Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Keperawatan, Tulisan bebas

Pelajar dan Kerja Part time di Jepang

Selain menjadi negara yang menarik untuk tujuan wisata, banyak juga yang ke Jepang untuk tujuan bekerja atau melanjutkan pendidikan. Di tulisan kali ini, saya akan membahas tentang kuliah sambil kerja part time disini.

Kurang lebih sudah 1.5 tahun saya menjadi student di salah satu kampus kejuruan Caregiver di kota Konosu, Saitama Prefektur. Saitama, itu loh, sebelah Utara Tokyo. 😁 Kalau semua lancar, Insyaallah maret 2020 lulus.

“Enak nggak sekolah di Jepang?”

Kalo dijabarkan detil jawabannya, sepertinya nggak bakal selesai jika hanya sambil menyeduh secangkir kopi. Baiklah, saya ingin cerita poin – poin pengalaman selama menjadi pelajar di sini.

Beberapa orang di luar sana, mungkin akan mengira kita keren karena bisa sekolah di Luar negeri. Padahal, Jepang terasa sangat ‘keras’ ketika kita menjadi pelajar. Apalagi dengan biaya sendiri atau beasiswa yang nggak full. Beda cerita dengan mereka yang dibiayai orangtua ya.

Di kampus saya, 80% pelajarnya berasal dari negara lain (non Jepang). Ada yang dari Vietnam, Taiwan, Korea, Filipina, Srilanka, Nepal, Indonesia, China dll. Ada yang belajar dengan biaya sendiri, dan ada juga yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Saitama Prefektur seperti saya. Beasiswa dari pemerintah Saitama, hanya untuk biaya belajar. Untuk biaya hidup dll, menjadi tanggungan sendiri. Misalnya, biaya sewa apartemen, gas listrik air, internet, dll. Dan rata-rata, mereka kerja keras di sini untuk mencukupi biaya hidup dengan cara kerja sampingan. Sebisa mungkin tidak merepotkan orangtua mereka di rumah. Orang Jepang yang sekolah di sini pun, banyak yang kerja sampingan. Arubaito istilah di sini.

Sekolah di kejuruan khusus, Senin sampai jumat full dari jam 09:00-16:00 untuk belajar. Kadang ada juga hanya sampai jam 12:00 siang belajarnya. Waktu untuk kerja part time biasanya kalau saya ambil mulai di jam 17:00 sampai jam 20:00 atau 21:00. Dan sabtu minggu masing-masing 8 jam. Beberapa teman ada juga yang kerja di malam hari. Namanya kerja part time, kita dibayar perjam. Dan nominal per jam nya tergantung wilayah dan jenis kerjaan.

“Bagaimana cara mencari part time job di sini? “

Di era digital ini, apply dokumen untuk kerja sangat mudah. Kita bisa mencari kerja melalui aplikasi Indeed atau baitoru (ăƒă‚€ăƒˆăƒ«) yang bisa kita unduh secara gratis di playstore . Selain itu, kalau kita ke kombini atau stasiun, biasanya ada majalah khusus untuk pencari kerja seperti misalnya Town work. Banyak sekali peluang kerja part time di sini. Kalau saya lagi jalan kemana, sering sekali melihat poster di depan restaurant “Dicari pekerja paruh waktu” dll. Kalau sekiranya menarik, tinggal telpon.

Tapi, pelajar asing di Jepang hanya bisa kerja sebanyak 28 jam per minggunya. Tidak boleh lebih. Karena tujuannya belajar, bukan untuk kerja, maka pemerintah Jepang pun membuat peraturan semacam ini. Kalau ketahuan melebihi jam yang sudah ditetapkan, akan sulit ketika mengurus perpanjangan visa dan bahkan bisa dipulangkan ke negara asal.

Bagi wanita muslim yang berhijab, kerja part time disini menjadi tantangan tersendiri. Karena, di restaurant atau di kombini , hampir semuanya melarang berhijab. Beda cerita kalau kerja di restaurant makanan halal. Kita bisa memakai hijab di sana.

