Diposkan pada Tulisan bebas

~Cerita Di Pinggir Sungai~

Aku suka sekali pergi ke luar rumah, jalan kaki menyusuri pinggiran sungai kecil di depan rumah.

Ada yang menarik dari sungai itu, walau airnya tidak sejernih air di pegunungan, tapi aku heran kenapa banyak sekali orang-orang yang memanfaatkan sungai itu. Untuk mandi, mencuci baju, mencuci piring dll.

Satu aktivitas yang paling membuatku senang adalah ketika aku dapat melihat tawa lepas Merry, gadis kecilku yang berusia 6 tahun. Ia selalu mengajakku untuk bermain di sungai atau duduk di jembatan kecil dan memainkan kaki kami dengan air di sungai itu. Tawa Merry begitu khas, renyah dan sangat ceria.

Setiap sore kami menunggu Ayah pulang kerja, biasanya kami menghabiskan waktu duduk di pinggir sungai itu sambil sesekali aku menyuapi Merry makan. Kalau ayah pulang, Merry selalu lari menyambutnya dan minta digendong.

Tapi sore ini, kepalaku amat sangat pusing. Merry belum juga pulang, padahal jam pulang sekolah sudah lebih dari 2 jam yang lalu. Biasanya dia pulang dengan teman-temannya. Akhirnya aku menjemput Merry ke sekolahnya, namun sekolah sudah sepi.

Aku mencoba bertanya ke tetangga-tetangga, mengetuk pintu ke pintu berharap mereka bisa membantuku mencari Merry. Namun, sepertinya tetangga-tetanggaku tidak ada di rumah, Sepi.

Ada beberapa yang membuka pintu, namun ia pun tidak tahu. Aku uring uringan! Berlari menyusuri sungai, barangkali Merry sedang bermain dengan teman-temannya di sana.

Aku ingin menelpon suamiku, namun handphone ku tidak tahu dimana. Aku pun pergi ke Warung Telepon dekat rumahku, tapi penjaga WARTEL bilang telpon lagi dalam perbaikan dan tidak bisa digunakan.

Aku semakin cemas dibuatnya! Merry dimana Merry…

Tiba-tiba beberapa tetanggaku datang menghampiriku di pinggir sungai ketika aku mondar mandir di sana.
Bukan hanya tetangga rupanya, mobil ambulance pun datang tepat di depan rumahku. 3 orang tenaga medis berseragam putih-putih turun dan menghampiriku.

“Bawa saja pak, orang gila ini cukup meresahkan. Tiap hari kerjanya mondar mandir ke sekolah, menggedor-gedor pintu kami dan berlari-lari di pinggir sungai! Bikin takut anak-anak kami pak!”
Teriak seorang tetanggaku.

“Iya bawa saja ke rumah sakit jiwa!” Sahut yang lain.
Kepalaku semakin sakit! Kenapa mereka menganggapku gila? Aku hanya cemas Merry tak ada kabar!
“Aku tidak gila! Aku cuma mencari Merry! Suamikuuuuuu tolong!!!” Teriakku kencang.
“Bu shanty, Merry dan Pak Doni sudah meninggal 5 bulan yang lalu, mereka mengalami kecelakaan! Ingat bu ingat!”
Ucap salah satu tetanggaku lagi.

Aaaaarrgghh! Mereka ini bicara ngawur!! Ketiga orang berseragam putih itu pun memaksaku masuk ke mobil ambulance. Aku berontak namun tenaga mereka lebih kuat.

– Fiksi mini –
Farida Darwis

IMG_6516.JPG

Diposkan pada Tak Berkategori

Life is all about choice

Dalam hidup memang selalu ada ‘Pro dan kontra’, terima saja! Justeru 2 hal itulah yang membuat hidup kita lebih berwarna.
Hidup memang terkadang membingungkan. Kita dituntut untuk memilih dengan cara bagaimana kita menghabiskan waktu di dalamnya. Banyak sekali pilihan, dan terkadang kita hanya berani memilih namun tak siap atas segala resiko sebuah pilihan tersebut. Bukankah pilihan dan resiko itu ibarat sepasang sepatu yang seharusnya selalu berjalan beriringan?

