Dan seterusnya….

tapi namanya manusia pasti ada lupanya. Ketika saya pergi ke supermarket, saya bertemu dengan salah satu rekan kerja yang saat itu baru saja turun dari mobilnya. Dari belakang saya sentuh bahunya pelan dan menyapa, “selamat malam, mau ke supermarket ya?”. Saya ingin sekali menyapa namanya, tapi lupa. Ah biarkan saja, yang penting menyapa. Hihi. Setelah pulang ke rumah, saya ingat-ingat lagi dan besoknya paginya ketika bertemu di tempat kerja saya langsung sapa dia dengan nama.

Lalu berbicara soal mental, kita harus selalu siap ketika kita ditegur karena kesalahan-kesalahan kita dalam melakukan tindakan apapun. Namanya juga “orang baru”, dan justeru karena baru tidak masalah kita melakukan banyak kesalahan karena berani mencoba asalkan kita bisa  mengevaluasi kesalahan-kesalahan kita lalu memperbaikinya. Tidak masalah kita ditegur atau dimarahi di awal-awal daripada kita bermasalah di kemudian. Jangan takut dan malu bertanyatentang apa saja yang membingungkan atau yang sama sekali tidak kita pahami tentang pekerjaan atau tentang apa yang mereka bicarakan.

Ada orang Jepang yang memahami kita orang asing, oleh karenanya ia berbicara dengan pelan-pelan dan dengan menggunakan bahasa Jepang yang mudah dicerna bahkan tak segan mereka menggunakan bahasa tubuh ketika kita benar-benar tidak memahami. Ada juga orang Jepang yang cara komunikasinya disamaratakan seperti ketika ia berkomunikasi dengan sesama orang Jepang. Cepat dan “ngejlimet” bikin bingung nggak ketulungan. Dalam keadaan seperti itu, jangan pernah bilang “mengerti” atau sok-sokan ngangguk-nganggukin kepala tanda memahami apa yang mereka bicaralan pada kita. Ini gawat! Kalau seandainya rasa tidak tahu kita dibiarkan begitu saja tanpa bertanya ulang. Kita akan terjebak pada kebingungan kronis yang kita ciptakan sendiri. 😀 So, Jangan malu bertanyaa yaa… Pisss..

Pada hakekatnya setiap ornag punya cara tersendiri dalam menyikapi dunia kerja pertama kali, apapun yang membuat anda lebih tenanag dan nyaman, lakukan saja. #EnjoyWorking

Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Kerja Dan Belajar

Kerjaaa.. belajar… kerja.. belajaarrr…

Istilahnya, selama kita berada di Jepang selama itu pula kita harus belajar bahasa Jepang. Jangan protes! Karena bahasa Jpeang adalah kebutuhan kita, tentu saja untuk kelancaran berbagai macam urusan yang akan kita temui dalam kesehariannya. Tak selamanya kita terus-terusan memakai bahasa isyarat atau terus-terusan mananyakan hal yang sama pada rekan kerja tentang hal yang belum kita pahami. Hey, mereka memang selalu bilang, “tidak apa-apa” tapi kita juga harus memahami bagaimana rasanya ditanya terus menerus tentang hal yang sebelumnya pernah kita beri tahu lebih dari dua atau mungkin tiga kali. hehe

Kita disini Nurse dan careworker dari Indonesia masih dikatakan sebagai “kandidat” atau calon. Untuk menghilangkan istilah “kandidat” kita dharuskan menempuh Ujian negara untuk sertifikasi Nurse atau careworker. Untuk Nurse, ketika belum menempuh ujian negara yang diadakan setiap tahun dan dinyatakan lulus, mereka belum bisa melakukan tindakan  sperti memasang Infus, injeksi, dan lain-lian.