Seorang teman pernah cerita, kalo ia sulit mencari kerja sampingan yang membolehkannya berhijab. Ada lagi, seorang teman yang kerja di kombini dan harus buka hijab pada saat kerja. Saya sendiri pernah punya pengalaman ketika melamar kerja di restaurant dekat rumah. Setelah dipanggil interview dan ngobrol panjang lebar, terakhir saya bertanya boleh tidaknya memakai hijab, ternyata tidak boleh. Yasudah, terpaksa saya melepas kesempatan untuk kerja di sana.

Selain itu, bagi kita yang muslim, harus mempertanyakan bisa atau tidaknya untuk sholat ketika kerja. Jangan sampe ya, kita kerja mati-matian tapi lupa kewajiban ya, biar berkah kerjanya. Kan ngeri juga kalo lagi asyik kerja, tiba-tiba kita disapa malaikat Izrail. serem ya? Memang 😂

Saat ini, saya kerja di Nursing home. Banyak yang bertanya kenapa nggak kerja di kombini atau restaurant, kan lebih gede bayarannya? Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kerja di tempat seperti itu kalo bisa pake hijab dan menyediakan waktu sholat, saya sih ok ok saja. Seneng malah ya, kan bisa menambah pengalaman juga. Hehe..

Alhamdulillah di Nursing home, bisa dengan mudah meminta jam sholat dan memakai hijab. Catatan : Ini harus dibicarakan dinawal pada saat interview ya. Karena ada juga yang tidak membolehkan.

Belajar sambil kerja itu taihen (susah). Apalagi ketika ada ujian atau praktek lapangan. Selama ujian pengennya libur kerja dulu, fokus belajar. Tapi kami sadar, kalau nggak kerja bakal taihen di biaya hidup sehari-hati. haha.. Belum lagi, kalo hasil ujian kurang dari standart kelulusan, kita harus mengulang ujian. Dan ujian kedua, harus membayar 3000 yen / mata kuliah. Kalo dari 12 mata kuliah di remidial semua, kalikan saja. Hasil kerja part time bisa melayang begitu saja. Bikin galau memang, ketika kami harus belajar keras dan juga bekerja keras. Nah bakal tambah galau kalau kita nggak beribadah keras. Hehe..

Alhamdulillah, saya belum pernah di remidial (Sombong amat! haha). Karena saya pikir, terlalu sayang jika uang melayang cuma untuk remid, saya lebih rela kurang tidur ketika musim ujian. Istilah sistem kebut semalam memang kurang Bagus, karena kebanyakan, kita akan hapal di waktu tertentu saja. Jadi, lebih baik memperhatikan ketika perkuliahan berlangsung. Sebelum ujian, hanya mengulang dan mencatat poin poin yang kira kira bakal keluar di ujian.

Kuliah di negara lain yang berbeda budaya dan bahasa, tentu saja akan membuat stress. Tapi jangan khawatir, banyak hal menyenangkan di sini kok, yang bisa menghilangkan stress belajar dan kerja. Kaoa -kapan sya share tipsnya ya. Ohiya, jangan lupa, kita harus jaga kesehatan!

Bagi kalian yang ingin belajar di Jepang, kalau bisa sih cari beasiswa full dan mendapat tunjangan uang saku setiap bulannya. Dan lebih Bagus lagi, beasiswa tanpa ikatan dinas kerja.

Setelah membaca tulisan saya, jangan takut untuk belajar di Jepang atau negara manapun. Semua butuh proses dan perjuangan. Dan satu yang perlu kita ingat, semua hanya sementara. Susah sementara, capek belajar dan kerja sementara, sedih sementara, semuanya sementara kok. Akan ada hari, dimana kita akan merasa sangat bersyukur pernah melewati hari-hari penuh perjuangan.

Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Bahkan guru terbaik pun adalah pengalaman. Tidak ada ilmu yang sia-sia, dimanapun kita belajar dan dengan siapapun kita belajar, suatu saat pasti akan bermanfaat. Oke, ganbatte kudasai!