Kenapa takut resiko? Bukankah punya Tuhan Yang Maha Memudahkan?
Ah lagi-lagi hidup adalah pilihan! Life is choice..
Tidak memilih pun adalah sebuah PILIHAN.

Sudahlah, lupakan. Beranilah melangkah! Menghadapi dunia yang penuh tantangan. Hey.. Menghadapi tantangan itu hal yang menyenangkan! Jika kita mampu mengerti dan menikmati setiap fase pergerakannya. Kita juga akan tau rasanya bersyukur ketika berhasil menghadapinya. Kita akan belajar banyak hal dari segala masalah yang menghadang langkah kita. Bergeraklah! Sampai kaki kita tak mampu lagi menahan raga kita πŸ˜‰ yakinlah! Bahwa semua akan baik-baik saja selagi kita melibatkan Tuhan di setiap langkah kita…
P

Diposkan pada Tulisan bebas

Yaa Rabb..

IMG_6215.JPG

#Ketika melihat anak-anak yang usianya masih dibawah 20 tahun dengan segudang prestasi dan hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan produktif rasanya aku ingin kembali ke masalalu dan memperbaiki semuanya.

#Kadang aku merasa “iri” dengan mereka yang masih muda tapi besar kontribusinya, besar manfaatnya bagi sesama.

#”KENAPA” sebuah kata yang selalu ada kala kita menyesali sesuatu.

#Kenapa dulu aku tak begini? Kenapa dulu aku menghabiskan waktu dengan hal sia-sia? Kenapa dulu .. Blaaa blaa blaa..

#Sungguh, disisa waktu ini aku ingin memperbaiki semuanya. Belajar menjadi lebih baik dan lebih berarti untuk orang lain. Belajar menjadi hamba yang baik di hadapan sang Khalik.

