Diposkan pada All About Japanese, Keperawatan

Impian Di Negara Rawan Bencana

Hampir semua media televisi, majalah bahkan media sosial di hebohkan dengan berita duka tentang bencana alam yang melanda Negeri matahari terbit pada tanggal 11 maret 2011 lalu. Gempa dengan kekuatan 9,0 itu merupakan salah satu gempa terbesar sepanjang sejarah. Gempa dengan kekuatan yang tinggi tersebut mengakibatkan gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai lebih dari 10 meter dan menerjang tanpa ampun wilayah Toohoku. Bencana alam itu memakan korban jiwa sebanyak 15.269 jiwa dan 8.526 hilang (Japanese National Police Agency).

Pada saat itu aku masih duduk di bangku kuliah semester akhir di salah satu Akdemi Perawatan (AKPER) di kotaku, Indramayu. Setiap kali melihat liputan tentang ganasnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan beberapa wilayah jepang itu di televisi, sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau aku berada di tengah-tengah bencana itu. Mobil -mobil yang berukuran besar itu terlihat seperti mobil mainan yang mengapung di atas air. Rumah – rumah mewah tak lagi berbentuk, semuanya menyatu dengan air dan lumpur. Belum lagi Masyarakat Jepang yang menjadi korban berteriak histeris, sorot mata mereka memancarkan ketakutan-ketakutan yang mendalam di tengah situasi yang mencekam. Sungguh keadaan seperti itu tidak akan pernah diharapkan oleh orang di seluruh penjuru dunia manapun termasuk aku, seorang mahasiswi keperawatan yang mempunyai impian untuk bisa berkerja di Jepang.

Jelas saja keputusan yang aku pilih pada awalnya menimbulkan ketidaksetujuan dari ibuku. Sebagai orangtua mungkin merasa khawatir ketika anaknya memilih pergi ke Negara yang rawan bencana. Tak bisa dipungkiri memang bahwa Jepang seolah sudah berkawan dengan gempa. Ahh.. tapi bukankah umur juga menjadi salah satu hal yang sudah ditetapkan oleh Allah di Lauhful mahfuz? Sekuat apapun menghindar kalau sudah waktunya ya pasti kita akan “pulang” tak perduli kapan dan dimana hari itu datang. Rasulullah SAW pernah bersabda :

Para Syuhada (Orang-orang yang mati syahid) ada 5 macam:

  1. Al Math’un : mereka yang meninggal karena penyakit kolera (menular)

  2. Al Mabthun : mereka yang meninggal karena sakit perut atau melahirkan

  3. Orang – orang yang meninggal karena tenggelam

  4. Orang – orang yang emninggal karena tertimpa tanah longsor, atau pohon tumbang dan sebagainya

  5. Orang-orang yang meninggal dalam Fi Sabilillah (menegakan agama Allah).”

(HR Muslim).

IMG_8299.JPG

Iklan
Diposkan pada Tulisan bebas

Larangan memutus tali silaturrahim

Banyak yang tak saling sapa lagi, tak saling peduli lagi, bahkan memutuskan tali silaturrahim dalam waktu yang sangat lama. Memberikan maaf ketika marah mungkin bukan suatu perkara/hal yang mudah untuk dilakukan, namun lebih sulit lagi ketika kita malah tidak mendapatkan pengampunan-Nya…

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR Muslim : 4/1988)

“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka” (HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635)

Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “ (HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 6557)

Semoga kita tetap bisa saling memaafkan, saling mengingatkan, dan saling mendo’akan 🙂

Diposkan pada Tulisan bebas

Ketika kita dizalimi

Apakah anda pernah menangis, pernah kecewa, pernah marah, pernah terluka karena sesorang yang berbuat zalim terhadap anda?
Bersabarlah 🙂

Berikut adalah ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang lebih mulianya orang -orang yang bersabar dan memberi maaf daripada memberi pembalasan.

Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.
(QS 42:39)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.
(QS 42:40)

Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka.
(QS 42:41)

Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas du bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.
(QS 42:42)

Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.
(QS 42:43)

Diposkan pada Tulisan bebas

Wanita Terhebat

Teringat kepergian beliau waktu lalu. Jum’at, 25 juli 2014 (Bulan ramadhan).
2 hari sebelumnya saya dan beliau begitu puasnya saling bercerita, tertawa sembari menatap wajah beliau lewat video call.
“Wanita ini, akan selalu aku bahagiakan! Dia harus bahagia! ”
Itu janji saya..
Walau saya pun sadar, entah dengan apa saya mampu membuat beliau benar-benar bahagia.
Terkadang dia cerewet, memarahi saya ketika lupa waktu kalau main. Terkadang dia mengesalkan, karena sering kali melarang saya melakukan sesuatu yang saya sukai.
Terkadang pula dia menjadi sosok yang dirindukan.. Seperti saat ini.
Biasanya, kalau lagi begini, saya langsung menelponnya dan memastikan kabarnya. Saya selalu menanyakan kesehatannya, menanyakan kadar gula dalam darahnya berapa. Lalu menyarankan makanan ini itu, menyuruhnya olahraga dan cukup istirahat.
Tapi kali ini, rindu ini hanya bisa saya sampaikan lewat do’a do’a pada Allah untuknya.
Wajah pucat pasi, raga yang tak lagi bergerak, semua itu masih terekam di ingatan. Kullunafsin Dzaaikotimaut.. Setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Saya tersenyum, Allah memanggilnya di bulan suci yang penuh ampunan, di hari jum’at yang berkah.. Semoga beliau terlepas dari siksa kubur dan semua dosa beliau selama di dunia diampuni Allah SWT.
Do’a ini selalu tercurah untukmu, nek. Terimakasih nek.. Untuk segala kasih sayang yang kau curahkan, terimakasih untuk ketersediaanya merawatku sejak kecil, terimakasih untuk segala waktu yang kau berikan, terimakasih untuk segala nasehat yang tak lelah kau sampaikan, terimakasih untuk selalu berusaha membuatku tegar dan tersenyum, terimakasih telah mengajariku menjadi wanita yang kuat, terimakasih telah mendidiku menjadi wanita yang harus bisa mandiri, terimakasih untuk semua yang kau beri untuk seonggok daging yang telah dewasa ini. Kau wanita terhebat yang kumiliki!
Maafkan cucumu ini yang belum bisa sempurna untuk membahagiakanmu 😥
Salam untuk kakek di sana…