Iklan
Diposkan pada Tulisan bebas

“Money can buy a clock but not time” ăŠé‡‘ăŻæ™‚èšˆă‚’èČ·ăˆă‚‹ăŒæ™‚é–“ăŻèȷえăȘい

Kita mungkin bisa membeli jam bermerek dengan harga yang sangat mahal, tapi sayangnya kita tak bisa memutar jarum jam semaunya. Apalagi kembali ke waktu yang sudah berlalu, dimana ada sesuatu yang ingin kita rubah dan perbaiki di sana.

Pasti kita pernah mendengar kalimat ini :

“Money can buy a clock but not time”

Atau dalam bahasa Jepangnya :

ăŠé‡‘ăŻæ™‚èšˆă‚’èČ·ăˆă‚‹ăŒæ™‚é–“ăŻèȷえăȘい

(Okane wa tokei o kaeru ga jikan wa kaenai)

Sesuatu yang ‘berharga’ memang tak akan bisa kita beli dengan harta. Termasuk waktu.

Setiap orang memiliki waktu yang sama, sehari 24 jam. satu tahun 365 hari. Artinya, kita punya kesempatan waktu yang sama untuk membahagiakan keluarga, sahabat, atau orang-orang di sekeliling kita. Kita punya kesempatan untuk berkarya, menjadi sesorang yang bermanfaat untuk orang banyak, dan berbuat kebaikan lainnya.

Di waktu yang sama, ada orang yang tertawa dan menangis karena kita. Ada yang terbantu dan merasa kita susahkan. Ada yang bersyukur mengenal kita dan ada pula yang tak mengharapkan kehadiran kita.

Pergunakan waktu kita saat ini dengan penuh kebaikan. Belajar maksimal, bekerja penuh loyalitas, beribadah dengan penuh keyakinan, bersosialisasi tanpa menyakiti, dan masih banyak lainnya.

Karena, waktu tak bisa dibeli dan tak mungkin kembali… 😊

Diposkan pada Tak Berkategori

Mengunjungi Arabic institute Tokyo

Alhamdulilah..

Yattaaaaa…

Sebenarnya udah dari kapan pengen banget mengunjungi salah satu masjid di Roppongi, Tokyo. Ya, saya punya impian untuk bisa mengunjungi semua masjid di Negeri sakura. Dari ujung Hokkaido sampai ujung Okinawa.

Hari ini saya pergi ke Roppongi, hanya untuk menuju ke Arabic institute Tokyo. Dari Roppongi station sampe ke lokasi, sekitar 1.2km (20 menit jalan kaki). Tapi karena saya nyasar dan kebingungan walau udah mantengin google maps, jadilah sekitar 40 menit jalan kaki. Ditambah udara panas khas summer di Jepang. Fyi bagi yang pertama kali ke tempat ini, nggak disarankan rute melalui Roppongi station, ribet. Lebih mudah dari Hiro Station, jaraknya 950 m dan nggak rumit rute nya. Pulang dari sana, saya lewat rute ini. Lebih dekat.

Sekitar station dan sepanjang jalan menuju masjid, banyak sekali saya temui warga negara asing. Entah dari negara mana saja, saya nggak berani nyapa dengan kapasitas bahasa inggris yang belepotan begini. Btw, ini kali pertamanya saya pergi ke roppongi.

Sampai gerbang Arabic Institute Tokyo, seorang penjaga berkewarganegaraan Afrika, sepertinya, menyapa saya.

“Kamu mau sholat? Sudah tau tempatnya?”

“Iya, saya mau sholat. Tapi saya baru pertama kali ke sini. ”

Lalu beliau menunjukan arah, memberitahu kalau tempat sholat khusus wanita berada di lantai 2. Walau begitu, saya masih sempet-sempetnya nyasar dan ketemu jalan buntu.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:15 JST. Masjid akan ditutup jam 16:30 JST. Yaa, mepet. Saya nggak bisa berlama-lama, padahal perjalanan sampai tempat itu jauh lebih memakan waktu. Haha..