Untuk careworker pelaksanaan ujiannya 3 tahun sekali. Dalam dunia careworker yang saya geluti saat ini, ada perbedaan dalam sistem kerja sebelum dan sesudah dinyatakan lulus ujian. Setiap fasilitas kerja mungkin berbeda kebijakannya, tapi saya akan memberikan contoh di tempat kerja saya sendiri. Mereka memberi kebijakan sebagai berikut :

  • Selama 3 tahun (sebelum ikut ujian dan lulus) kita hanya dikasih shift pagi dengan jam kerja dimulai pukul 08 :30 – 17:15, dengan waktu istirahat 45 menit. Dengan alasan agar kita bisa lebih fokus untuk belajar menghadapi ujian nanti.
  • Awal kerja setiap hari ada jam belajar bahasa Jepang dari jam 09:00 – 10:00, tapi tahun kedua dan ketiga, jam belajar hanya seminggu satu kali di hari selasa dari jam 09:00-11:00.
  • Kita belum dibolehkan menulis di buku laporan ruangan atau laporan di laptop. Tapi kalau membaca diperbolehkan, itupun yang dibuku. Kalau untuk laporan di laptop, buka laptopnya saja tidak pernah dan tidak pernah diajarkan atau dipersilahkan.
  • Setiap selesai kerja kita menulis catatan atau nikki di file yang khusus disediakan untuk kita. Di sana kita menulis kegiatan selama sehari kerja, menulis hal-hal yang belum dimengerti, kesan dan pesan, dan menulis kata-kata bahasa Jepang atau kanji yang tidak dimengerti, untuk bahan evaluasi gitu lah.
  • Libur rutin setiap hari sabtu dan minggu serta hari-hari libur nasional atau dengan kata lain ketika di kalender angkanya berwarna merah, ya kita mendapat libur.

Mungkin sangat jarang panti lansia yang memberikan kebijakan seperti ini. Ketika saya banyak mengobrol dengan teman-teman sejawat lainnya, kebanyakan mereka sistem kerjanya sudah disamaratakan dengan sistem kerja orang Jepangnya. Sudah masuk shift siang dan malam, libur tidak menentu, sudah diperbolehkan menulis laporan dan lain sebagainya. Jam belajar yang disediakan tempat kerja mereka pun berbeda. Ada yang satu minggu 2 kali dan satu kali pertemuan bisa 2-3 jam, ada yang jam belajarnya diambil pas hari libur merekapun ada.

Selain jam belajar yang disediakan oleh rumah sakit atau panti lansia, kita juga diwajibkan untuk belajar mandiri di rumah. Ada yang terus semangt belajar walaupun badan lelah sehabis kerja. Ada yang lebih memilih istirahat dan tidur saking capeknya seharian kerja, apalgi yang baru selesai dinas malam, bantal dan kasur sudah menjadi tujuan utamanya.

Untuk candidate Careworker kalau sudah lulus ujian, pada umumnya tidak ada yang berubah dalam tindakan kerjanya. Kalau di tempat saya, setelah lulus akan diganti shift-shiftnya, diperbolahkan menulis laporan dan lain-lain. Oiya, baik nurse atau careworker jika sudah dinyatakan lulus maka mereka bisa tinggal di Jepang sampai kapanpun mereka mau, dan upah gajinya pun disamakan dengan pekerja orang Jepang. Kesemepatan ujian untuk candidate nurse ada 3 kali (3 tahun) , jika sampai 3 kali belum lolos maka mau tidak mau harus pulang karena masa kontrak habis.

Sedangkan untuk Candidate careworker hanya ada kesempatan 2 kali. Setelah 3 tahun kerja dan belum dinyatakan lolos, masih ada kesempatan sekali lagi di tahun berikutnya. Untuk kesempatan kedua ini, tidak semua panti lansia memilki kebijakan yang sama juga. Ada tempat yang hanya memberikan kesempatan satu kali saja dan tidak bisa memperpanjang kontrak kerja 1 tahun untuk mengikuti ujian tahun berikutnya, sehingga jika gagal di kesempatan pertama, konsekuensinya harus pulang ke Indonesia.

Januari, 2016 InshaaAllah saya akan menghadapi ujian Negara Careworker. Doakan ya 🙂