Diposkan pada Tulisan bebas

Kemana Perginya Do’a ?

Ada kawan saya mengirim postingan bagus di grup kami. Benar-benar sangat “ngena” di hati yang sedang menyimpan tanya tentang kapan terijabahnya setiap do’a ini.

Ini postingan tausyiahnya:

Kemana Perginya Do`a ?

Jika berharap uang, ternyata yang datang hutang…

Jika meminta kemudahan, yang hadir justru kesulitan …

Jika memohon kesehatan, yang menghampiri malah penyakit…

Jangan kalian tanya mengapa ALLAH tak kabulkan do’a…

Jangan kalian paksa kapan ALLAH ijabahkan do’a…

Jangan kalian heran mengapa ALLAH abaikan do’a…

Tapi tanyakan seperti apa tubuh kalian bicara…

Tanyakan kehalalan asupan yang kalian telan…

Tanyakan seperti apa hati kalian berkata…

Apa Shubuh kalian menjelang Dhuha?

Apa zhuhur kalian sisa waktu bisnis yang kau punya?

Apa Ashar-Maghrib kalian terlalu dekat waktunya?

Apa Isya’ kalian terlewat karena lelah yang ada?

Apa Tahajud kalian terlepas karena terlelap tidur?

Apa Al-Qur’an kalian tergeletak karena tak pernah dibaca?

Apa harta kalian tersimpan tak terbagi?

Jangan salahkan ALLAH…
Jika kalian kira bisa bebas berbuat dosa. Lantas luruh dengan berhaji dan rutin melaksanakan umroh tiap tahun adanya.

Jangan salahkan ALLAH…
Jika ayat suci yang kalian pilih beberapa :- Surat Yusuf agar mendapatkan putra ganteng nan sholeh… – Surat Maryam agar memperoleh putri nan cantik sholehah. ..- Surat Ar-Rahman agar berlimpah rezeki…- Surat Al-Kahfi yang khususn di ”rapel ” pada malam jum’at….

Dan jangan salahkan ALLAH
Jika ayat-ayat-Nya tak pernah dibaca ataupun di amalkan dalam kehidupan nyata.

Jika titah ALLAH hanya menjadi beban.

Jika urusan ALLAH dihitung berdasarkan untung rugi.

Jangan berharap kecintaan-Nya akan datang… Jangan berharap do’a akan di kabulkan…

Ya ALLAH…Jagalah kami dari hal- hal yang demikian…
Satukan kami dalam ikatan cinta untuk saling mengingatkan, akan keberadaan dan kewajiban kami sebagai hamba-Mu…

Semoga bermanfaat untuk muhasabah diri. Kelak menjadi husnul’ khotimah di akhir hayat…..

آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

IMG_7935.JPG

Diposkan pada Tulisan bebas

Benarkah kita ini sudah baik?

“Setidaknya saya lebih baik dari dia!”
Pernahkah mendengar pernyataan seperti itu? Atau kita sendiri yang pernah mengatakan hal itu untuk sebuah pembelaan terhadap sesuatu. Merasa bangga diri karena lebih baik dari oranglain, tentu bukan hal yang diajarkan oleh agama kita, ISLAM.
Benarkah kita susah baik? Boleh jadi itu hanya perasaan kita saja, mana kita tahu bahwa ternyata Allah menutupi aib kita.
Orang yang merasa dirinya baik, ia enggan mencari kebaikan-kebaikan lain yang jumlahnya tak terhingga. Ia merasa cukup dengan predikat baik yang ia tanamkan sendiri. Padahal sesungguhnya, semakin baik seseorang, semakin giat ia memperbaiki diri. Karena hakekatnya semakin ia mencari kebaikan, katakanlah mencari kebaikan melalui ilmu, semakin ia mndapatkan ilmu maka akan semakin merasa bahwa begitu banyak yang belum ia tahu. Perasaan seperti itulah yang terus menjadi pemicu untuk tetap belajar dan belajar agar diri semakin lebih baik, agar hidup semakin berarti.
Jangan sampai Kita hanya sibuk mengomentari keburukan oranglain yang nampak dimata kita, namun kita lupa melihat keburukan diri kita. Naudzubillahi min dzalik… :’)

IMG_7656.JPG