Suasana begitu sepi. Nyaris tak ada orang di dalam. Ruangannya bersekat-sekat. Seperti ruang kelas, lengkap dengan meja kursi dan layar untuk prsentase. Kecuali ruang sholat. Saya pernah baca kalau masjid ini tempat seminar tentang Islam juga, maksudnya memperkenalkan Islam ke warga Jepang. Tapi terbuka untuk umum juga, bukan hanya warga Jepang. Pengantar seminarnya make bahasa Inggris/Jepang. Karena narasumbernya mualaf asal Jepang, Mr. sugimoto, biasanya. Tentu saja, tempat belajar bahasa Arab juga.

Tempat sholat wanita
Tempat wudhu

Keluar dari masjid, saya terpesona oleh view yang terlihat dari sana. Tokyo Tower terlihat begitu jelas. Saya lupa tak mengabadikannya lewat Jepretan. hehe.. Tadinya saya ingin melihat ada kegiatan apa saja di tempat ini, tapi apalah daya saya datang di waktu yang terlalu mepet dengan jam tutup. Insyaallah besok besok kesini lagi.

Diposkan pada Tulisan bebas

Manusia, akan datang pada butuhnya

Kita mungkin pernah menjauh dari-Nya. Lalu datang lagi sambil merengek ketika ada butuhnya.

Jika di luar sana ada istilah semua akan Indah pada waktunya, maka barangkali kita adalah salah satu dari orang yang tepat dengan istilah lainnya : Akan datang pada butuhnya.

Setiap manusia yang didatangi hanya ketika ia dibutuhkan, sudah saya pastikan kalau nggak ngedumel ya malah menghindar. Karena mereka bukan payung yang disambut ketika hujan turun saja, lalu ditaroh lagi ketika hujan reda. Apa nggak sakit, kalau kita yang digituin? hee..

Tapi semua itu, hanya terjadi pada kita, manusia yang perasa dan susah untuk menerima hal yang nggak enak di hati. Sedangkan Allah, selalu ada walau kita lupa. Selalu Mengampuni saat kita berdosa lalu berusaha memperbaiki.

Allah selalu dekat tanpa sekat.
Hanya saja kita sering kufur nikmat.

Kita, tepatnya saya.

#SelfReminder

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Tulisan bebas

Siapa bilang di Jepang nggak ada WARTEG?

“MONGGO MORO”, nama restaurant Indonesia di daerah Shin Okubo, Tokyo ini berasal dari bahasa Jawa. Monggo diartikan “Silahkan”, dan Moro berarti “Datang” dalam bahasa Jawa. Selama saya tinggal di Jepang, baru kali ini menemukan restaurant Indonesia berkonsep mirip Warteg (Warung Tegal). Semua menu makanan dijejer dalam satu rak, dan pengunjung memilih menu apa yang diinginkan dengam cara menunjuk menu dibalik kaca. Touch screen manual, hehe.

Aneka menu

Ownernya bernama Ibu Retno. Beliau kurang lebih sudah 10 tahun menetap di Jepang. Semua menu makanan di Monggo moro, beliau yang memasak. 2 pegawainya orang Indonesia, bertugas melayani pelanggan, dari mulai menyiapkan sampai menyajikan.

Restauran yang baru berdiri 3 bulan (sejak tanggal 31 Mei 2019) ini, bukan hanya dikunjungi oleh warga Indonesia saja loh. Warga Jepang dan negara lainnya pun banyak yang datang untuk menikmati masakan Indonesia yang terkenal “pedas” di sebagian lidah mereka.

Ibu Retno selalu menyambut pelanggan dengan ramah dan bersahabat. Beliau juga selalu menanyakan pada warga Jepang soal rasa masakannya.

setiap hari menunya berbeda-beda. Kata bu Retno, supay pelanggan tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.

Harga paket menu 1500„, anak kecil bisa mendapatkan setengah harga.

Jam operasionalnya dari pukul 11:00-21:00 JST.
Alamat : 2 Chome-18- Okubo, Shinjuku City, Tokyo 169-0072. Telp : 03-6380-2911
(Kalau mau datang lebih dari 4 orang, lebih baik reservasi dulu by telp)

Stasiun Terdekat : Shin Okubo Station

Diposkan pada All About Japanese, Tulisan bebas

Kazu, mualaf dari Negeri Sakura

“Lu percaya enggak, ”

“EGGAK! ” Sela Sulis, sahabatku dari semenjak kami dalam rahim ibu masing-masing.

