Diposkan pada All About Japanese, Kaigofukushishi, Keperawatan

Mahasiswa Keperawatan Indonesia Dan Jepang

Gambar Ilustrassi
Gambar Ilustrasi

Beberapa hari belakangan saya membaca postingan dari temen sejawat di News feed facebook saya tentang permasalahan STR (Surat Tanda Registrasi) Perawat. Ada masalah ketika mereka ynag baru lulus harus dihadapkan dengan ketentuan bahwa untuk Para freshgraduate tidak bisa langsung kerja jika tidak mengantongi STR. STR sendiri didapatkan melalui Uji kompetensi, yang lolos bisa mendapatkan surat tanda registrasi, dan yang belum harus mencoba lagi dan selama itu mereka tidak bisa bekerja di fasiltas kesehatan Rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya . Karena Saat ini Rumah Sakit – Rumah Sakit tidak bisa mempekerjakan para lulusan keperawatan yang belum memliki STR.

Permasalahannya lagi, mereka yang sudah berhasil lolos dari uji kompetensi saja, masih sulit mengantongi STR. Banyak yang lolos Ujikom, namun belum juga mendapatkan STR. Saya kembali mencari informasi di salah satu Forum Perawat, 90% mengeluhkan proses STR ini. Ada yang sudah menyerahkan persyaratan lengkap ke PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) namun tidak kunjung diproses, dan setelah dikonfirmasi lagi ke pihak PPNI, berkas dokumen persyaratan pembuatan STR nya hilang entah kemana.

Tidak memiliki STR berarti dianggap tidak kompeten. Baiklah, tapi ada yang mengganjal disni. Perawat Indonesia saat masih menjadi mahasiswa keperawatan, mereka bisa menyentuh pasien, melakukan tindakan layaknya para perawat senior yang sudah teregistrasi (memiliki STR). Mahasiswa bisa memasang Infus, Kateter, Injection, dll. Lalu kenapa ketika lulus namun tidak bisa bekerja karena terkendala STR, dengan alasan tidak kompeten?

Saya pribadi setuju sekali dengan adanya STR ini, jika sistemnya berjalan dengan mudah, tidak berbelit belit dan menyulitkan para perawat untuk mendapatkannya. Simpelnya gini, mengikuti ujian kompetensi-Lulus-segera mendapat STR, bukan menungu lama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Saya bekerja di salah satu fasilitas kesehatan untuk lansia di Jepang. Di sini, sering saya temui mahasiswa keperawatan yang melaksanakan praktek keperawatan. Uniknya, paling banyak hanya 6-7 orang saja setiap kali praktek. Ternyata teman-teman lainnya praktek di tempat yang berbeda. Mungkin agar proses pembelajaran selama praktek bisa lebih efektif. Selama praktek mereka benar-benar diperlakukan layaknya mahasiswa, tidak dibebani tanggung jawab. Mereka tidak melakukan tindakan papaun tanpa instruktur dari pembimbing di lapangan. Selama praktek di panti lansia, mereka hanya boleh melakukan tindakan pengecekan Tanda-tanda Vital (TTV) itupun didampingi pembimbing, selebihnya mereka hanya melihat pembimbing mereka melakukan tindakan dan melakukannya ketika mendapat instruktur dan didapingi. Namun yang jelas, mereka tidak melakukan Injection, dll.

Ketika saya bertanya lebih jauh lagi bagaimana ketika praktek di Rumah sakit, apakah mahasiswa bisa melakukan tindakan seperti perawat lainnya? Ternyata tidak. Sama sekali masiswa tidak boleh menyentuh pasien. Dan mereka sangat terkejut ketika saya cerita pengalaman saya saat menjadi mahasiswa.

Di Jepang, Ujian kompetensi untuk mendapatkan Registrasi Nurse, dilakukan setiap setahun sekali setiap bulan februari biasanya. Selama belum lolos dan mendapat Sertifikat RN (Registrasi Nurse), mereka belum bisa menyentuh pasien, hanya menjadi asisten perawat. Ini juga berlaku untuk perawat asing yang bekerja di Jepang. Saat ini, perawat dari Indonesia sudah banyak yang bekerja di Rumah sakit maupun panti lansia di Jepang. Mereka yang bekerja di Rumah sakit dan belum berhasil lolos ujian kompetensi belum bisa melakukan tindakan keperawatan seperti senior lainnya. Singkatnya, untuk di Jepang yang penting bisa  lolos ujian, maka proses selanjutnya untuk mendapatkan STR sangat mudah.