#Bismillaah
#InshaaAllah

Diposkan pada Cerpen

DIA Yang Memilihmu, untukku

Seluruh mata para akhwat itu terbelakak lebar perihal seorang ikhwan yang dikabarkan akan melangsungkan pernikahannya minggu depan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berita bahagia ini, hanya saja banyak orang yang menganggap bahwa calon mempelai wanita dari ikhwan yang bernama Fadlan tersebut bukanlah orang yang tepat untuknya.
“Kok bisa-bisanya, akhi Fadlan ingin menikahi wanita itu?!” Tanya seorang Akhwat di sebuah perkumpulan informal di taman depan kampus.
“Iya ya, saya juga heran ukh.” Timpal akhwat berkacamata di sebelahnya.
“Mungkin karena paras dia cantik, bulu matanya kan lentik, gayanya juga nyentrik, jadi pantas saja banyak yang melirik! Termasuk akhi Fadlan.” Tambah akhwat berjilbab merah di sampingnya lagi.
“Huss! Kalian ini ngomong apa sih, sudah jangan gibah!” Kali ini giliran akhwat berjilbab ungu muda angkat bicara. Suasana mendadak seperti saat mengheningkan cipta.
——-
Bukan dari kalangan akhwat saja, bahkan kalangan ikhwan pun menpersoalkan ‘calon’ dari Fadlan. Sebenarnya Fadlan pun menyadari bahwa banyak yang menggunjingnya. Tapi ia tetap tersenyum menanggapi semua argument tentangnya.
“Akhi, apa antum yakin ingin menikahi ukhti Bela?” Tanya Wandhi, teman dekat Fadlan.
“InshaAllah akhi! Minta do’a nya.”
“Tapi akh, ukhti Bela kan …”
“Kenapa? Heehe..” Segat Fadlan sambil tertawa kecil. “Akh, ana tau maksud antum.” Lanjutnya.
“Syukurlah.. Semoga antum bisa merubahnya.” Ucap Wandhi mengalah.
——-
Bela Arzeta adalah sosok wanita cantik yang dulunya pernah berprofesi sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan internasional. Selain parasnya yang rupawan, Bela pun dikenal sebagai wanita yang cerdas dan baik terhadap teman-temannya. Jangankan teman, kepada orang yang tak dikenal pun ia selalu ramah. Ia peduli dengan lingkungan sekitar, sikapnya yang selalu membantu oranglain membuatnya menjadi seseorang yang dikagumi banyak orang dari berbagai macam kalangan.
Bela juga seorang wanita yang supel dan tak pantang menyerah. Dari kecil ia belajar tentang kerja keras dan semangat yang tinggi dari ibunya. Ibunya membesarkan Bela seorang diri sejak Ayah Bela meninggalkan mereka. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat Bela duduj di bangku Sekolah Dasar kelas 3.
Sang ibu bantung setir untuk menyambung nyawa anak semata wayangnya itu.
Otak Bela yang tergolong cerdas itu, berhasil menjuarai berbagai macam olimpiade antar sekolah. Cita-cita Bela, ingin keliling dunia namun Bela sadar ia tak punya banyak uang untuk itu. Tapi Tuhan memberi kemudahan, Bela mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah pramugari. Setelah lulus, ia langsung diterima kerja di penerbangan Internasional karena kelihaiannya dalam berbahasa inggris dan prakteknya. Semenjak itu kehidupan Bela pun berubah, ia bisa menafkahi ibunya yang tidak lagi bekerja di luar rumah menjajakan kue dari toko ke toko, dari pasar ke lasar, bahkan sampai ke terminal bus dan stasiun kereta.
———-
Mengingat umurnya yang sudah hampir menginjak kepala 3, Bela sudah mulai memikirkan lendamping hidup. Sebenarnya Bela takut, takut mendapatkan suami seperti ayahnya. Suatu hari, ia mengikuti tabligh akbar seorang ustadz terkenal. Disana di bahas tentang suatu hal, bahwasannya “Wanita baik baik untuk laki laki yang baik, begitu sebaliknya”. Ucap ustad itu. Bela menyimak dengan penuh semangat. “Menunggu jodoh, jangan dihabiskan untuk berbuat hal sia-sia, tingkatkan ibadah! Gapai cinta Allah! Maka jika Allah sudah cinta, apapun akan Allah beri untuk kita! InshaaAllah…” Lanjut pak ustadz.
Bela mulai memikirkan penampilannya. Ia pun ingin sekali mengenakan jilbab sesuai perintah Allah dalam Al Qur’an, namun masih sebatas keinginan.
———
Ibu Bela sering sakit, beberapa kali masuk Rumah sakit dan Bela sibuk kerja. Akhirnya, dengan penuh keyakinan, Bela memilih keluar dari pekerjaannya dan mulai merintis usaha di rumah agar bisa selalu ada di samping ibunda tercinta.
Bela membuka kelas untuk belajar bahasa inggris baik untuk pelajar, mahasiswa atau umum. Usahanya pun terbilang sukses.
——
Suatu hari Fadlan berkunjung ke tempat Bela untuk mengantarkan adiknya les bahasa inggris. Adiknya yang masih SMP itu, selalu bercerita tentang Bela pada Fadlan.
“Miss Bela itu cantik , pinter dan baiiiik banget loh mas, Ica jadi gampang belajarnya. Miss Bela juga sabar banget, ada temen Ica yang males dan bandel tapi Miss Bela malah ramah dan semangat terus ngajarnya, sampai-sampai temen Ica itu jadi nurut loh mas!” Begitulah adik Fadlan bercerita menggambarkan Bela.
Untuk yang pertama kalinya Fadlan bertemu Bela. Matanya menunduk tak berani menatap sosok wanita cantik berambut panjang sebahu itu di hadapannya. Bela sendiri mengerti kalau pria yang di depannya berusaha menjaga pandangannya.
——-
2 bulan berlalu, sebuah keyakinan yang entah datangnya darimana, membuat Fadlan ingin melamar Bela. Dengan bermodal keyakinan dan restu orangtua, Fadlan menemui ibu Bela dan melamar Bela.
Bela pun menerimanya.
——–
Fadlan memberitahukan kabar gembira ini kepada teman-teman kampus dan organisasinya. Fadlan masih menempuh pendidikan jenjang S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Beberapa dari temannya mengenal Bela, karena itu mereka kaget ketika Fadlan akan menikah dengan wanita yang memakai jilbab pun tidak.
Kontras sekali dengan Fadlan. Lelaki yang selalu bisa menjadi sumber inspirasi menuju surga.