“Dengerin dulu! Gue belum selese spik spik woy! Ngegas mulu kayak kuda laper lu ah.”

“Apaan sih? ”

“Suatu hari, gue bakal ketemu sama dia dan nikah sama dia, Lis! ”

Jelasku, sambil memperlihatkan akun media sosial Kazuyuki Abdullah. Warga negara Jepang yang sebulan lalu memutuskan masuk Islam dan bersyahadat di Masjid Camii Tokyo.

“Elu kalo mimpi jangan keterlaluan! Gue sumpelin wasabi lu. ” cerocos Sulis sambil menggelengkan kepalanya.

Ahh, aku tidak peduli kata Sulis, jika Allah sudah mentakdirkan aku dan mas Kazu untuk duduk bersama diantara penghulu dan kedua saksi pernikahan, sulis bisa apa?

Kazu, pria asal Jepang yang ku lihat pertama kalinya di vlog . Ia memilih Islam ketika usianya menginjak 27 tahun. Sekarang, usianya 29 tahun. Ini info dari hasil kepo di akun sosial medianya. Pihak keluarga sempat melarangnya untuk memeluk Islam. Keluarganya berpikir, bahwa Islam identik dengan kekerasan, terlebih ketika televisi di Jepang pernah gencar menyiarkan penyanderaan 2 wartawan asal Jepang Kenji Goto dan Haruna Yukawa oleh Islamic state pada tahun 2015 yang lalu. Kazu tidak menyerah, dia berusaha meyakinkan keluarganya bahwa Islam yang sesungguhnya adalah yang mendamaikan.

Di Jepang , tersedia Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan diberikan secara gratis, untuk mereka yang ingin mempelajari Islam khususnya. Dengan penuh ketekunan, Kazu membaca seluruh terjemahan isi Al Qur’an hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Dan itu dilakukannya berkali-kali. Dan ia mulai mengenalkan Islam melalui Vlog dan tulisa nya di blog. Tentu dengan menggunakan bahasa Jepang, dan aku harus copy lalu paste ke google translate untuk memahami tulisannya.
Kadang aku malu pada diri ini yang mengaku Islam sejak lahir tapi jarang sekali mentadaburi kandungan Al Qur’an . Gadget lebih menarik perhatian daripada 30 juz Al Qur’an. Iya nggak sih?

“Lis, gue mau ke Jepang ah.”

“Ngapain? ”

“Ketemu Kazu, terus nikah di masjid Camii Tokyo sama dia.”

“Astagfirullah… Ayaaaa…! Elu kudu di ruqiyah kayaknya.”

“Hahahaha… ”

…………..

Sebulan berlalu, setelah aku dan sulis membahas tentang Kazu. Seorang teman share tentang info program pemerintah di bidang keperawatan. Jadi, pemerintah Indonesia dan Jepang bekerjasama dalam bidang Ekonomi, dan salah satu programnya yaitu memberikan Kesempatan pada perawat Indonesia yang ingin berkarir di Jepang sebagai Nurse atau Careworker. Mungkin ini adalah salah satu jalan yang akan membawaku ke Jepang dan bertemu Kazu. Walau, saat ini level bahasa Jepangku masih setara telur ayam yang baru menetas. Tapi seenggaknya aku punya modal pengetahuan tentang Jepang dari acara Benteng takeshi, anime doraemon yang tayang setiap hari minggu jam 08.00 pagi, sinchan, ninja hattori, chibi maruko chan, dan Amigos. Eeh, amigos telenovela ding. *Generasi 90’an pasti tau.

Tahap demi tahap seleksi untuk menjadi perawat di Jepang aku lalui dengan penuh keyakinan untuk lulus. Ketika ditanya apa motivasi ke Jepang oleh user Jepang pada saat wawancara, ingin rasanya aku berkata jujur, “motivasi saya, karena ada calon suami yang menunggu di sana. ” tapi ku urungkan. Serangkaian proses wawancara full ku jawab dengan bahasa Indonesia. Beruntung ada interpreter di sebelahku. Yang penting yakin dulu, bahasa bisa kupelajari nanti, bareng Kazu.