Sebenarnya jika mahasiswa keperawatan Jepang, mahasiswa Indonesia lebih menguasai dalam bidang praktek. Bagaimana tidak, masih menjadi mahasiswa saja sudah bisa melakukan ini itu. Kendalanya hanya dalam proses mendapatakn STR. Harapannya semoga proses pembuatan STR dimudahkan, sehingga tingkat pengangguran dari lulusan keperawatan tidak bertambah. Dan satu lagi, profesi perwat di Jepang dianggap menjanjikan, pemerintah Jepang sangat mengapresiasi profesi mulia ini. Gaji perawat di Jepang yang sudah teregistrasi pun besar. Dan lagi-lagi mereka terkejut ketika saya bercerita rata-rata pendapatan perawat di Indonesia, dan kembali terkejut saat saya bercerita ada juga perawat yang tidak menadpat gaji (tenaga Sukarelawan). Saya masih punya harapan profesi keperawatan di Indonesia suatu hari bisa lebih diapresiasi dan bisa mensejahterakan perawat itu sendiri. Dan semoga pelayanan kesehatan di Indonesia semakin membaik, dan mampu menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia pada khususnya.

Iklan
Diposkan pada Tulisan bebas

17 Agustus-an


BUNG KARNO ;

“Kamu tahu? Sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini. Soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka. Jadi, Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme, tapi berhadapan dengan MODAL ASING yang MEMPERBUDAK bangsa Indonesia. Aku ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan RAKYAT, kekuatan BANGSA sendiri. Bangsaku harus bisa maju, hrs BERDAULAT di segala bidang, apalagi minyak kita punya. Coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini MERDEKA dalam pengelolaan MINYAK.”

(Bung Karno kepada Menkeu Djuanda, soal KEDAULATAN ENERGI, 1960)

“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.” (Pidato Bung Karno pada HUT Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1963)
“Firman Tuhan inilah Gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu: ‘Innallahu la yughoyyiru ma biqaumin, hatta yughoyyiru ma bianfusihim’     (QS 13:11).

‘Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.’”

(Pidato Bung Karno pada HUT Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1964).

Selamat Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia…
JAYALAH SELALU INDONESIAKU!!


Merah Putih, Pusaka Abadi Nan jaya

Ketemu lagi dengan tanggal 17 Agustus. Kali ini di tahun 2015, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke 70 Tahun. Semoga Indonesia menjadi negara mandiri, bebas hutang negara, bebas dari pemimpin-pemimpin dzolim, bebas dari kemiskinan, bebas dari kerusuhan-kerusuhan, bebas dari musuh dalam selimut, bebas dari masyarakat galau, bebas dari orang-orang ahli PHP atau berkurangnya presentase korban PHP, dan untuk ke depannya, diharapkan berkurangnya populasi jomblo di Indonesia. Semoga para jomblo segera mampu memerdekakan separuh agamanya! *Aamiin-Doa untuk diri sendiri juga 😀

Badewey, tiap tanggal 17 agustus, saya selalu merindukan momen perlombaan rutin yang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan. Lomba makan krupuk, panjat pinang, tarik tambang, balap karung, lomba move on (ehh emang ada? Piss.. 😀 ). Kemrin saya liatdi sosmed, ada lomba makan krupuk khusus nenek-nenek. Duh cuma Indonesia yang bisa begini. Sya ngga bisa ngebayangin, itu leher nenek kena encok ngga ya? *tau encok? Nyeri gitu lah. Semoga tidak ada panjat pinang khusus lansia.

Dulu, setiap ikut lomba, saya ngga pernah menang. Hebat kan? Saya cuma bisa melongo liat temen-temen yang dapet hadiah dari panitia. *ahh lupakan.

Oiya, salah satu mimpi sya adalah, bisa mengibarkan bendera merah putih di atas puncak Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang. Seriuss! Bulan agustus banyak warga Indonesia yang berdomisili di jepang pada naik ke puncak sana. Mereka membawa bendera, mengibarkan, memfoto dan menguploadnya di FB/IG.

Tahun ini, sebenarnya saya dan 4 Orang kawan lainnya sudah berencana naik ke gunung fuji tanggal 19 september. Kita sudah mencocokan hari libur bersama, karena kebetulan tempat kerja kita beda tempat. Fix waktunya. Tapi ternyata, bulan 9 sudah ditutup untuk pendakian karena rawan bencana bulan segitu. Fiuuhh.. Jadilah batal total. Baiklah! Tahun depan! Etapi saya tidak tau juga agustus 2016 masih di Jepang atau sudah kembali ke ibu pertiwi. 😦

Walau banyak yang bilang naik sampe puncak itu capeknya ngga sembuh dalam 1 hari 2 hari, dan sampe ada komentar “yang naik fuji sampe 2 kali itu beratui bodoh”, saya tetap ingin ke sana… *mupeng. Urusan kuat sampe puncak atau tidak urusan belakangan.. 😀 #Gayaaa

Semoga bisa mewujudkan.. Someday! Aamiin..

“Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu…”

😥 😥

Diposkan pada Tulisan bebas

Proud Of You, Pak Pos

japan_post

Hari ini saya disadarkan satu hal, betapa beratnya pekerjaan seorang pak pos. Dengan memikul tanggung jawab mengantar ‘titipan’ barang dari satu tempat ke tempat lainnya tak peduli cuaca cerah atau hujan, yang penting barang harus sampai pada penerima.

Saya saja, kalau dititipin barang untuk disampaikan ke orang lain, kalau barang tersebut belum sampe di tangan yang dituju, rasanya nggak bisa tenang. Nah, apalagi pak pos… Yang harus mengantarkan barang bukan hanya pada satu orang. Kalau barang tidak diterima penerima sesuai jadwal, pasti resiko diomelin sama atasannya tuh, atau di komplain sama si penerima.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu, saya memesan sebuah barang di Amazon (Online). Pemberitahuan dari email yang dikirim Amazon, barang sampai tanggal 17-18 Agustus (Senin/selasa). Hari Senin/selasa saya kerja dari jam 08:30-17:30 JST (Japan Standar Time), jadi kalau pak pos mengantarkan barang jam-jam segitu ke Asrama, saya masih di Tempat kerja. Jam Istirahat siang, saya cek HP dan ternyata ada Tlp dari no baru. Feeling saya pasti ini dari pak pos. Saya memutuskan pulang ke Asrama selama jam Istirahat yang hanya 30 menit tersebut. Kebetulan jarak asrama dan tempat kerja hanya 3 menit jalan kaki.

Sampai asrama saya cek kotak surat dan menemukan surat pemberitahuan dari pak pos, ternyata benar tadi beliau datang, disitu tertulis juga no Tlp yang bisa dihubungi untuk ‘janjian’ jam berapa mau ketemu lagi, kira-kira mencocokan waktu. Oke.. Saya telpon pak pos.

Selama telpon, pak pos berusaha menangkap suara saya, katanya tidak jelas, karena cuaca lagi hujan lumayan deras siang tadi sedangkan pak pos lagi di jalan. Akhirnya setelah diulang pembicaraannya, pak pos mengerti dan kita janjian ketemu jam 19:00. Fix.

18:45 saya mandi, ditinggal Sholat dan kegiatan lainnya. Tau-tau  sudah jam19:43. Loh pak pos belum dateng juga.. Tidak ada telpon darinya. Saya segera meraih handphone yang saya taroh di atas meja. Ternyata jam 19:08, ada telpon dari beliau. Oh Nooo!!! Kok HP tidak berderinggggggg .. Ternyata di silent. Hiks 😥

Saya lansung telpon balik pak pos.

“Hallo, maaf sekali maaaaaff sekaliii.. Saya tidak tau ada telpon.” (Asli saya merasa bersalah bangettt).

“Maaf boleh tau ini dengan siapa  dan dimana alamatnya?” Jawab pak pos.

*oiya saya lupa mengenalkan diri.

Setelah berlanjut pembicaraannya, kita pun janjian lagi jam 21:00.

Jam 20:50, saya keluar dan menunggu di Depan asrama. Ready menyambut pak pos. Duh jangan-jangan pak pos kesel sama saya nih… Kasian juga harus bolak balik asrama 3 kali. Jam 21:10, mobil box berhenti di Depan Asrama. Hp saya lansung berdering, aha! Ini dia yang ditunggu-tunggu.  Tanpa saya angkat telpon dari pak pos (langsung dimatiin), saya lari ke arah mobil itu. Lah.. Pak pos ngga liat saya apa, kok di dalem mobil saja -_-

“Sumimasen… (Maaf)” sapa saya.

Pak pos menoleh dan keluar dari mobil.

“Farida san desuka? Osoku natte sumimasen”. ( mbak Farida? Mohon maaf jadi lama). Kata pak pos sambil membungkukan badan meminta maaf dan tersenyum. Haduh pak pak… Saya tambah ngga enakan. Saya juga langsung minta maaf sudah merepotkannya. Kereeen! Ternyata sayaa salah mengira. Pak pos sama sekali tidak terlihat kesal. *moga dalem atinya juga ngga ya pak. Hehe

“Silahkan tanda tangan disini..”

