Diposkan pada Tulisan bebas

KETIKA ENGKAU MENIKAHI SEORANG ISTRI DARI KELUARGA YANG TIDAK SEMPURNA…

 
 Ketika kau memutuskan untuk menikahi seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali akan ada beberapa orang yang mempertanyakannya. Mungkin orangtua atau orang-orang terdekatmu. Apakah kamu serius dengan keputusan itu? Sudahkah kamu memikirkan semuanya? Tidakkah kamu takut rumah tanggamu akan berjalan tidak baik-baik saja? 
Dan ketika kamu teguh dengan keputusan itu, bahkan calon istrimu sendiri mungkin meragukannya: Apakah kau tak akan menyesal di kemudian hari?
Aku mengalami semua itu. Aku pernah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hari ini, aku ingin menjawab dan menjelaskan semuanya…
Ketika kau mengenal seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau baru saja bertemu dengan perempuan dengan kemampuan menghadapi persoalan di atas rata-rata. Ia tumbuh dengan perjuangan untuk selalu bisa tersenyum di hadapan semua orang, berusaha tampak biasa-biasa saja, meskipun ada sesuatu yang menghantam-hantam dari dalam dirinya. Ia mungkin sering menangis, tetapi bukan untuk sesuatu yang remeh-temeh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi hal-hal sepele yang bisa ia atasi dengan cara dan usahanya sendiri. Ia menangisi sesuatu yang barangkali jika semua itu terjadi kepadamu, kau tak akan pernah bisa menahannya. Ia menangisi sebuah kehilangan. 
Apa yang hilang dari dirinya? Barangkali masa kecil dan kebahagiaan yang semestinya mewarnai semua itu. Barangkali rasa bangga yang tetiba diruntuhkan oleh ketidakadilan yang entah mengapa harus menimpa dirinya. Ia menyaksikan kehancuran rumah tangga orangtuanya pada usia yang telalu muda. Barangkali ia harus mendengarkan kekecewaan ibunya sendiri tentang ayah yang dicintainya. Barangkali ia harus menerima kenyataan bahwa cinta bukan satu-satunya syarat untuk mempertahankan semuanya. Pada saat bersamaan, ia harus menutup telinga dari pembicaraan buruk orang-orang tentang keluarganya. Ia dipaksa nasib untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. 
Tetapi, kedewasaan itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia selalu punya cara untuk terlihat biasa-biasa saja di tengah hal-hal buruk yang sedang dihadapinya. Ia tetap bisa tersenyum saat orang lain terlalu lemah untuk bersikap baik-baik saja. Bayangkan, ia membangun semua sistem pertahanan dan rasa percaya diri itu selama bertahun-tahun?
Hari-hari pertama setelah kau menikahi perempuan itu, semuanya akan terasa mudah bagimu. Kau pikir, ia tak perlu banyak waktu untuk belajar menjadi istri yang baik buatmu. Ia begitu menghormatimu. Ia pandai menempatkan diri. Ia begitu pengertian dan penuh kasih. Meski mungkin kau tidak tahu bahwa sebenarnya ia menjalankan semua itu dengan penuh rasa takut dan khawatir. Ia takut hal-hal buruk yang terjadi pada orangtuanya terulang lagi pada dirinya. Ia dihantui rasa khawatir untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa mengembalikan lagi kesedihan yang bertahun-tahun berusaha dikubur di kedalaman perasaannya. Ia menjaga semuanya untuk kebahagiaanmu, untuk kebahagiaannya sendiri, untuk kebahagiaan kalian berdua. 
Bulan demi bulan berlalu, kau selalu terpesona dengan keterbukaanya tentang segala sesuatu. Ia terlatih untuk jujur pada dirinya sendiri, sehingga tak memiliki apapun lagi untuk dirahasiakan darimu. Ia bisa dengan mudah menceritakan hal-hal buruk yang pernah menimpanya atau kekurangan dirinya, ia menceritakan apapun tentang keluarganya, ia ingin kau melihat dan mencintainya apa adanya. 
Barangkali ia juga sering bersedih, meski mungkin kau jarang mengetahuinya. Ia terbiasa menggigit bagian dalam bibir bawahnya saat kau menceritakan tentang keluargamu: Ayahmu yang lucu, ibumu yang lugu, adik-adikmu yang nakal, atau tradisi liburan keluarga yang bertahun-tahun kau miliki dengan penuh kebahagiaan. Ada perasaan asing yang mengalir dalam dirinya ketika kau menceritakan semua itu. Rasa asing yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman, cemburu, marah, atau segala sesuatu di antara semua itu. 
Maka ia mulai mencintai ibumu seperti ibunya sendiri, ia akan menghormati ayahmu seperti ayahnya sendiri, ia menjadikan keluargamu sebagai pelabuhan bagi semua mimpinya tentang rumah cinta dan tangga ke surga. Tahun-tahun berikutnya, ketika kalian dikarunia anak-anak, ia akan selalu berusaha menjadi ibu yang sempurna bagi mereka. Ia tak ingin, dan tak ingin, dan tak pernah ingin anak-anaknya mengalami sesuatu yang sama yang pernah ia alami. Dalam daftar prioritas hidupnya, ia tulis hal-hal yang tak akan mengecewakanmu: cinta, kasih sayang, kejujuran, kesetiaan. Hal-hal yang dari semua itu ia letakkan fondasi untuk sesuatu yang kelak kalian akan sebut sebagai ‘rumah’—tempatmu bertolak sekaligus kembali, tempat kalian akan melewati semuanya bersama-sama.
Demikianlah, ketika kau menikahi seorang istri dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau telah menikahi seorang perempuan terbaik di dunia… Perempuan yang dengan segala ketidaksempurnaan yang dimilikinya, akan menyempurnakan segala sesuatu yang ada pada dirimu dan semua hal di sekelilingmu.
Ketika kau melihat seorang perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna, kau tengah melihat seorang perempuan hebat dengan seluruh keajaiban yang ada dalam hidupnya. 