Hari pengumuman tiba. Aku menyuruh sulis untuk membuka websitenya.

“Ya, ya… Gue ikut deg degan nih! Elu udah berjuang sampe titik darah penghabisan kan? Elu udah sungkem sama nyokap bokap elu kan? ”

“Berisik lu ah, buruan buka! ” Jawabku sambil menutup muka dengan bantal, persis seperti sedang nonton film horror.

“Ya, ya… Lolos ya! Lolos!!! ”
Teriak sulis sambil memelukku dengan wajah girang.

“Alhamdulillah Alhamdulillah! Kazu, nihon de matte te ne! ”

“Ngomong apa lu ya, pete? ”

“Artinya, kazu tunggu gue di Jepang! Hahaha.. ”

………….

Setahun kemudian…

Kuperhatikan Kazu tidak lagi aktif di vlog, website, maupun media sosial lainnya 3 bulan terakhir ini. Kemana? Ingin ku sapa lewat pesan, tapi selalu ku urungkan.
Aku sudah tiba di Jepang 1 minggu yang lalu. Saat ini, berada di Yokohama untuk mengikuti program belajar bahasa Jepang sebelum masuk ke dunia kerja. Nantinya, aku akan bekerja di salah satu Rumah sakit di Tokyo. Senang? Tentu saja. Di Tokyo banyak masjid dan prayer room. Banyak juga restaurant halal. Dan yang terpenting, banyak warga Indonesia di sini. Dan… Ada Kazu.

2 hari setelah tiba di Jepang, aku langsung bergegas menuju Masjid Camii Tokyo. Masjid yang dibangun dengan ornamen khas Ottoman yang berada di distrik shibuya ini terlihat begitu sangat menakjubkan. Konon, arsiteknya berasal dari Turki. Aku masuk ke lantai 1 masjid. Duduk sejenak melihat kemegahan di dalamnya. Lalu mataku tertuju pada Al Qur’an bersampul warna merah yang ada di rak pojok depan. Aku mengambilnya segera. Membukanya perlahan. Ini adalah Al Qur’an terjemahan bahasa Jepang yang pernah Kazu share lewat vlog nya. Kazu pernah duduk di samping rak ini, mempelajari Al qur’an di sini. Kemana dia?

Aku bergegas menuju lantai 2. Tempat sholat khusus wanita. Seorang muslimah bermata sipit sedang duduk bersimpuh sambil memeluk Al Qur’an. Aku tidak berani menyapa. Tapi rasanya aku pernah melihatnya. Iya, dia teman Kazu yang pernah nge-vlog bareng. Tapi, dulu belum berhijab. Masyaallah.

“Assalamu’alaikum ,” tiba-tiba ia menyapaku, sambil tersenyum manis.

“Wa’alaikumsalam. Hajimemashite , Indonesia jin no Aya desu. ” (perkenalkan, saya Aya Dari Indonesia) Jawabku memperkenalkan diri.

“Hajimemashite, Nakamura desu. Demo, islam no namae wa Aisyah desu.” (Perkenalkan, saya nakamura. Tapi nama Islam saya Aisyah.)

“Watashi, Aisyah san no kao wo mita koto arimasu yo, youtube de.” (Aku pernah liat Aisyah san di youtube loh)

“Aaa, kazu san no youtube kana? ” (di yotubenya Kazu san ya?)

“Sou sou, kazu san wa genki desuka? ” (iya bener bener, bagaimana kabar kazu san?)

Aisyah terdiam ketika aku menanyakan soal Kazu.
“Kyou ha jikan arimasuka?” (hari ini ada waktu nggak?)

Aku mengangguk, walau tidak begitu mengerti kenapa pertanyaan ku tentang Kazu tak ia jawab.