——-
“Mas, kenapa memilihku?”
Tanya Bela setelah acara pernikahan selesai.
“Allah yang memilihkanmu untukku..” Jawab Fadlan sambil tersenyun.
Bela mengerutkan alis dan tersenyum manis menatap lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.
“Aku bersyukur Allah menghadirkan sosok sepertimu. Aku akan belajar menjadi istri yang baik dan solehah, bimbing aku untuk mencari cinta Allah” Ucap Bela sambil memeluk Fadlan.
“Allah memang tak salah memilihkanmu untuk menjadi istriku sayang, semoga aku mampu menjadi imam yang baik untuk dunia dan akherat.”

Diposkan pada Tulisan bebas

Waktu kita

Tentang waktu yang akan terus berputar dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tak terasa kita pun akhirnya mencapai penghujung waktu.

Kawan, Kita tidak pernah tau stok oksigen yang kita hirup itu habis pada usia kita yang keberapa. Bisa jadi cuma sampai besok, atau bisa jadi sampai mencapai usia 100 tahun bahkan lebih.Β Wallahu’alam…

Lalu bagaimana dengan waktu yang kita habiskan sampai detik ini?
Waktu untuk ibadah?
Waktu untuk mencari nafkah?
Waktu untuk belajar?
Waktu untuk bermain?
Waktu untuk bermalas-malasan?
Waktu untuk melakukan hal yang sia-sia?
Waktu yang mana yang lebih banyak kita habiskan?Β 
Hanya kita yang tahu jawabannya πŸ™‚

Diposkan pada Tulisan bebas

10 November (hari pahlawan)

“Selamat hari pahlawan”

Terimakasih para pahlawan pejuang bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia.

Ngomong-ngomong soal pahlawan, saya pun termasuk pahlawan loh, PAHLAWAN DEVISA πŸ˜€ ada kan istilah begitu? :p
Ribuan pahlawan devisa membanjiri Negara Jepang dengan berbagai macam bidang profesi. Mereka pun (termasuk saya) juga berjuang mempertaruhkan jiwa raga di sini untuk kemerdekaan kehidupan masing-masing atau memerdekakan kehidupan orang-orang yang disayangi, keluarga contohnya. πŸ™‚

Hmm, saya juga ingin mengucapkan selamat hari pahlawan kepada pahlawan bertopeng. Ia juga kan selalu menjadi penyelamat orang-orang yang lagi dalam bahaya! Tapi sayangnya, itu hanya ada di dunianya Shincan saja πŸ˜€

Pahlawan terhebat dalam kehidupan saya sesungguhnya adalah ibu saya. Beliau berjuang mempertaruhkan jiwa raganya demi ‘kemerdekaan’ anaknya ini 😦
Jasa-jasanya tak akan bisa aku balas. Namun, aku bertekad untuk selalu memperjuangkan kebahagiaannya πŸ™‚

Selamat hari pahlawan…

Diposkan pada Tulisan bebas

Tentang menunggu

Menunggu?

Kau tau, katanya menunggu itu membosankan. Mungkin itulah sebab kenapa banyak orang ‘berubah’ dalam masa menunggu.

Ahh,sudahlah, Jangan bicara tentang satu persoalan itu pada hati yang pernah kau tinggalkan.

Karena kau tidak pernah tau, bagaimana ketika ia berusaha berdamai dengan sisa-sisa kenangan tentangmu di masalalu.