….
Selamat ulang tahun, istriku. Hari ini usiamu genap 28 tahun. Terima kasih karena engkau telah terlahir ke dunia ini. Terima kasih karena telah mengajariku segala hal yang tak mungkin kudapatkan lagi dari orang lain selain kamu. Terima kasih karena telah menjadi dirimu sendiri.
Selamat ulang tahun, Rizqa… 
Melbourne, 9 Juni 2015

FAHD PAHDEPIE

Iklan
Diposkan pada Tulisan bebas

The Best Moment ‘Wedding’

Kedua mempelai

Untukmu yang telah menyempurnakan separuh Agamamu..

Setelah ikrar suci itu terucap,Berjanjilah untuk saling menjaga hingga hanya Allah yang memisahkan kalian. 

Berjanjilah untuk saling mengerti kala perbedaan menghampiri. 

Berjanjilah untuk senantiasa menumbuhkan cinta setiap detik dalam rumah tangga. 

Sahabatku yang telah saling menemukan, penyatuan ini atas ijin-Nya. Kebersamaan ini atas kehendak-Nya.  Maka, teruslah melangkah di jalan yang dicintai-Nya. Karena, ikatan ini bukan hanya di dunia, namun tetaplah terajut hingga ke Jannah… 😊

~Barakallahu laka wa baroka alaika wa jama’a bainakuma fii khoir~

Gifu~Japan, 7 Juni 2015

Jodoh memang akan datang diwaktu yang tepat, ketika hati telah siap menerimanya. Dan hanya Allah yang mengetahuinya. 

Akhirnya kedua sahabat saya ini resmi mengakhiri masa penantian mereka. Masjid Gifu di Jepang, menjadi saksi pembuktian cinta mereka. 

 

Masjid Gifu
 
“Saya terima nikahnya fulanah bin fulan, dengan mas kawin … Dan hapalan Al Qur’an Surat As-Saff!” 

Mendengar itu tiba-tiba hati saya terenyuh.. Keren sekali hapalan Al Qur’an sebagai mahar. Lalu, mempelai pria melantuntan Al Qur’an yang ia sebutkan itu. Dari sekian akad nikah yang pernah saya hadiri, baru kali ini saya mendengar mempelai pria menyebutkan mahar/mas kawin hapalan surat. Masyaa Allah 🙂

Semoga menjadi keluarga Sakinah, mawadah, dan warahmah sahabatku Mba Wiyani Dan Mas Mustofa 🙂