*Kayak artis kan diminta tanda tangan*

 Setelah tanda tangan sebagai tanda terima, saya kembali minta maaf..

“Maaf, pulpennya..” Deg! Oiya saya lupa, daritadi masih megang pulpennya, pantesan pak pos ngga pergi-pergi. 😀

Pokoke proud Of You pak, Arigatou gozaimasu pak pos! ^^

Diposkan pada Tulisan bebas

Kenapa Harus Sedekah? #ThePowerOfGiving


Mari sejenak kita lihat dan amati lingkungan di sekitar kita. Masih adakah saudara kita yang untuk makan 3 kali sehari saja masih amat sangat susah? Masih adakah saudara kita yang telah mencapai usia senja namun masih dituntut kerja keras untuk bertahan hidup di dunia? Lalu perhatikanlah, masih adakah anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan, menyanyi dengan gitar mungilnya dan menerobos celah mobil yang berhenti di lampu merah? Padahal seharusnya anak-anak seusia mereka duduk manis di bangku sekolah dan menikmati masa kanak-kanaknya dengan gembira.

Kenyataannya, tidak semua orang seberuntung kita. Ada yang saking laparnya, mereka ‘menggali’ tempat sampah, bak menggali harta karun yang tertimbun tanah hanya untuk menemukan makanan sisa yang terbuang percuma. Dan semua itu masih terasa lezat di lidah mereka. Ada seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bekerja brekeliling komplek perumahan menjual cobek yang beratnya berkilo-kilo, dan itupun tidak selalu habis terjual dalam sehari. Yang ia lakukan hanya semata-mata untuk bisa menyambung nyawanya.
Ada kakek tua yang menjajakan amplop di tengah teriknya matahari, hanya untuk bisa makan sehari-hari. Padahal di jaman serba canggih sekarang ini, amplop untuk berkirim surat sudah jarang sekali dicari. Ada lagi yang tak kalah menyayat hati, yaitu kisah seorang kakek tua yang masih bekerja mengayuh becak. Namun saat bekerja, kakek tersebut jatuh tersungkur dan meninggal dunia karena fakor usia dan kelehan yang menderanya. Masyaa Allah, Beliau meninggal saat mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Jika kita melihat lebih luas, di luar sana masih banyak sekali cerita yang mungkin kalau kita mengetahuinya, hati kita akan tergugah. Hati kita akan terpanggil untuk berbuat sesuatu guna membantu mereka dari segala kesusahan. Menjadikan mereka merasakan apa yang kita rasakan, dan menjadikan mereka memiliki juga apa yang kita miliki. Pernah mendengar istilah “Sedekah tak harus menunggu kaya.” Yap! Untuk berbagi kita tak harus menunggu harta melambung tinggi. Sebenarnya kita ini sudah kaya. Allah menciptakan kita dengan sempurna. Seandainya, ada seseorang yang membutuhkan mata, lalu ia menawar harga mata yang Allah titipkan ke kita ini dengan harga ratusan juta, apakah anda bersedia menjual dan memberikannya? Saya rasa tidak. Lihat, mahal sekali harga organ-organ tubuh kita yang kita dapatkan secara cuma-cuma dari Yang Maha Pencipta. Kita ini sudah kaya! Allah menitipkan banyak kekayaan kepada kita, apakah kita sudah mensyukuri segala pemberian-Nya? Tidaklah penting seberapa kaya rayanya seseorang, yang terpenting adalah seberapa berkahnya kekayaan yang Allah titipkan. Harta yang berkah adalah yang digunakan di jalan Allah, yang bermanfaat bagi sesama.
Berbagi adalah satu jalan memecahkan masalah, berbagi adalah sebuah solusi. Tentunya juga menjadi solusi untuk kita sendiri. Karena sesungguhnya jika kita berbuat baik, maka kebaikan tersebut untuk kita, begitupun sebaliknya. Bayangkan, berapa banyak orang yang tersenyum ketika mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan? Dan ketika kita tahu alasan mereka tersenyum adalah diri kita, bukankah kita juga merasa bahagia? Dan kita juga tidak tahu, berapa banyak do’a – do’a yang mungkin saja diam-diam mereka panjatkan untuk kita. Dan kita tidak pernah tau do’a yang mana dan dari siapa yang Allah kabulkan untuk kita.
Percayalah! Sedekah atau menginfakkan harta kita di jalan Allah, sama sekali tidak akan menjadikan kita miskin atau bangkrut. Justeru, sedekah akan membuka pintu-pintu rezeki lainnya. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman : “Perumpaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah :261)
Sedekah kita akan menjadi naungan di hari kiamat kelak. Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)
Malaikat pun turut mendo’akan kebaikan untuk orang-orang yang menginfakkan hartanya dan mendo’akan kehancuran bagi mereka yang enggan mengeluarkannya (kikir). Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq’ sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (HR Bkhari-Muslim)
Setelah mengetahui beberapa keutamaan sedekah, semoga hati kita tergugah untuk menambah pundi-pundi pahala untuk bekal kita di akherat kelak. Berharaplah balasan segala amal kita hanya kepada Allah, bukan berharap balasan manusia atau pujian dari oranglain. Apa yang kita miliki semuanya milik Allah. Apa yang kita beri, SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui.