Hari itu, terasa kami sudah berkenalan sejak lama. Aisyah begitu terlihat sangat friendly bahkan kepada orang yang baru pertama ia temui sepertiku. Sikapnya, mematahkan anggapanku tentang orang Jepang yang berkarakter sangat kaku. Ia mengajakku menuju Yoyogi uehara station, naik kereta dan turun di shinjuku station yang hanya berjarak 5 menit. Dia bercerita banyak Hal tentang bagaimana ia masuk Islam, tanpa membicarakan Kazu sedikitpun.

Tibalah, kami di salah satu Rumah sakit dekat shinjuku station.
Aisyah membawaku ke salah satu ruang pasien, dengan nama “Kazuyuki ueda” terpampang di depan kamarnya. Aku mendapati seorang laki-laki yang tak asing lagi di mataku. Kazuyuki Abdullah. Lelaki yang selama ini hanya kulihat lewat media sosial. Lelaki yang selalu kuselipkan namanya di setiap doa. Ia terbaring lemah, terlihat lebih kurus.

Amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Penyakit Yang diderita Kazu 3 bulan terkahir ini. Penyakit yang akan membuat penderitanya perlahan mengalami kelumpuhan dan sulit berbicara.
Kazu membuka matanya, menatap ke arah Aisyah dan ke arahku. Lalu tersenyum.

“Kazu to watashi wa, kekkon shimashita. Alhamdulillah. ” (Aku dan kazu sudah menikah. Alhamdulillah) Ucap Aisyah sambil menggenggam jari Kazu.

Deg!

Rasanya mataku seperti tersengat wasabi. Perih. Oh tidak, hatiku lebih perih. Tapi melihat kondisi Kazu jauh lebih perih. Aku tidak percaya, ceritaku dengan Kazu akan se-mellow ini. Seperti drama korea saja. Benar memang, kita bisa berencana dari A-Z. Tapi, Allah penentu segalanya. Aku bersyukur, bisa bertemu Kazu. Suatu hari, aku akan meminta bantuan Kazu dan Aisyah untuk mengajariku bahasa Jepang. Pipi ku hangat seketika.

End

Diposkan pada All About Japanese, Bahasa Jepang, Kaigofukushishi, Tulisan bebas

Idul Fitri di Perantauan (Jepang)

Berkumpul dengan keluarga maupun kerabat dekat sambil menyantap opor ayam, rendang dan kawan-kawannya, barangkali menjadi impian bagi kita, anak-anak rantau. Di hari Raya Idul fitri, banyak hal maupun suasana yang tiba-tiba membuat kita rindu kampung halaman. Ketupat yang bisa kita temui dimana-mana, tradisi bersalaman dan meminta maaf dari pintu ke pintu, berbagi rezeki dengan anak-anak, dan masih banyak lainnya.

Bagaimana suasana idul fitri di negerinya ninja hattori ini? Tenang saja, untuk pergi ke Mesjid, kita tidak perlu kok, mendaki gunung lewati lembah. Kita cukup pergi ke stasiun kereta terdekat dengan niat yang kuat untuk mengikuti sholat sunnah muakkad (dianjurkan) , yang dilaksanakan di tiap masjid di Jepang. Salah satunya adalah Masjid Indonesia Tokyo. Sholat di sini dibagi 3 gelombang, karena tempat dan kondisi yang kurang memungkinkan jika hanya dilaksanakan satu kali putaran.

Ternyata orang Indonesia itu banyak sekali di sini. Pikir saya seketika. Homesick yang sempat melanda hilang begitu saja saat melihat orang-orang se-Negara.

Jalan menuju Masjid

Mengantri Sholat ied

Suasana sholat ied

“Merantaulah, Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (Keluarga, kerabat dan kawan)..”

(Imam Syafi’i)

Benar memang. Merantau, mengantarkan kita pada dunia baru, lingkungan baru, kebiasaan baru, dan yang paling terpenting adalah mengantarkan kita bertemu orang-orang baru. Bisa jadi di kemudian hari, orang-orang yang kita temui ini akan menjadi penting bagi hidup kita. Menjadi sahabat, saudara, atau bahkan keluarga yang nantinya bisa untuk saling menguatkan di negeri perantauan.

Selamat hari Raya idul fitri 1440 H

Mohon maaf lahir dan bathin

-Dalam kereta menuju pulang, 5 june 2019-