Diposkan pada All About Japanese, Tulisan bebas

Hanabi Musim Panas Di Jepang

Sejak memasuki bulan juni, Cuaca di Jepang sudah mulai terasa panas, terlebih lagi bulan Agustus ini. Suhu udara rata-rata mencapai 34-38 derajat celcius tergantung wilayah/daerah masing-masing. Di Prefektur Shiga, tempat saya tinggal, umumnya suhu mencapai 35 derajat, dan ini cukup membuat keringet bercucuran. Hehe

Di televisi selalu diingatkan tentang dehidrasi atau kekurangan cairan. Tidak dipungkiri kalau banyam sekali kasus kematian di musim panas yang disbabkan dehidrasi, khusunya pada orang usia lanjut.

Umat muslim yang menjalani bulan ramadhan di musim panas (juni-juli) memang terasa sekali tantangannya. Subuh saja sekitar jam 02:45 -03:00 Pada waktu itu di daerah saya. Jadi, memulai puasa sekitar jam 03-00 sampai 19:15 JST (Japan Standart Time). Melihat kita berpuasa, banyak orang Jepang sangat khawatir, kalau-kalau kita terkena dehidrasi. Tapi Alhamdulillah di Tempat saya kerja, mereka memberi sedikit keringanan kerja selama bulan Ramadhan.

Berbicara soal musim panas, akan selalu dikaitkan dengan hanabi taikai (Pesta Kembang Api) di musim ini. Umumnya, hanabi diadakan sekitar bulan agustus. 7 Agustus 2015 kemarin, di derah tempat saya tinggal diadakan pesta kembang api yang diselenggarakan disekitar Danau Biwa. Danau Biwa adalah danau terbesar di Jepang, dan luasnya sepertiga dari prefektur Shiga. Kalau kita lihat peta, coba lihat bagian tengah peta, ada bentuk danau yang terlihat jelas di sana.

Tahun ini, untuk ketiga kalinya saya melihat pesta kembang api di danau biwa. Jika tahun-tahun sebelumnya selalu melihat dari belakang dan terhalang pepohonan, tahun ini duduk paling depan di pinggir danau. Ahh saya berterimakasih sekali pada kedua teman saya yang pagi-pagi mencarikan tempat. Hehe

Sore hari sebelum hanabi dimulai

Banyak yang mengabadikan moment tahunan ini  di kamera atau video. Setiap kali letupan kembang api itu terdengar, teriakan takjub pun terdengar.



Saya mengambil bebrapa foto ini dengan kamera handphone. MasyaaAllah aslinya lebih bagus, apalgi ketika rentetan letupan berlansung sedikit lama, kita terasa seperti dihujani oleh percikan lembang api diatas sana. Bentuk kembang apinya pun beraneka ragam, ada yang berbentuk semangka, icon smile, planet, bintang dan lain sebagianya.

Semoga suatu hari teman-teman juga bisa menikmati hanabi di Jepang yaa..  😉

Diposkan pada Tulisan bebas

Perpisahan


Adakah perpisahan itu menyenangkan? Kenapa perpisahan selalu menyisihkan kesedihan?

Tidak, Seharusnya aku sudah terlatih dengan hal ini, perpisahan. Begitu banyak yang berlalu pergi dalam perjalanan hidupku. Meninggalkan kenangan, harapan, setta janji-janji yang belum sempat terpenuhi.

Seharusnya aku terbiasa untuk menyaksikan punggung yang menatap kedua mataku sembari pergi menjauh. Namun ternyata, perpisahan tetaplah menjadi hal yang menyesakkan.

Mungkin aku masih perlu disadarkan tentang satu hal. Bahwa setiap manusia, sejatinya akan benar-benar pergi, bukan lagi untuk sementara, namun untuk selamanya.

Sahabat, terimakasih untuk kebersamaan yang indah ini. Semoga kita bertemu lagi dalam keadaan Iman yang lebih baik ..
Shiga, 3 Agustus 2015

21:40 JST